Ngaji Ulumul Quran (11): Perbedaan Ulama dalam Memberi Tanda Titik Pada Huruf

Oleh: Abdul Jalil Muhammad,M.A
#Ilmu_Rasm_dan_Naqth_Mushaf (11)

Perlu diingat bahwa tujuan ada titik I’rab yang nanti bentuknya menjadi harakat yang kita kenal maupun titik pembeda huruf yang tulisannya sama adalah agar membantu seorang pembaca Alquran tidak salah dalam bacaannya.

Dalam ilmu ini terdapat beberapa mazhab, pendapat, dan riwayat. Ini yang kurang disadari oleh sebagian orang, sehingga menyalahkan yang lain karena tidak sesuai dengan model mushaf yang dia gunakan. Contoh huruf Fa’ dan Qaf, dalam riwayat al-Khalil bin Ahmad dijelaskan: huruf Fa’ jika disambung dalam penulisan maka diberi satu titik di atas, dan jika dipisahkan (tidak disambung dalam penulisan dengan huruf lain) maka tidak diberi titik. Sedangkan huruf Qaf jika disambung maka ditulis satu titik di bawahnya, dan ada sebagian ulama yang menuliskannya dengan dua titik di atas, tapi jika huruf Qaf dipisahkan maka tidak diberi titik.

Abu ‘Amr al-Dani menjelaskan bahwa hal seperti di atas menjadi seperti mazhab, jadi ulama wilayah timur (Ahlul Masyriq) menulis Fa’ dengan satu titik di atas, dan Qaf dengan dua titik. Sedangkan ulama wilayah Barat (Ahlul Maghrib) menulis huruf Fa’ dengan satu titik di bawah huruf, dan Qaf dengan satu titik di atas huruf.

Usaha ulama memang luar biasa demi menjaga bacaan Alquran, hampir semua bunyi bacaan memiliki simbol yang ditulis pada huruf, mulai dari harakat Fathah, Kasrah, Dhammah, Sukun, Syaddah, sampai bacaan Isymam, Imalah, Ikhtilas dan lainnya.

Contoh harakat Syaddah, symbol yang kita temukan di mushaf sekarang adalah mirip huruf Sin, padahal itu Syin tanpa titik. Ada juga yang menjadikan huruf Dal kecil sebagai silmbol Syaddah, dua-duanya diambil dari kata (Syadid). Sedangkan harakat sukun itu huruf Kha’ kecil (meskipun ditulis kepala huruf Kha’ tanpa titik) diambil dari awalan kata (Khafif).

Ini belum lagi kaidah-kaidah dalam penulisan Hamzah, dua Hamzah dalam satu kata, dan dua Hamzah dalam dua kata yang berurutan.

Penulisan harakat berhubungan dengan riwayat mushaf tersebut, di selain riwayat Hafsh terdapat bacaan-bacaan yang tidak ada di Hafsh, seperti Imalah dan Naql. Nah ini juga ada cara titik untuk menjelaskan bacaan ini.

Ada contoh menarik untuk menjelaskan bagaimana orang Arab dahulu mencoba membedakan antara dua kata yang seharusnya tulisannya sama akan tetapi mereka menambah huruf tertentu sebagai pembeda. Kata (عمر) dan (عمرو) dibaca Umar dan ‘Amr, huruf waw tidak dibaca. Kata (إليك) dan (أولئك) dibaca Ilaika dan ‘ula’ika, huruf waw tidak dibaca. Kata (منه) dan (مائة) dibaca minhu dan mi’ah, huruf alif tidak dibaca. Semua contoh ini dibayangkan ditulis tanpa harakat, titik dan hamzah.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan