Merespon Zaman sampai Etika Bermedsos (Wawancara dengan KH. Said Aqil Sirodj)

3 years ago
durasi baca: 5 menit

Beberapa waktu lalu, Redaktur Almunawwir.com berkesempatan mewawancari Ketua PBNU KH. Said Aqil Sirodj. Kesempatan itu dioptimalkan dengan sungguh. Pembahasan serta pertanyaan yang kita sodorkan kepada beliau mulai dari respon perubahan zaman, Islam masa kini, pengalaman nyantri di Krapyak, sampai pada etika kita dalam bermedia sosial. Berikut hasil wawancara kami.

Bagaimana kita menyikapi Pesantren yang akhir-akhir ini mengalami berbagai dinamika yang menarik dalam menghadapi tantangan zaman?

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang lahir jauh sebelum NKRI lahir, yang sampai sekarang masih eksis, dan  terbukti sukses membangun karakter. Presiden Jokowi yang di era kepemimpinannya menggalakkan untuk membangun karakter melalui program “Revolusi Mental”, yang paling benar dan tepat untuk mensukseskan hal tersebut adalah bekerja sama dengan, dan melalui pesantren.

Hal ini terbukti dari para alumni pesantren, adalah mereka orang-orang yang berakhlak, berbudaya, bermartabat, dan berintegritas yang sangat tinggi terhadap bangsa ini.

Sehingga tidak aneh apabila masyarakat semakin mengapresiasi eksistensi pesantren, terutama pesantren yang dikelola oleh ulama’ NU. Yang basis kurikulumnya tidak hanya ta’allim/transfer knowledge melainkan menyangkut pula perihal tadris (mengamalkan ilmu), ta’dib (membangun disiplin), dan terakhir tarbiyah (membangun kecerdasan spiritual).

Adapun para alumni pesantren, adalah mereka yang punya komitmen untuk mengamalkan ilmunya semaksimal mungkin. Disiplin, melaksanakan perintah Allah, melaksanakan kewajiban dan meninggalkan laranganNya, takutnya tidak karena takut polisi, tidak karena ada larangan. Tapi bakti imannya sebab lillahi ta’ala.

Misalnya saja, saat menjalankan puasa ramadhan, bisa saja kita minum, sebab orang juga tidak tahu. Tapi kita tetap teguh kepada Allah. Takwa kepada Allah, sehingga perbuatan demikian batal terjadi.

Santriwati pun demikian, mereka di pesantren memakai Jilbab, berpakaian sopan dan menutup aurat. Ketika kembali ke daerah asalnya, sedikit banyak akan membawa kultur pesantren. Bahkan, misal ketika berkehendak melepas Jilbab pun, mereka akan alergi. Hal ini semua dilakukan bukan sebab ada yang merintah, ingin dipuji apalagi. Tetapi murni karena lillahi ta’ala.

Kita (masyarakat pesantren) tidak melakukan maksiat, berjudi, berzina, minum arak, padahal lokalitas kita, ada yang di Yogyakarta dan Jakarta, yang demikian plural, global, bebas dan menjadi basis pergumulan umat antar beragama dan lain sebagainya. Tapi ajaran yang dipelajari di pesantren, tetap menjadi batas demarkasi bagi masing-masing santri. Inilah yang disebut dengan karakter.

Kita harus bangga ada kelompok bangsa ini yang masih berkarakter, seperti para santri. Coba bayangkan kalau Indonesia ini tidak ada pesantren.

Terkait nyantri di Krapyak, usut punya usut, Pak Kiai pernah menjadi Vokal Gambus? Benar ya Pak?

Iya, betul. Pada tahun 1971-1975, saya pernah nyantri di sana (Krapyak) ketika masih ada Mbah Ali Maksum, Mbah Zainal, Mbah Ahmad, Mbah Warsun. Ketika pagi, mengaji kitab Jawahirul Bukhori, Jawahirul Balaghoh bersama Mbah Ali Maksum di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga. Tatkala  sore, ikut mengajar di Madrasah Tsanawiyyah, yang dikepalai oleh Mbah Jirjiz Ali. Kebanyakan Fan yang saya ajarkan pada saat itu adalah Nahwu, Shorof.

Adapun dalam bidang ekstrakulikuler, saya terlibat aktif dalam dunia seni pesantren, terutama dalam bidang tarik suara, yaitu Grup Gambus—seni musik khas Timur Tengah. Pada saat itu nama grup kita adalah “al-khis” yang diketuai oleh Pak Aji Prasetyo. Ya, kira-kira saya yang menjadi penyanyilah pada saat itu. Tapi ya cuma iseng-iseng saja. Bukan tujuan.

Bagaimana peran Santri di zaman teknologi dan informasi yang serba transparan dewasa ini? 

Sains dan teknologi merupakan hasil kecerdasan manusia, dan di era sekarang, teknologi sangatlah maju, dalam kondisi terbaiknya, dala kondisi memuncaknya. Hakikatnya, teknologi digunakan sebagai sarana untuk membangun budaya. Sarana untuk membangun martabat bangsa supaya menjadi bangsa yang bergengsi. Tidak gaptek.

Tetapi, daripada itu, ada muatan dampak negatif di dalamnya, yaitu manusia dikekang atau dihadapkan pada hidup dalam koridor fitnah, adu domba, permusuhan, kejahatan, hate speech, saling membenci, konflik masyarakat.

