Pasca Wisuda, Tidak Ada Kata Boyong untuk Santri

1 month ago
durasi baca: 2 menit

Doc @almunawwir_com

Sudah selayaknya seorang santri mengetahui adab-adab mencari ilmu. Kitab Ta’limul Muta’allim menjelaskan beberapa prinsip menjadi seorang santri. Salah satunya adalah membenarkan niat mencari ilmu.

Kepergian kita dari tanah kelahiran ke pesantren perlu dievaluasi kembali apakah sudah benar-benar lillahi ta’ala atau masih sebatas pelarian dari tanggung jawab di rumah, atau mondok hanya dijadikan sebagai sampingan karena butuh tempat tinggal untuk bersekolah di universitas.

Niat menentukan kuatnya jiwa santri dalam menghadapi segala ujian dalam belajar. Kesederhanaan yang melekat pada identitas seorang santri seyogyanya dapat dijadikan sebagai sarana tirakat untuk kehidupan yang bahagia baik di dunia setelah nantinya kembali ke daerah masing-masing bahkan sampai ke akhirat kelak.

Hal ini dapat dicontoh dari gaya hidup para kiai dan ulama terdahulu, termasuk para ulama di Krapyak. Beliau-beliau yang memiliki segudang ilmu hidup dalam tawadlu’, tidak sombong akan keislamannya.
Mencontoh para ulama menjadi salah satu wujud santri dalam menjaga ilmu yang diperoleh para guru. Merekalah generasi yang diharapkan dapat menjadi penerus para ulama, santri mulazamah, yaitu para santri yang mengajinya bukan hanya empat tahun lima tahun kemudian boyong. Santri mulazamah adalah santri dengan identitas santri yang sesungguhnya. Santri yang mengaji terus menerus meskipun sudah kembali ke tanah kelahiran.

Kembali ke tanah kelahiran bukan berarti boyong, karena boyong berarti sudah tidak memiliki ikatan dengan para guru. Tidak ada istilah boyong untuk santri. Setelah kembali ke rumah dan mengabdikan diri kepada masyarakat santri tetap terus memiliki ikatan ruh dengan gurunya yaitu dengan selalu mendoakan para guru dan melakukan silaturahmi kepada gurunya.

Selain untuk mempererat tali silaturahmi, sowan kepada guru upaya santri agar ilmu yang telah didapatkan menjadi ilmu yang bermanfaat. Karena salah satu yang menjadi ciri ilmu bermanfaat adalah adanya hubungan baik yang langgeng antara murid dengan guru. (Isnarr)

*diambil dari pangandikan Ustadz Faiq Muhammad, M.Hum. dalam mau’idzah khasanah yang disampaikan pada acara Wisuda Madrasah Salafiyah V 1439/1440 H.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *