Pengantar Ilmu Qira’at (11): Kitab Al-Taisir karya Abu ‘Amr al-Dani dan Nazam al-Syathibiyyah

1 month ago
durasi baca: 2 menit

Oleh: Ust. Abdul Jalil Muhammad, S.Th.i., M.Si.

Ibnu Mujahid di dalam kitab al-Sab’ah tidak membatasi jumlah rawi dari seorang qari\imam. Lalu dari mana kita kenal setiap qari mempunyai dua rawi? Karena begitu banyak rawi, jalur untuk qiraat, ditambah bahwa semangat para santri untuk mengaji qiraat sudah mulai menurun, maka al-Dani mencoba memudahkan pengajian qiraat dengan memilih dua rawi untuk masing-masing qari.

Nama lengkap Abu ‘Amr ‘Utsman bin Sa’id al-Dani al-Andalusi. Tidak ada penjelasan pasti tentang tempat kelahirannya, tapi sebagian pendapat mengatakan beliau lahir di Corduba pada tahun 371 atau 372 H, dan wafat di kota Daniah pada tahun 444 H. al-Dani pernah melakukan perjalanan thalabul ‘ilmi ke beberapa negeri. Sekitar 10 tahun mengaji di wilayah Andalusia, kemudian setelah berusia 25 tahun al-Dani berjalan ke arah negara-negara timur, seperti Mesir dan Hijaz, sampai pulang lagi ke Andalusia.

Guru-guru beliau ada sekitar 70-an, ini sebagaimana al-Dani ungkapkan dalam sebuah syair. Karya-karya al-Dani sekitar 119 karya, dan semua judul karya-karya ini disebut dalam Fihrist Tashanif al-Imam Abu ‘Amr al-Dani.

Di dalam ilmu qiraat, al-Dani terkenal dengan kitabnya: Al-Taisir fi al-Qira’at al-Sab’ yang di-tahqiq oleh Otto Pretzl, Orientalis asal Jerman, di mana para santri menganl konsep dua rawi untuk masing-masing Imam dari qurra’ tujuh dari kitab tersebut. Meskipun al-Dani mempunyai kitab lain yang lebih besar yang mencantumkan rawi dan jalur (thariq) yang lebih banyak, kitab Jami’ al-Bayan fil al-Qira’at al-Sab’. Kandungan kitab Al-Taisir dinazamkan dengan beberapa tambahan oleh al-Qasim bin Firruh bin Khalaf al-Syathibi yang berjudul  atau yang lebih terkenal dengan Nazham al-Syathibiyyah.

Imam al-Syathibi lahir di Syathibah wilayah Andalusia. Seorang ulama ahli qiraat, hadis, tafsir dan bahasa. Wafat di Kairo pada tahun 590 H. beliau dikenal juga sebagai seorang waliyullah. Nazham al-Syathibiyyah ini yang penuh berkah terdiri dari 1173 bait, bahar basith. Nazam ini sangat terkenal, bahkan melebihi kitab Al-Tasiri. Disebutkan bahwa nazam ini adalah nazam yang paling banyak disyarah oleh ulama. Di antaranya: Ibraz al-Ma’ani min Hirz al-Amani karya Abu Syamah (w. 665 H), Siraj al-Qari’ karya Ibn al-Qashih (w. 801 H). KH. M Sya’rani Kudus menagmbil (muqtathafat) atau intisari dari syarah ini dan diberi judul Faidh al-Asani.

KH M Arwani Kudus mengaji qira’at tujuh kepada KH M Munawwir Krapyak dengan menggunakan Nazham al-Syathibiyyah, hasil ngajinya ini dituangkan menjadi buku Faidh al-Barakat fi Sab’ al-Qira’at.

Baca Juga: Pengantar Ilmu Qira’at (10): Kitab Al-Sab’ah fi al-Qiraat karya Ibnu Mujahid

wa Allah a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *