Ngaji Ulumul Qur’an (7): Rasam kosakata Alquran dan Makna

by Mei 20, 2019
durasi baca: 2 menit


Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A

Dalam pertemuan ketiga dijelaskan bahwa ulama berbeda cara dalam menjelaskan perbedaan penulisan kosakata dalam Alquran, mayoritas ulama cenderung memberi argumentasi bahasa, ada juga yang mencoba mencari hikmah yang berhubungan dengan makna dibalik fenomena ini. Dari kelompok kedua akan saya jelaskan tentang dua tokoh yang memiliki beberapa interpretasi unik tentang keistimewaan rasam Alquran, Muhammad Syamlul dan ‘Adnan al-Rifa’i.

Bagi Muhammad Syamlul, sisi tulisan dan bacaan Alquran merupakan mukjizat. Setiap perbedaan dalam penulisan kosakata Alquran mengharuskan kita untuk berhenti sejenak untuk merenungi hikmah di baliknya. Banyak contoh untuk ijtihad Symalul dalam hal ini, di antaranya Qs. al-Kahf: 34 dan 37. Ayat-ayat ini menceritakan dua teman yang Allah beri dua buah kebun kepada salah satu dari mereka, pada awalnya dua orang laki-laki ini adalah teman tekat, ini terlihat dari tulisan Alquran (فقال لصحبه) yang tertulis tanpa alif sehingga semua huruf kata ini tersambung, ini simbol kedekatan mereka menurut Syamlul. Akan tetapi, ketika laki-laki yang diberi dua kebun menampakkan sifat buruk yaitu sombong dan tidak bersyukur atas kenikmatan Allah mulai ada jarak antara dua teman ini yang terlihat dari tulisan kata kedua (قال له صاحبه) dengan alif, antara huruf-huruf kata tersebut ada jarak.

Ini juga yang menjadi alasan mengapa kata (وما صاحبكم بمجنون) di Qs. al-Takwir: 22 tertulis dengan alif sebagai tanda bahwa meski kanjeng Nabi Muhammad itu dari suku Quraisy yang disebutkan dengan (teman kalian), tetapi ada jarak atau perbedaan antar mereka dari segi akidah dan sifat. Membuang atau menambah huruf Alif dalam penulisan kata Aluran tidak selalu bermakna sebagai jarak, di contoh lain Syamlul memahami tidak tertulisnya Alif sebagai simbol cepat/segera. Kata (إطعام) ditulis di seluruh Alquran dengan Alif, hanya di Qs. al-Balad: 14 ditulis (أو إطعم في يوم ذي مسغبة), tersambung huruf dalam kata ini bermakna cepat atau segera orang memberi makan pada hari terjadi kelaparan.

‘Adnan al-Rifa’i secara jelas mengatakan bahwa dia menggunakan riwayat Hafsh dan Mushaf cetakan Madinah dalam penelitiannya tentang Alquran sebagai mukjizat Nabi yang paling agung/besar (al-Mu’jizah al-Kubra). Di antara contoh yang terkait rasam adalah penulisan nama Nabi Ibrahim yang ditulis dalam Alquran dengan dua cara (إبرهم) dan (إبرهيم). Yang tanpa huruf Ya’ untuk fase pertama kehidupan Nabi Ibrahim, semua kata (إبرهم) tanpa Ya’ disebut dalam surat al-Baqarah, sedangkan di surat lain selain al-Baqarah ditulis seperti ini (إبرهيم).

Menariknya bahwa dalam Alkitab, Nabi Ibrahim mempunyai dua nama, perubahan ini terjadi setelah Beliau memiliki putra. Penjelasan dari Syamlul dan al-Rifa’I soal perbedaan penulisan nama Nabi Ibrahim juga dekat dengan ini. Pada Kitab Kejadian 17: 5 (Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa). Dalam Perjanjian lama/al-‘Ahd al-Qadim berbahasa Arab disebutkan (فلا يدعى اسمك بعد أبرام بل يكون اسمك إبرهيم)

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *