Menulis sebagai Penebus Dosa

durasi baca: 3 menit

Krapyak, Minggu (17/12), Sastrawan Aguk Irawan MN menjadi pemateri sesi Training Motivation di Aula G Ponpes Al Munawwir. Penulis novel best seller Haji Backpacker ini memberi materi jurnalistik sekaligus motivasi menulis kepada sekitar 100 peserta yang hadir dalam acara Training Motivation yang diselenggarakan oleh Komplek R2.

Sesi Motivasi ini merupakan serangkaian acara OSABA (Orientasi Santri Baru) Komplek R2. Acara ini dikhususkan untuk santri baru Komplek R2 dan terbuka untuk santriwati komplek lain.

Pria yang akrab disapa Aguk ini membuka acara dengan membawakan puisi karya Al Fairuz, salah satu penyair Palestina. Pembacaan puisi ini diniatkan sebagai salah satu bentuk kepedulian kepada warga Palestina.

baca juga : Sekilas Tentang Sosok KH. R. Abdul Qodir Munawwir Krapyak Yogyakarta

“Sebenarnya siapapun bisa menulis, asalkan mau” ungkap Aguk saat memulai dialog. Alumni Universitas Al Azhar itu menambahkan, diperlukan referensi bacaan yang banyak agar termotivasi dalam memulai menulis. Selain itu, menyukai beberapa tokoh penulis juga dapat meningkatkan keinginan kita dalam mengasah gaya kepenulisan.

Banyak sekali tokoh ulama yang juga pakar tulisan. Aguk kemudian memberi contoh beberapa alim ulama seperti Imam Suyuthi, Ibnu ‘Arabi, dan Jalaluddin Rumi. Tokoh terkemuka yang cinta menulis dan menghasilkan karya yang tetap eksis hingga saat ini.

Seorang Imam Suyuthi menulis hingga 700 kitab lebih dari berbagai disiplin ilmu. Dalam kitab Adabut Ta’lif atau Etika Mengarang disebutkan, Imam Suyuthi selalu menulis dan terpaksa menulis setiap hari. Beliau takut kelak jika di yaumul qiyamah akan diadili Malaikat dan Tuhan, lalu tak ada yang membela. Karena itu Imam Suyuthi selalu menulis, agar kelak diringankan beban dosanya saat hari kiamat.

Kemudian Ibnu ‘Arabi, seorang sufi yang memiliki karya tulis sekitar 100 ribu lebih itu, semasa hidupnya, beliau telah menghasilkan karya yang memiliki nilai intelektual dan spiritual. Menariknya karya-karya beliau konsisten diciptakan dalam balutan sastra tingkat tinggi. Adapun beberapa karya monumental beliau seperti Futuhat Al Makkiyah dan Fushush Al Hikam.

baca juga : Mengenal Lebih Dekat Imam Syafi’i

Ibnu ‘Arabi menulis karena setiap saat beliau merasa kebakaran. Bukan api yang beliau rasakan terbakar, melainkan waktu. Bagi beliau, tidak ada cara untuk mencegah kebakaran dari waktu dan menyelamatkan diri selain dengan menulis. Dengan menulis usia kita akan menjadi lebih lama dibandingkan jasad atau hidup ini.

Sedangkan seorang Jalaluddin Rumi menulis sebagai cara untuk menebus rasa rindunya kepada Tuhan. Seorang sufi yang syairnya sangat masyhur hingga diterjemahkan dalam berbagai bahasa seperti tak ada waktu untuk tak menulis.

Setiap hari, Rumi merasa seperti sebatang bambu yang kemudian hanyut ke sungai dan jauh dari akarnya. Dia seakan merintih ingin kembali kepada akar. Arus sungai baginya adalah kehidupan. Sedangkan akar baginya adalah Tuhan. Menulis adalah cara Rumi mengurangi rasa rindu kepada TuhanNya.

Sebagai bahan lecutan kepada para peserta untuk suka dan hobi menulis, Mas Aguk berkata : “Bagi saya, motivasi saya menulis karena saya takut hidup saya sia-sia.” Harapannya, beberapa karya tulisan yang dihasilkan kelak akan meringankan bebannya dari dosa-dosa saat diadili di yaumul akhir.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan pembacaan puisi karya Aguk Irawan sendiri, berjudul Lukai Aku yang Kedua Kali.[Nufahn|Ed.AQ]

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *