Mengenal Budaya ‘Mengaji’ Alquran Kaum Orientalis

Oleh : Hana Rosita* Sebelum mengenal bagaimana budaya kaum orientalis dalam ‘mengaji’ Alquran, ada baiknya tulisan ini dimulai dengan mengenal terlebih dahulu siapakah itu orientalis. Secara sederhana orientalisme dapat diartikan sebagai sebuah gerakan pemikiran terhadap luar Eropa. Jadi, orientalis adalah seseorang yang melakukan kajian tentang masalah-masalah ketimuran, mulai dari sastra, bahasa, antropologi, sosiologi, psikologi sampai agama dengan menggunakan paradigma eurosentrisme (pengalaman barat), hingga menghasilkan konklusi yang distortif tentang objek kajian yang dimaksud. Belum diketahui secara pasti sejak kapan dan siapa orang Eropa yang pertama kali memiliki perhatian terhadap studi ketimuran. Orientalisme dimulai oleh kaum orientalisten dengan mempelajari bahasa Arab dan Islam. Ketertarikan barat pada Islam bisa dilihat ketika dimulainya gerakan mempelajari Islam sejak abad ke-12 dimana mereka mempelajari dan menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab ke dalam bahasa mereka dalam pelbagai bidang ilmu pengetahuan, tak terkecuali ketertarikan mereka untuk mengkaji Alquran yang dimulai pada abad pertengahan. Istilah Orientalisme sendiri menjadi populer selama periode kolonial abad ke-19 dan awal ke-20 ketika istilah ‘orientalis’ diartikan sebagai seniman Barat yang terinspirasi oleh Timur maupun sarjana Barat yang mengkhususkan diri pada studi bahasa, agama, dan budaya ketimuran. Dari perspektif inilah ilmu pengetahuan Barat tentang Alquran pada awalnya dikembangkan. Ketertarikan kaum orientalis terhadap studi Alquran kian hari kian beragam. Hingga saat ini setidaknya terdapat empat spektrum yang dikaji para orientalis diantaranya mereka ‘mengaji’ Alquran melalui pendekatan sejarah, sebagian yang lain ‘mengaji’ isi Alquran, fenomenologi bahkan hingga ‘mengaji’ tafsir Alquran. Untuk itu kita akan melihat bagaimanakah budaya mereka dalam keempat spektrum tersebut. Salah satu tuduhan yang dilontarkan oleh tokoh orientalis terhadap Alquran yang marak diperbincangkan adalah tentang isi kitab suci umat Islam yang meminjam ajaran Yahudi. Salah satu tuduhan ini terlontar dalam buku Judaism and Islam karangan Abraham Geiger. Ia merupakan seorang tokoh Yahudi yang menganggap Alquran sebagai imitasi ajaran Yahudi. Ia juga mengatakan bahwa Alquran bukan sesuatu yang transenden, karena terbukti di dalamnya terdapat kombinasi pelbagai tradisi, baik itu Yahudi, Nasrani, maupun Jahiliyah. Masih menurut Abraham, Alquran dikatakan hanya sekedar refleksi Muhammad tentang tradisi dan kondisi masyarakat Arab pada saat itu. Pendekatan yang dilakukan Abraham Geiger ini disebut pendekatan Historis-Kritis. Dalam hal ini dapat kita temukan budaya fanatisme pada kajian Abraham Geiger mengingat ia adalah seorang tokoh Yahudi. Adapun dari rumpun kajian tafsir hadir seorang tokoh bernama Ignaz Goldziher dengan karyanya yang berjudul Madzahib Tafsir. Ia berpendapat bahwa tafsir Alquran memiliki bias kepentingan, teks suci tidak lagi sebagai sumber agama tetapi lebih dari itu, ada kepentingan sekte-sekte tertentu dalam menafsirkan Alquran. Tuduhan tersebut dilontarkan tanpa menghadirkan bukti yang kuat dan hal tersebut telah menjadi budaya tersendiri dalam lingkup kajian orientalis. Kalaupun ada, mereka sekadar menggunakan riwayat-riwayat lemah untuk mendukung statement mereka.
Baca Juga: Gus Mus Butuh Waktu 3 Bulan Mengaji Surat Al Fatihah di Krapyak
Tak kalah menarik, kaum orientalis juga mengaji qira’at Alquran. Adalah Arthur Jeffrey, seorang orientalis yang berpandangan adanya kekurangan pada tanda baca mushaf Usmani berarti memberi peluang bebas bagi para pembaca untuk memberi tanda baca sendiri sesuai dengan konteks makna ayat yang ia pahami. Dari pandangan tersebut Arthur Jefrrey nampaknya lupa atau bahkan melupakan sejarah bahwa Alquran telah diturunkan dalam bentuk ucapan lisan, sehingga perbedaan penulisan teks merupakan sebuah keniscayaan sebagaimana ketika seorang guru mendikte siswanya maka bukanlah tidak mungkin apabila tulisan seorang siswa berbeda dengan siswa yang lain. Budaya lupa atau melupakan fakta sejarah seperti inilah yang juga banyak ditemui dalam penelitian-penelitian orientalis yang lain. Beberapa contoh di atas merupakan budaya-budaya ‘mengaji’ kaum orientalis di masa-masa awal hingga pertengahan perkembangan studi Barat atas Alquran. Di mana mayoritas dari mereka cenderung bersifat subjektif dan fanatik. Penelitian yang mereka lakukan terkait Alquran maupun Islam selalu bersifat kontradiksi dan terpisah dengan penelitian-penelitian sarjana Muslim. Namun belakangan kesan keterpisahan tersebut memasuki babak baru dengan kecenderungan dialog di antara keduanya. Salah satu contoh nyata dialog tersebut adalah terjadinya pergeseran budaya yang selama ini melekat pada kaum orientalis. Pada mulanya kaum orientalis ‘mengaji´ Alquran dengan metode filologi-historis kemudian pada dekade 80-an berkembanglah pendekatan baru yakni dengan metode kritik sastra. Tokoh pembaharu tersebut antara lain Angelika Neuwrith dan Gabriel Reynold. Keduanya mengkritik paradigma yang mengatakan bahwa Alquran meminjam ajaran agama sebelumnya dan membela Alquran dari wacana miring terkait komposisi Alquran. Budaya baru yang mereka hadirkan adalah budaya analisis teks yang kemudian dikenal dengan kajian intertekstualitas Alquran. Dalam praktiknya, intertektualitas mewakili sudut pandang yang berbeda. Meskipun kajian Alquran yang dilakukan oleh generasi sebelumnya hanya melihat kesamaan bahkan mengganggapnya sebagai tiruan, justru pada kajian intertekstualitas Angelika Neuwrith inilah sesuatu yang berbeda menjadi karakter yang menonjol. Ia melihat Alquran sebagai teks independen sehingga terbebas dari status tiruan. Dengan demikian kajian intertektualitas ini menghadirkan budaya baru dalam ‘menggaji’ Alquran yang dilakukan kaum orientalis. *Penulis merupakan Santri Al Munawwir Komplek R2

Tinggalkan Balasan