Mengenal Para Pendiri Pesantren Era Awal di Jawa

by Desember 21, 2017
Esai Resensi 0   600 views
durasi baca: 2 menit

Dengan membaca buku ini, kita belajar keikhlasan, kesabaran, keteguhan, kesederhanaan, dan kedermawanan para kiai yang menjadi pendiri pesantren. Kita dapat belajar bagaimana seorang kiai rela berhutang untuk membeli tanah yang akan didirikan pesantren di atasnya, bagaimana kesabaran seorang kiai yang telah puluhan tahun belajar bahkan sampai ke tanah Hijaz rela mendidik santri-santrinya yang berjumlah hanya dalam hitungan jari. Bagaimana keteguhhan kiai di tengah gangguan orang-orang yang tidak menyukainya. Bagaimana kesabaran kiai untuk terus mendidik muridnya meski dengan kondisi ekonomi keluarga yang belum mapan, dan seterusnya. Yang ada dalam pikiran kiai pendiri pesantren tersebut adalah bagaimana agar ilmuya bermanfaat dan dapat mengamalkan hadis Nabi saw.: Sampaikan ajaran dariku meski hanya satu ayatK.H. Andul Hannan Ma'shum (Pengasuh Ponpes Fathul 'Ulum Kwagean Kediri)

oleh : Rizal Fathurrohman*

Judul : Napak Tilas Masyayikh
Penulis : M. Sholahuddin
Penerbit : Nous Pustaka Utama
Cetakan : II, Juni 2015
Tebal : xi + 208 halaman

Dalam buku ini terdapat kurang lebih lima belas biografi Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura, di antaranya;

Pesantren Kajen Pati, Pesantren Mlangi Sleman Yogyakarta, Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon {1705}, Pesantren Mojosari Nganjuk {1920}, Pesantren Qomarudin Gresik {1775}, Pesantren Kempek Cirebon {1901}, Pesantren Mranggen Demak {1905}, Pesantren Suryalaya Tasikmalaya {1905}, Pesantren Lirboyo Kediri {1910}, Pesantren Krapyak Yogyakarta {1910}, Pesantren Denanyar Jombang {1917}, Pesantren Ploso Kediri {1924}, Pesantren Gontor Ponorogo {1926}, Pesantren Cipasung Tasikmalaya {1932}, Pesantren Paiton Pronbolinggo {1950}.

Dalam buku ini, penulis mencoba mengulas rihlah ilmiah Kiai Munawwir dalam mendirikan Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Sejak kecil Kiai Munawwir telah didorong ayahnya untuk mencintai Alquran. Kiai Munawwir akhirnya mau belajar membaca Alquran, bahkan menghafalkannya.

Belum sampai menginjak usia 10 tahun, Kiai Munawwir kecil belajar di sebuah pesantren di Bangkalan Madura yang diasuh oleh KH. Ma’shum.

baca juga : Teori Stephen R. Covey; “Menjadi Manusia Efektif dan Produktif”

Di pesantren itulah kemampuan Kiai Munawwir dalam mempelajari Alquran semakin terasah. Bahkan, Kiai Munawwir dipercaya oleh Kiai Ma’shum, gurunya, untuk menjadi imam shalat. (hal 95)

Buku yang lumayan tebal ini menjadi salah satu dokumentasi apik dan penting tentang seorang figur Kiai dalam medirikan sebuah Pesantren sehingga menghasilkan ribuan santri berkualitas.

Walau informasi tentang beliau (Kiai Munawwir) tidak terlalu banyak, buku ini merupakan awal untuk menulis buku yang lebih lengkap di kemudian hari.

Pasalnya, kisah-kisah di dalamnya sangat butuh untuk dibaca, utamanya bagi santri yang masih menuntut ilmu juga ustadz yang sedang mengabdi di Pesantren.

*Peresensi adalah Pimpinan Redaksi el-Tasrich Komplek L

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *