Ngaji Ulumul Qur’an (8): Mengenal Titik Pada Penulisan Mushaf Alquran

by Mei 20, 2019
durasi baca: 2 menit


Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A

Mushaf Alquran ditulis tanpa titik dan harakat, bahkan nama surat, nomor ayat, tanda waqaf/berhenti dan lainnya juga tidak ada. Kaidah-kaidah penulisan titik dan harakat dipelajari dalam ilmu Dhabth, yaitu sebuah ilmu yang membahas tentang tanda-tanda yang ditambahkan pada huruf-huruf muhsaf, juga maknanya yang dimaksud, serta cara penulisannya.

Ada dua macam titik, nuqath al-I’rab dan nuqath al-I’jam. Yang pertama sebagai tanda harakat (fathah, kasrah, dhammah), dan yang kedua untuk membedakan huruf yang bentuk tulisannya mirip (ba’, ta’, tsa’).

Abu al-Aswad al-Du’ali (w. 69 H) disebut sebagai pencetus penambahan titik I’rab. Suatu ketika, Abu al-Aswad mendengar seseorang yang membaca lafal (wa-Rasuluh) di Qs. al-Taubah: 3 dengan jar (wa-Rasulih), tentu kesalahan bacaan ini berpengaruh pada makna. Lalu Abu al-Aswad menyeleksi 30 orang dan memilih seorang dari suku ‘Abd al-Qais. Dia bertugas memberi titik pada tulisan mushaf sesuai gerakan bibir bacaan Abu al-Aswad, titik di atas huruf sebagai tanda fathah, Titik di samping huruf sebagai tanda dhammah, dan titik di bawah huruf sebagai tanda kasrah, jika tanwin ditulis dua titik. Semua titik ini ditulis dengan warna tinta yang beda dengan warna tinta rasam Alquran.

Penambahan titik pembeda huruf yang memiliki bentuk tulisan yang mirip dimulai di tangan Nashr bin ‘Ashim (w. 89 H) dan Yahya bin Ya’mur (w. 129 H), contoh huruf yang mempunyai tulisan dan bentuk yang sama: Jim-Ha’-Kha’, Fa’-Qaf, Shad-Dhad, dan lainnya.

Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H) mengembangkan apa yang telah dikenalkan oleh Abu al-Aswad al-Du’ali. Titik berubah menjadi harakat yang diambil dari huruf, seperti waw kecil di atas huruf untuk dhammah, goresan alif memanjang miring di atas huruf untuk fathah.

Simbol bagian dari huruf Syin sebagian tanda syaddah (singkat dari sukun syadid), dan bagian dari huruf Kha’ untuk sukun sebagai tanda sukun biasa (singkat dari sukun khafif). Semua tanda harakat ini ditulis dengan warna yang beda juga.

Ilmu Dhabth ini mulai dan berkembang di tangan ulama Bashrah. Jika diperhatikan, Ulama bahasa Arab mempunyai peranan besar dalam ilmu ini, termasuk sejarah awal ilmu qira’at dan tafsir. Oleh karena itu, berapa kali saya sarankan mahasiswa yang mempelajari Alquran dan Tafsir untuk membaca sejarah bahasa, sejarah nahwu dan yang berhubungan dengannya, misal buku Syauqi Dhaif yang berjudul al-Madaris al-Nahwiyyah.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *