Ngaji Jalalain: Bersungguh-Sungguh dalam Berbaik Sangka

durasi baca: 2 menit

Sumber Foto: dw.com

Oleh : Dr. K.H. Hilmy Muhammad, M.A

#NgajiTafsir: Surat al-Ma’idah (5) ayat 2:

وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ المسْجِدِ الحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوْا

“Dan janganlah kebencian(mu) terhadap suatu kaum disebabkan karena mereka menghalangimu dari al-Masjid al-Haram, menjadikanmu berbuat melampaui batas”

Ayat ini menjelaskan bahwa kebencian kita terhadap seseorang yang jelas-jelas telah berbuat salah kepada kita, tidak lantas membolehkan kita berlaku sewenang-wenang dalam membalas perbuatannya. Antara pelajaran penting yang dapat diambil dari ayat ini adalah:

(1) Islam adalah agama keadilan. Keadilan diberlakukan bukan hanya kepada sesama teman dan saudara seiman, tetapi bahkan kepada musuh. Hal ini antara lain diwujudkan dalam bentuk membalas perbuatan mereka sesuai dengan kadar kejelekannya saja.

(2) Islam adalah agama yang menjunjung tinggi akal sehat, bukan agama emosional, yang aturan dasarnya adalah “perasaan”. Hal ini berarti, kesenangan atau ketidaksukaan terhadap sesuatu tidak boleh dijadikan alasan untuk menghalalkan yang haram, dan atau mengharamkan yang halal. Anda boleh suka dengan mangga tetangga, tapi Anda tidak boleh seenaknya main petik tanpa izin pemiliknya. Anda boleh cinta dengan gadis tetangga, tapi Anda tidak dibenarkan asal serobot dan berboncengan dengannya, tanpa kebenaran atas nama agama.

Sebaliknya, kebencian Anda terhadap copet atau pencuri tidak lantas membolehkan Anda semaunya menganiaya, atau bahkan membakar dan membunuhnya. Semuanya ada aturan dan tata cara penanganannya.

baca juga : Ngaji Jalalain : Hukuman bagi Begal dan Perampok”

(3) Atas dasar Iman, segala bentuk perasaan manusia mestinya bisa diredam dan ditundukkan saat berhadapan dengan ketentuan Allah. Dan inilah inti dari seseorang disebut sebagai “muslim”, atau orang yang menundukkan diri terhadap apapun yang menjadi ketentuan Allah.

Sama dengan yang terjadi pada para sahabat yang sebenarnya begitu murka dengan kalangan musyrik Mekah yang menghalangi mereka berhaji pada tahun sebelumnya. Mereka sungguh ingin membalas perlakuan itu dengan keras, akan tetapi ketika hal tersebut dilarang oleh Allah, mereka mampu meredam keinginan dan perasaan tersebut, dengan cara mengikuti ketentuan-ketentuan Allah.

Ini sebagaimana juga dinyatakan dalam suatu riwayat, suatu ketika Sahabat Umar bin al-Khaththab sedang berkumpul bersama dengan para sahabatnya. Pada saat seperti itu, lewatlah di samping mereka seorang yang dikenal sebagai pembunuh saudara kandungnya, yaitu: Zayd bin al-Khaththab.

Orang-orang lantas bilang kepada beliau:
“Itu lho orang yg membunuh saudaramu…”
Sahabat Umar dengan enteng menjawab:
“Emang kenapa?! Bukankah dia sudah diberi hidayah oleh Allah untuk menjadi seorang muslim…?”

baca juga : Ngaji Jalalain : Sikap Hati-Hati Mbah Ali”

Hal ini memberi pelajaran bahwa apapun perasaan kita terhadap seseorang atau apa saja yang berbeda dengan ketentuan Allah, maka harus kita tundukkan, dan kemudian melaksanakan apa yang menjadi ketentuan tersebut dengan penuh kerelaan dan kesediaan. Keengganan kita melaksanakannya berarti menunjukkan kadar keimanan kita yang belum utuh atau belum “kaffah”.

Wallahu a’lamu bish-shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *