Metode Pengajaran Al-Qur’an KH M Moenawwir

by Januari 26, 2020
Esai Masyayikh Warta 0   428 views
durasi baca: 3 menit

Almunawwir.com – KH M Moenawwir memakai metode Musyafahah, yaitu santri membaca al-Qur’an satu persatu di hadapan beliau, dan jika terjadi kesalahan membaca, beliau langsung membenarkannya, kemudian santri langsung mengikuti. Jadi diantara keduanya saling menyaksikan secara langsung.

Selain itu, KH M Moenawwir seringkali menyuruh kepada santri (santri senior) untuk membenarkan bacaannya (santri baru) dengan cara minta petunjuk kepada temannya yang lebih pandai di luar majlis. Hal ini dapat membawa manfaat bagi santri lebih cepat dan lancar di dalam belajar membaca al Qur’an.

Sebagai contoh KH M Moenawwir menugaskan putranya KHR Abdul Qodir sebagai pengajar al-Qur’an. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pembacaan pertama santri sebelum menghadap beliau secara langsung, sedangkan pembacaan kedua kemudian disempurnakan oleh beliau.

KH M Moenawwir sangat mementingkan kefasihan dalam membaca, untuk itu diperlukan ketelitian yang sangat cermat. Untuk mencapai kefasihan tersebut, beliau menerapkan beberapa metode, yaitu :

  1. Bagi santri yang baru dalam tahap pertama mengaji, maksimal dua orang santri dari kelas bin nadzar ditambah satu orang dari kelas bil ghaib.
  2. Sebelum mengaji Surah al Baqarah (dari juz I) santri diharuskan telah hafal Surah al Fatihah dan juz 30 (juz Amma).
  3. Apabila hendak mengikuti mengaji kelas bil ghaib (menghafal) diharapkan terlebih dahulu mengajari di kelas bin nadzar paling tidak sampai dengan juz lima.

Sebagai contoh penerapan “Kefasihan” ini pernah dialami oleh KH Murtadla pada awal-awal berdirinya pesantren. Beliau hanya menaikkan rata-rata lima ayat, setiap mengaji. Itu pun harus diulang-ulang pembacaannya sebanyak 70 kali. Suatu kisah KH Yusuf Karang Ampel Indramayu di waktu mengaji Surah An Nas kepada beliau dan selama satu bulan baru dinaikkan. Hal ini karena KH Yusuf mengabaikan perintah beliau untuk minta petunjuk kepada temannya yang lebih pandai, di luar majlis pengajian beliau.

Baca Juga: Pengembaraan Dakwah bil Qur’an KH M Moenawwir

Cara beliau (KH M Moenawwir) mengajar dan mengingatkan santri yang salah bacaannya juga berlainan. Sekali-kali menegur dan lebih banyak beliau mendiamkannya. Karena pengajaran al- Qur’an berlangsung antara jam 07.30 sampai 13.00, maka selama mengajar itu juga kadang-kadang sambil tiduran. Bahkan kadang-kadang sampai tertidur. Namun apabila ada bacaan santri yang salah, beliau langsung bangun dan menegurnya.

Seperti kejadian yang dialami oleh KH Umar (Cirebon), bahwa pernah mengemukakan sesuatu pertanyaan tentang bagaimana memanjangkan bacaan انا dalam Surah al-Kaafirun ولا انا عابد Beliau menjawab: “Orang yang membaca seperti itu adalah kurang guru”. Begitu juga yang dialami oleh Kiai Syatibi (Kutoarjo), membaca انا pada Surah al-Kafirun dengan bacaan panjang hal ini beliau tegur. Setiap kali dibaca beliau menegur tanpa menunjukkan bagaimana seharusnya dibaca secara benar. Akhirnya Kiai Syatibi mencoba untuk membaca dengan pendek dan beliau tidak menegur lagi. Lantas membaca pun diteruskan tanpa teguran lagi.

Lain yang dialami oleh Kiai Adzkiya’ (Kroya). Ia pernah mengaji al-Qur’an di hadapan KH M Moenawwir dengan bacaan yang salah. Cara beliau memperingatkan yaitu dengan melempar sebutir batu putih sebesar ibu jari tangan kepadanya. Kiai Adzkiya memahami isyaroh tersebut, lalu mengulangi bacaannya sampai benar. Hingga sekarang, batu putih itu masih disimpan dengan baik oleh ahli bait (Kiai Adzkiya’).

Pengajian pokok, yakni: pengajian al-Qur’an diselenggarakan mulai pukul 07.30 sampai dengan 13.00 WIB. Khusus pada bulan Ramadan dilaksanakan dua kali sehari semalam, yaitu siang dimulai sesudah Dhuhur sampai Ashar dan malam dimulai sesudah shalat Tarawih sampai selesai.

Sebelum majlis al-Qur’an dibuka oleh beliau, ada beberapa tata tertib majlis yang harus diperhatikan oleh para santri, di antaranya:

  1. Sebelum pengajian dimulai, santri harus sudah hadir di majlis terlebih dahulu dan tidak diperkenankan meninggalkan sebelum majlis berakhir.
  2. Urutan mengaji (al-Qur’an), sesuai dengan nomor urut masing-masing.
  3. Pengajian ditutup dengan membaca takbir santri bin nadzar, sedang santri bil ghaib dengan berjabat tangan.
  4. Apabila ada santri telah khatam mengaji al-Qur’an, beliau langsung memanjatkan do’a dalam majlis tersebut.
  5. Khusus bagi santri baru, ia baru dapat mengikuti pengajian setelah satu minggu bermukim di pesantren.
  6. Untuk menghilangkan rasa jenuh, beliau mengizinkan segenap santri untuk mengadakan silaturrahim dan rihlah (refreshing) ke luar pesantren. Dan biasanya dilaksanakan ½ bulan sekali.

 

*Referensi Tulisan Djunaidi A. Syakur, dkk., “Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta” (Yogyakarta: Almunawwir Press, 2001)

Tinggalkan Balasan