Pesantren “Character Building” Bangsa

Oleh : KH Ali Maksum

Pesantren kita seluruhnya didirikan, dibina dan dikembangkan dengan cara-cara yang penuh mandiri, atau istilahnya wiraswasta penuh. Sehingga segala segi kehidupan pesantren selalu berada pada kompetensi mandiri tersebut. Para santri diarahkan pada kesadaran yang tinggi tentang tangggung jawab hari depan dan nasib umat secara mandiri. Bukan menggantungkan pada semua pihak, bahkan menurut rabaan kami, jiwa mandiri ini telah menyatu dengan jiwa kesantrian. Dalam arti, siapa tidak mandiri maka kesantriannya kurang sempurna.

Karena sikap mandiri yang penuh inilah, kemudian menimbulkan berbagai dampak baru. Mandiri dalam kurikulum, mandiri dalam usaha pengembangan pesantren, dan dalam berbagai hal. Dari sini terkadang menimbulkan ketidaksamaan pandangan tentang konsep umat, tentang cara pembinaan hari depan, dan sebagainya. Dalam kepentingan inilah dirasa amat penting kegiatan diskusi antar pesantren yang dilakukan secara serius, terbuka, dan munashahah.

Meskipun demikian, pesantren kita berada dalam suatu lingkungan ideologi dan akidah yang tunggal yaitu, Ahlusunnah wal Jama’ah.

Sikap mandiri ini yang kemudian membuat pesantren dan para santrinya berkonsentrasi penuh dalam menunaikan tugas-tugas keagamaan dan kemasyarakatan. Mereka berbuat karena diri sendiri, tanpa pamrih dari siapapun. Santri berbuat hanya karena mencari ridho Allah. Hanya kepada Allah lah santri berbuat, memohon, dan berserah diri. Hanya kepada-Nya para santri takut, gentar, dan mengagungkan-Nya. Sikap mental seperti ini dalam Islam disebut dengan istiqamah.
Sayyidina Abu Bakar ra. Menafsiri terminologi istiqomah sebagai berikut:

تحقيق معنى لااله إلا الله. فإن الله هو المعبود الذي يطاع يعصى خشية , وإجلالا, ومهابة, ومحبة, ورجاء, وتوكلا, ودعاء.
“Mentahqiqkan makna Laailaaha Illallah dalam arti bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang disembah, ditaati, dan tidak didurhakai, baik dalam rangka takut, mengagungkan, gentar, cinta, mengharap, berserah diri dan memohon”.

baca juga : Membentuk Intelektual Ulama”

Istiqamah itu benar-benar menjadi kunci kesuksesan setiap pesantren dan para santri. Sebab istiqamah akan melahirkan sikap optimis, penuh harapan dan penuh usaha dengan tulus hati.
Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya mereka yang mengatakan Tuhan kami Allah, kemudian beistiqamah, maka kepada Malaikat berdatangan (untuk menyertakan) bahwa kalian tidak usah takut dan susah-susah. Dan bergembiralah kalian dengan surge seperti yang kalian janjikan”.

Karena demikian pentingnya, maka di kala Ibnu Umar mohon petuah Nabi tentang Islam, sesuatu yang tidak perlu lagi dimohonkan pada orang lain. Nabi bersabda:

قل امنت بالله ثم ا ستقم . رواه مسلم
”Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian berlakulah istiqamah”. (Muslim)

Sehubungan dengan istiqamah itu pula, maka Al Hasan setiap membaca ayat istiqamah di atas, memanjatkan do’a:

اللهم انت ربنا فارزقنا الإستقامة
“Wahai Allah, Engkau Tuhanku, maka anugerahilah kami istiqamah”.

Demikian sekilas tentang pendidikan moral pada pesantren kita, yang penuh nilai moral spiritual kesucian, kemurnian, kesejatian, dan karena itu eksistensi pesantren tetap teguh mulai zaman penjajahan Belanda sampai zaman pembangunan ini. Dari zaman penjajahan, pesantren sering berfungsi sebagai kubu pertahanan bangsa dalam memperjuangkan lahirnya kemerdekaan.

baca juga : Pesantren: Benteng Terakhir Ajaran Islam”

Waktu itu pesantren banyak berfungsi sebagai pencetak kader bangsa yang benar-benar patriotis, kader yang rela mati demi perjuangan bangsa Indonesia. Kader yang sanggup mengorbankan seluruh waktu, harta dan bahkan jiwa sewaktu-waktu dibutuhkan.

Di saat itu kita melihat pesantren pada mengajarkan bela diri, ilmu peperangan, baik secara fisik maupun spiritual. Pesantren waktu itu memprodusir serdadu yang diikuti, yaitu barisan Hizbullah dan Sabilillah.

Sedang zaman awal kemerdekaan, pesantren segera adaptasi dan menciptakan kader-kader yang sanggup memimpin bangsa, serta tidak kalah mutu dengan kader-kader produksi perguruan tinggi, sampai kini pun banyak kader akademisi yang kalah bobot dengan kader ciptaan akademisu (akademi surau).

Kemudian sekarang, pesantren-pesantren itu telah dihimpun dalam organisasi Rabithatul Ma’ahid Al-Islamiyah dibawah naungan jam’iyah NU. Satu dan lain hal dimaksudkan untuk membakukan berbagai aspirasi pesantren yang mungkin dapat disumbangkan untuk mengisi pembangunan nasional. Yang lebih penting lagi yaitu untuk memelihara kemurnian pesantren seperti pada fungsinya semula. Baik fungsi religi (dinity), fungsi sosial (ijtima’i) dan fungsi edukasi (tarbawi).

NU memang merasakan betapa pentingnya dipelihara dan dilestarikannya khasanah pesantren. Sebab dalam kenyataannya sampai hari ini, belum ditemukan suatu lembaga pendidikan yang berhasil memproduksi kader seperti pesantren, yaitu kader yang prihatin, luwes, bertekad tinggi, tabah, sanggup memulai dari nol, dan semuanya itu dilakukan dengan tanpa pamrih dan lillahi ta’ala. Dan lebih dari itu adanya pesantren timbul NU dan tanpa ada pesantren tidak akan ada NU.

Tinggalkan Balasan