Padahal, yang tadi saya katakan, bahwasannya hakikat teknologi itu seharusnya digunakan untuk membangun peradaban, kesatuan dan persatuan masyarakat, tapi nyatanya dewasa ini, teknologi malah dipakai untuk menyulut permusuhan dan perpecahan. Ini kan sebuah anomali.

Hal ini jelas, para pengguna teknologi dan informasi, kerap kali melalaikan bahkan menghilangkan atau menafikan prinsip akhlaqul karimah.

Misal yang memobilisasi teknologi masa, terutama media masa sekarang ini adalah mereka yang ber-akhlaqul karimah, insyaallah tidak akan terpengaruh lingkungan, tidak akan terpengaruh kemajuan teknologi yang negatif.

Apakah hal tersebut bisa dilakukan di era saat ini? Sangatlah bisa. Dalam sebuah riwayat, Nabi Musa hidup di Istana Fir’aun, yang setiap hari—sejak awal kelahiran atau dalam kondisi tamyiz (usia yang dianggap sanggup membedakan mana yang baik dan mana yang benar)—selalu disuguhi dengan kekufuran.

Tapi Nabi Musa as. yang diasuh dan dididik langsung oleh Sayyidah Asiyah, seorang perempuan yang sholihah, ‘aabidah, Nabi Musa walaupun hidup di tengah-tengah kemaksiatan dan kekufuran, tidak menjadi orang yang kurang ajar, bahkan menyulut kebencian, melakukan kemungkaran apalagi. Tapi, Nabi Musa, justru malah anti terhadap itu semua. Hal ini, bukan tidak lain dikarenakan beliau mendapat didikan langsung dari perempuan yang sholihah dan ‘aabidah, yakni Sayyidah Asiyah.

Sama halnya dengan santri, kalian boleh memilih lingkungan yang bagaimanapun di alam ini. Tetapi ketika para santri tetap berpegang teguh pada ajaran agama Islam yang diajarkan di pesantren dan patuh terhadap Ustadz dan Kiai yang Sholih, Mukhlis, ‘Aalim, insyaallah akan sama ceritanya dengan hikayat Nabi Musa as. tadi.

Setiap masa kepemimpinan di PBNU memiliki tantangannya sendiri. Apa tantangan di masa-masa awal? Apa tantangan terbesar PBNU di masa kepemimpinan Anda?

Setiap pemimpin, pemimpin apa saja, pasti mempunyai tantangannya masing-masing. Tapi apabila seorang pemimpin itu mempunyai kepribadian yang tangguh, justru tantangan itulah yang nantinya akan membuat dia semakin kuat, masyhur, dan semakin dihormati.

Dalam prinsip saya, hal yang fardhu dilakukan oleh pemimpin adalah istiqomah, tidak mudah berubah dalam mengambil keputusan. Jadi, apa yang menurut saya benar, akan saya perjuangankan terus kebenarannya. Begitupun sebaliknya.

Ketika pemimpin telah memegang teguh apa yang disebut sebagai prinsip, dalam kondisi apapun, entah itu dirayu atau diancam, pemimpin harus tidak bergeser pada prinsip yang dipegangnya, seperti dalam terminologi Nahdlatul Ulama’, tersebutlah beberapa prinsip. Ada tawassuth, tasamuh, ukhuwwah insaniyyah, ukhuwwah wathoniyyah, ukhuwwah islamiyyah. Prinsip-prinsip tersebut harus dipegang teguh, tidak boleh sama sekali luntur. Apapun resikonya.

Seorang pemimpin, pasti pada suatu saat akan diahadapkan pada masa-masa kritis. Yang mana kondisi tersebut menuntut pemimpin untuk mengambil keputusan cepat. Tidak ada waktu untuk berunding atau musyawarah dengan teman-teman lainnya. Kalau sudah seperti itu, akal dan logika bukanlah jawaban. Melainkan insting yang akan berbicara, itu pengamalan saya.

Bagaimana sikap media sosial kita (nahdliyin) dalam menghadapi era globalisasi, era yang di mana penuh dengan resistensi dan rawan konflik seperti saat ini?

Artinya yang harus kita sampaikan melalui media masa kita adalah informasi yang benar dan sehat, yang akan menjadikan masyarakat tercerahkan, dan haram bagi media, dalam menampakkan sikap tidak terpuji dan negatif.

Media kita harus dengan kokoh dan teguh menjunjung tinggi nilai-nilai universal, keharmonisan, trilogi ukhuwwah, toleransi, persatuan, persaudaraan. Itu sebagai tipologi bagi media masa kita, media masa berbasis Nahdlatul Ulama.

Media massa yang kita miliki harus membangun, menghargai, menghormati perbedaan pendapat, perbedaan agama, perbedaan apa saja. Selama orang itu tidak mencaci maki kita, kita harus menghargai. Tapi kalau mereka atau siapapun mencaci maki kita, ya kita layani. Begitulah titik demarkasi media masa kita.

Adapun ketika menyampaikan dakwah, jangan doktrin. Tapi harus transformatif.

– Tim Media Al Munawwir-

baca juga : Informal Leader sebagai Revitalisasi Tradisi Pesantren

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *