Romansa Layla dalam Lesehan Mesra Pesantren Krapyak

“Ngajinya Gus Candra itu dikomunikasikan ke luar, melalui dunia sastra, karya-karyanya sudah terbedah di mana-mana” Prof. Purwo Santoso,

Santri dan sastra, tidak dapat dipisahkan dari kehidupan pondok pesantren, sejauh yang kita ketahui, bahwa dalam menyuguhkan mutiara hikmah, para kiyai dan caption religi, membutuhkan strategi secara khusus untuk merangkul para masyarakat supaya ikut serta dalam menikmati indahnya kehidupan pesantren dan pentingnya nilai agama dalam berbagai konteks kehidupan.

Dalam kesempatan kali ini, Pondok Pesantren Krapyak Ali Maksum menyelenggarakan acara Bedah Novel Sastra-Tasawwuf Karya Gus Candra Malik yang berjudul Layla, yang juga  menghadirkan tokoh sastra dan tokoh agama terkemuka, misal Mas Whanni Dermawan, selaku teman akrab Gus Candra dan aktor film. Dia mengawali pembicaraanya dengan Salam, yang dengan lantang dijawab oleh para hadirin. Meski berlatar belakang penganut iman Katholik, namun kehadirannya di pesantren ini, yang ia rasakan adalah kenyamanan dan kedamaian. Karena keadaan yang seperti inilah yang seharusnya dirasakan secara berjamaah, mesra,  seperti lesehan malam ini. Mengingat kedekatan tersebut, beliau Gus Candra, menanggapi dengan analogi bahwa agama Islam adalah Rahmatan Lil Alamin, bukan saja Mu’minin, Muslimin, ataupun Muslihin, akan tetapi agama bagi kedamaian seluruh alam.

Pada malam ini, turut hadir pula  Rektor UNU, Prof. Purwo Santoso, beliau menyampaikan bahwa sangat terkesan dan bangga dengan acara seperti ini, “Ada kenikmatan tersendiri ketika membaca novel Layla, dengan novel ini kita bisa berfikir dan merenung, untuk bisa mengenali diri kita sendiri dan menjadi diri sendiri, meski diri sendiri itu  dekat, akan tetapi sulit untuk dikenali”. Sehingga melalui sastra sufistik Gus Can ini, kesesuaian di antara keduanya akan kita temui juga titik temunya. Sebab sastra adalah medium untuk mengasah Budi. Tasawuf juga untuk mengasah Budi. Jadi Novel Layla merupakan sastra yang penting.

Saking kagumnya dengan novel Layla serta Gus Can, Guru Besar UGM ini juga menambahkan, “Ngajinya Gus Candra itu, dikomunikasikan ke luar, melalui dunia sastra, karya-karyanya sudah terbedah di mana-mana”.

Krisis Sastrawan Pesantren 

Berulang kali, para narasumber menyinggung keberadaan sastra pesatren, yang agaknya, dari hari ke hari, makin akut krisis dimensi literatifnya. Gus Mus dan Kiai Tohari telah berusia lanjut, meski karya-karyanya kian digemari pun abadi. Tinggal siapa yang berkehendak untuk memanggul peran itu, tapi bukan berarti dalam ketermangunan itu berakibat keterlenaan kita. Jangan-jangan malah sastra pesantren akan tak terjamah lagi.

Mereka menunggu karya sastrawi khas pesantren yang kedepannya sanggup atau bisa dikontekstualisasikan dalam kancah budaya secara global di kaleidoskop kebudayaan Indonesia. Tentu, karya yang penuh dengan pesan-pesan untuk melakukan sesuatu, religiositas, imani,  karena yang ditunggu-tunggu umat adalah untuk ‘nglakoni’, melakukan apa yang dikatakan.

Ihwal sastra yang tak monoton berhenti di karya, telah diterapkan jauh di era Walisongo. Metode Satra, yang digunakan untuk berdakwah di Nusantara sebenarnya sudah berkembang  semenjak para Wali Songo mbabat alas di Tanah Jawa,  dengan demikian sejarah mencatat bahwa proses islamisasi sudah terkoordinir dengan baik, dan sejak dulu pula  Islam sudah tersebar luas ke seluruh penjuru Nusantara, akan tetapi belum begitu tertanam pada sebagian masyarakat yang masih buta dengan kepekaan sosialnya, maka dengan minimnya orang yang mendalami sejarah tersebut, baru belakangan ini, orang pesantren mencoba membikin terobosan baru dalam membentuk komunitas Islam Nusantara.

Kawan akrab Mbah Candra yang jauh-jauh datang dari Australia, Prof. Nadirsyah Hosen ini, sangat bangga dan senang ketika bisa sowan ke Pesantren Krapyak,  dimana teman yang sangat akrab ini dengan lugas dan tegas mengajak bercanda pada lesehan mesra ini. “Hanya karena Raisa, kau melupakanku Mbah Can, sehingga kini kau menerbitkan buku sastra yang berjudul Layla tanpa sepengetahuan dan kata pengantar dariku, ahaha,” papar Dosen Monash Law School  Australia ini.

Beliau juga berkomentar mengenai proses hidup seorang Salik, yang mana hidup itu banyak ujiannya, maka harus bersabar dalam menghadapinya.  Ujian yang berat, adalah diuji pada titik berat, contoh ketika kita tidak suka matematika, terus enggan mempelajarinya,  ya wajar kalau nggak bisa njawab ujian.

Mbah Candra, ‘begitu Gus Nadzir menyapanya’ ini luar biasa ketika menuangkan ide-ide tasawuf dalam novelnya. Tukas Gus atau Prof Nadhirsyah, yang kini menjabat Rais Syuriah IPC NU Australia New Zealand.

Serangkaian acara tersebut, dipungkasi dengan do’a yang dipimpin oleh Dr. KH. Hilmy Muhammad dengan pemaqbulan amin dari hadirin yang memadati Pesantren Krapyak. [Irfan Asyhari]

Sumber Foto : Wit Sukun Creative Picture | IG @sakanthullabkrapyak

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *