Pesantren: Benteng Terakhir Ajaran Islam

durasi baca: 3 menit

Oleh : KH Ali Maksum

Kalau kita mau mempelajari sejarah dan mengenali hakekat pesantren, maka akan jelas bahwa pesantren tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan Islam di Indonesia dari kemurnian ajarannya.

Di pesantren, diajarkan makna Alquran kata demi kata, makna hadis kata demi kata, juga diajarkan kitab kitab tafsir karangan para sahabat dan tabiin, kitab-kitab fiqih, tauhid, usul fiqh, tauhid, hasil penulisan para ulama mujtahid yang benar-benar ahli Alquran dan Sunnah secara langsung.

Pesantren juga mengenal kita-kitab karangan orang sekarang, baik yang berbahasa Arab maupun Bahasa Indonesia. Tapi hal itu sekedar dipakai perbandingan, bukan pelajaran pokok, dan justru pesantren menempuh cara itu agar dapat memelihara keutuhan dan kemurnian Islam.

Kita tidak ingin meniru langkah sementara orang yang menggunakan ayat Alquran atau Hadis sepotong-potong lalu ditafsiri, diotak-atik menurut rasio dan selera sendiri, atau logikanya sendiri yang kadang-kadang sampai melantur tak karuan ujung pangkalnya. Dalam hadis yang diriwayatkan At-Turmudzi dan Abu Daud, disebutkan:

من تكلا م في القرأ برأيه فأصاب فقد أخطأ

Ada lagi.

من قال با لقرأن بغير علم فليتبوأ مقعده من النار

Ini bisa membahayakan kemurniah Islam.

Dengan demikian, maka lulusan pesantren akan menjadi orang yang benar-benar alim tentang Islam dan juga tahu tentang kewajibannya sebagai Bangsa Indonesia.

baca juga : NU, Ulama dan Umara”

Demikian sedikit tentang pesantren, suatu lembaga Islam yang banyak dimiliki oleh NU. Ini sama sekali bukan kami bermaksud menyombongkan diri, baik selaku warga NU maupun selaku khadim Pesantren Krapyak . Tapi kami bermaksud untuk mengingatkan kembali keistemewaan pesantren dengan NU .

Pesantren tempat calon-calon tokoh agama. Pesantrenlah tempat mendidik manusia pembangunan yang “sepi ing pamrih rame ing gawe”. Pesantren adalah benteng pertahanan kemurnian ajaran Islam. Dengan pesantren ini pulalah NU dapat menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia. NU menjadi memiliki berbagai keistimewaan yang sulit ditandingi.

Suatu hal tidak dapat dipungkiri ialah hanya NU yang di hari ini terbanyak menjadi Hafidhul Quran di Indonesia ini atau katakanlah, setiap hafidhul quran mesti jebolan pesantren yang diasuh oleh kyai NU kapan pun maupun siapa pun orangnya, mesti begitu. Dari Almarhum Kyai Munawwir sendiri tercacat ratusan Hafidhul Quran yang tersebar di seluruh Indonesia. Maksud kami sebenarnya hanyalah ingin mengatakan bahwa pesantren itu tidak dapat dipisahkan dengan NU, begitu juga NU tidak dapat dipisahkan dengan pesantren. Pesantren adalah tempat dilatihnya para calon pejuang NU. Pesantren pula menjadi terminal warga NU.

Oleh karena itu di sini kami perlu mengucapkan terima kasih secara khusus bagi tokoh-tokoh NU.
Kita menyadari besarnya tugas kita masing-masing selaku kaum santri maupun warga NU. Sesuai dengan wujud pesantren seperti kami uraikan diatas, maka tugas kita antara lain seperti tersebut dalam ayat:

يأيها الذين امنوااستجبوا لله وللرسول إذا دعاكم لما يحييكم

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (Surah al-Anfal: 24)

Yang dimaksud di sini,jelas seruan itu berupa ajakan untuk memerangi segala yang mengganggu kehidupan kita selaku bangsa yang beriman kepada Allah yang menurut rumusan pancasila disebut dengan kalimat : ”Ketuhanan yang Maha Esa “.

Dengan demikian tugas kita adalah membangun bangsa yang adil dan makmur, bangsa yang mukmin atau beriman kepada Allah, bangsa yang berbahagia di dunia dan di akhirat. suatu tugas yang tidak kecil dan tidak sembarangan.

baca juga : Membentuk Intelektual Ulama”

Oleh karena itu kita tidak dapat berbuat sendiri–sendiri, berbuat secara kelompok-kelompok, tetapi harus melibatkan semua kekuatan bangsa yang ada, baik kekuatan umat Islam maupun kekuatan pemerintah. Semua kekuatan harus kita kerahkan secara terkoordinir sesama Muslim, juga kita akrabkan kerja sama antara ulama dan umara. Kita harus sanggup berbuat, kalau perlu kita harus berani mewakafkan diri kita untuk tugas suci di atas.
Tidak ada artinya lagi kita membangga-banggakan prestasi diri sendiri. Bahkan tidak berarti sama sekali di hadapan bangsa yang menanti uluran tangan ini.

Selaku warga NU bolehlah kita menanti suasana baru, sebab Pengurus Besar kita sekarang terdiri dari took-tokoh muda yang banyak pengalaman dan telah lama diidam-idamkan. Mesti saja diharapkan agar mereka lebih aktif, lebih lincah, lebih kreatif, lebih bertanggung jawab, dan tentu lebih sanggup untuk berkurban.

Sebagai penutup kami mengajak untuk merenungi hal-hal sebagai berikut :
1. Kami orang-orang pesantren atau mutakharrij, atau simpatisan pesantren, marilah mulai berbenah diri bersama-sama memikirkan kemajuan dan perkembangan pesantren, milik bersama umat islam dan benteng kekuatan Islam di Indonesia.
2. Sebagai orang tua dari anak-anak kita, kami mengajak saudara-saudara marilah kita didik anak-anak kita agar mereka mengenal dan mempelajari Alquran. Jangan sampai seorang Muslim buta Alquran, tidak bisa membaca. Seolah-olah dimatikan fitrah yang suci, diputuskan hubungannya dengan Allah Rabbul alamin.
3. Sebagai umat Islam marilah kita tingkatkan dakwah Islamiyah dan memperbanyak amal shaleh. Dan marilah kita tingkatkan partisispasi kita dalam pembangunan Nasional dalam rangka mengisi kemerdekaan.
4. Sebagai Ulama, marilah kita tingkatkan kerja sama dengan Umara dalam bentuk yang lebih nyata, sebab bagaimana pun perintah Alquran tidak dapat berjalan dengan lancar tanpa disokong atau dibarengi dengan langkah-langkah pemerintah.

إن الله ليزع بالسلطان ما لا يزع بالقرأن

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *