Puasa dan Cara Kita Menjadikannya Bermakna

by Mei 7, 2019
Esai Warta 0   299 views
durasi baca: 3 menit

Oleh: Irfan Asyhari*

Pertanyaan mendasar muncul kemudian adalah bagaimana caranya agar kita meraih keberkahan dan kebaikan yang berlimpah di bulan Ramadhan itu? Apa mungkin semuanya itu kita raih dengan cara yang sudah mentradisi seperti yang kita lihat sekarang ini? Fakta hari ini menunjukkan seakan Ramadhan identik dengan berlomba-lomba makan, minum, belanja ke pasar/mall dan pulang kampung?.

Fenomena tersebut bertolak belakang dengan harapan kita meraih keberkahan Ramadhan dan kebaikannya. Sebab itu, memahami rahasia di balik melimpahnya keberkahan Ramadhan insyaAllah akan mendorong kita untuk mengevaluasi amaliah Ramadhan yang kita jalankan.

Bulan keberkahan kini tengah menyelimuti umat Islam di berbagai tempat. Terutama kaum mukminin yang tengah melaksanakan ubudiyah Ramadhan dengan khusyu’ dan tawadhu’ dalam konteks syariah yang sebenar-benarnya. Tentu bagi mereka yang menjalani segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ramadhan baru saja berjalan dua hari, itu artinya masih banyak kesempatan untuk meraih Ridho-Nya, mempersibukkan diri dengan berbagai macam kebaikan, dan memperdalam ulumuddin (ilmu agama), agar makna Islam benar-benar tertuang dalam hati. Tidak ada kata terlambat untuk tetap semangat mencari kebaikan dan berkontestasi dalam mengkaji ulumuddin dan mendekatkan diri dengan sang maha pemberi keberkahan.

Ramadhan karim, bulan penuh kekuatan hati, ketaatan, juga warna keislaman. Hari-hari yang tidak mengherankan lagi bagi kita kaum muslimin jika pada bulan penuh rahmat ini banyak bermunculan kebaikan. Kaum-kaum dermawan menampakkan diri menjelma relawan membagikan takjil di sepanjang jalan, lampu merah, bahkan trotoar. Para pedagang musiman menjajakan makanan khas dari masing-masing daerahnya, juga kreativitas pemuda yang mengasah kemampuannya di bidang perdagangan.

Betapa indahnya bulan Ramadhan. Hal yang paling membedakan dengan bulan-bulan lainnya adalah spirit keislaman yang menggebu. Ibadah yang dilakukan bukan hanya siang hari, kaum muslimin dapat menikmati keindahan dengan bertadabur, tafakkur, juga tadzakur melalui tilawah Alquran di malam harinya. Dengan merenungkan ayat-ayat Quran maka ketenangan jiwa akan diperoleh jua.

Sebagai umat muslim, tentu harus membentengi puasa dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan keberkahan pahalanya. Sisi lain yang harus mendapatkan porsi perhatian spesial, bagaimana kita berusaha membentengi puasa kita dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya. Seperti menggunjing dan berdusta. Dua penyakit ini berkategori bahaya tinggi, dan sedikit sekali orang yang selamat dari ancamannya. Apalagi di tengah musim politik yang kian memanas, pengaruh berita dari berbagai media kian bermunculan, sehingga pengaruhnya pun membuat kita berkeinginan untuk ikut-ikutan berkomentar. Maka, perlu bijak dalam memilah berbagai macam informasi, buang jauh-jauh ghibah dan namimah. Lalu, sibukkan dengan berdzikir.

Allah memerintahkan kita untuk berdzikir mengingat-Nya ketika berdiri, duduk dan berbaring, bagaimana mungkin kita dapat melakukannya? Bukankah kita banyak disibukkan aktifitas lainnya yang membutuhkan energi, pemikiran, dan tenaga serta menyita seluruh perhatian kita?.

Paham sekuler selalu berusaha memisahkan kegiatan keagamaan dan ketuhanan dengan masalah duniawi. Ketika bekerja jangan ingat Tuhan, ketika beribadah lakukanlah dengan sungguh-sungguh jangan ingat masalah dunia. Memisahkan urusan dunia dengan ibadah adalah ajaran paham sekuler. Islam mengajarkan menyatukan masalah ibadah dengan kegiatan aktifitas duniawi. Seluruh aktifitas duniawi yang dilakukan semata-mata karena Allah sudah merupakan kegiatan ibadah bagi seorang Muslim.

Bagaimana mungkin seorang hamba mengaku mencintai Allah, sementara hati dan lisannya kering dari mengingat dan memuji-Nya,kan?

Demikianlah yang telah dipraktikkan oleh salafus shalih. Mereka adalah suatu umah yang mengagungkan Kitabullah dengan semestinya. Mereka tidak hanya mengimani Alquran sebagai bacaan ataupun wahyu dari sisi-Nya, tetapi mereka juga menerapkan ajarannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Oleh sebab itu, marilah kita berlomba-lomba dalam memetik manfaat dari Alquran, sebagaimana dalam hadis Rasulullah SAW yang artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang memelajari Alquran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)

Menjadi teladan bagi generasi kita dan seterusnya dalam menjadikan Alquran sebagai jalan hidup. Oleh sebab itu akan menjadikan kemuliaan bagi kita di sisi Allah karena ketakwaan, kedalaman ilmu, amal salih, dan kecintaan yang teramat besar terhadap Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sebagian kaum dengan Kitab ini dan akan merendahkan sebagian yang lain dengan Kitab ini pula.” (HR Muslim).

Sungguh indah bukan, apabila kita sebagai muslim generasi muda meneladani akhlak Rasulullah dalam menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup? Ramadhan adalah momentum yang luar biasa dimana setiap amaliyah dan ubudiyah akan dilipatgandakan, baik keberkahannya maupun kebaikannya.

*Santri komplek CD

Tinggalkan Balasan