Mengamati Ekspresi Sosial Ketakwaan Perempuan-Perempuan Pesantren

2 weeks ago
durasi baca: 6 menit

“milenial ki makhluk opo si?” sebuah kalimat yang diucapkan oleh Bu Nyai Ida Fatimah Zainal dalam mengawali Seminar Religiusitas dan Toleransi: Eksposisi Nalar Perempuan di Era Milenial. Seminar yang masuk dalam serangkaian peringatan harlah Komplek R2 ini, dihadiri oleh Bu Nyai Ida Fatimah Zainal, Dr. Katrin Bandel, dan Kalis Mardiasih. Kegiatan ini dilaksanakan pada 3 Agustus 2019 di Aula G, PP Al Munawwir Krapyak.

Bu Nyai Ida yang bertindak sebagai pemateri pertama menyampaikan materi dari sisi agama Islam. Beliau menuturkan bahwa Islam adalah agama yang sangat memuliakan perempuan. Mengutip pendapat Asad Ali, salah satu revolusi Islam adalah Islam mendobrak tradisi Arab yang telah merendahkan perempuan. Sebelumnya, perempuan dianggap benda yang tidak ada artinya.

Kehidupan sebelum Islam datang mengisahkan tradisi orang-orang Jahiliyyah yang bermuka masam ketika mendapati isterinya melahirkan anak perempuan. “Hal ini dianggap sebagai hal yang memalukan sekaligus terhinakan. Alquran pun menceritakan kondisi tersebut dalam surat An Nahl ayat 58-59,” ujar Bu Nyai Ida.

Hal-hal demikian seharusnya menjadikan kita bersyukur karena terlahir sebagai perempuan yang dibela dan dimuliakan Islam. Belajar dari sejarah, kita mengenal nama-nama tokoh perempuan dalam berbagai bidang, Khadijah misalnya. Isteri pertama Nabi saw ini merupakan seorang pedagang sukses dan Aisyah, isteri Nabi saw lainnya merupakan salah satu sahabat yang meriwayatkan banyak hadis. “Semua berjuang dalam koridor Islam, Perempuan, dan Indonesia tentunya,” tambah Bu Nyai Ida.

Sementara dalam konteks perempuan dan pekerja profesional, Rasulullah saw mengizinkan perempuan menjadi apa saja dengan beberapa syarat. Bahkan Kepala Pasar Madinah pada zaman Umar bin Khattab dijabat oleh seorang perempuan bernama Asy Syifa. “Apapun pekerjaannya, perempuan tidak boleh melupakan tugasnya sebagai perempuan baik dalam keluarga maupun masyarakat,” pesan Bu Nyai Ida kepada hadirin.

Sebelum mengakhiri penyampaian materi, Bu Ida menyampaikan bahwa perempuan harus pandai menempatkan dirinya di mana saja, mengembangkan kreatifitas, mengerti akhlak, dan berusaha untuk tidak terbawa zaman.

Pemateri selanjutnya adalah dosen Universitas Sanata Dharma, Dr. Katrin Bandel. Dalam hal ini, dosen yang pernah nyantri setahun di Krapyak ini menjelaskan materi melalui perspektif beliau sebagai akademisi. Untuk mengawali materinya, beliau memulai dengan menjelaskan makna toleransi dan intoleransi.

Intoleransi bisa dikatakan menghadapi atau terkadang hanya melihat atau memandang adanya perbedaan baik dari agama, etnis, prinsip, maupun perilaku. Perbedaan ini menimbulkan rasa tidak nyaman atau terganggu, bahkan bisa pada taraf melakukan kekerasan atau merendahkan

Ada beberapa sebab mengapa sampai terganggu hanya karena ada yang berbeda di luar dirinya. Orang-orang seperti ini merupakan orang-orang yang tidak kokoh dalam pendirian maupun keyakinannya sendiri. Seperti mengerti bahwa dirinya berhijab dan muslim tetapi ia tidak tahu untuk apa semua itu dan apa penyebabnya. “Hal ini mengarah pada ketakutan akan runtuhnya keyakinan atau bahkan seperti yang dibilang tadi bahwa keyakinannya memang tidak kokoh,” dalih Dr Katrin. Terakhir adalah adanya stereotipe yang berkembang di masyarakat dan mengalami reprodruksi terus-menerus. “Para akademisi menyebut kondisi ini sebagai moralpanic atau kepanikan moral yang berlebihan tanpa ada alasan yang kuat,” imbuh Dosen asal Jerman ini.

Lalu apa kaitannya dengan gender? Perbedaan yang menjadi persoalan ini sering ada kaitannya dengan gender. Di sini kita melihat dengan ideologi yang sama, sementara di luar sana, ada seribu dan beragam cara menjadi perempuan. Semuanya bisa dijumpai dalam kehidupan keseharian. Dalam hal ini, seringnya kita kesulitan menerima realitas tersebut, bukan berarti membenarkan tetapi kita terganggu akan adanya hal itu dan membuat kita terancam akan kehadiran perempuan yang berbeda dengan kita.

“Persoalan gender bukan hanya antara laki-laki dan perempuan, antara perempuan dan perempuan juga sangat rumit. Kita belum tentu bisa menerima semua keragamannya ini. Sikap intoleran menjadi mengganggu ketika kita merasa terancam, merasa benar sendiri,  dan emosional,” ucap Dr. Katrin.

Selanjutnya adalah toleransi. Sikap ini sangat sulit didefinisikan dan apa batasannya. Hal ini bukan hal yang mudah terutama sebagai perempuan yang memiliki berbagai peran baik di keluarga maupun masyarakat. Persoalan semakin rumit ketika hubungan ini terjadi dalam rana yang dekat, seperti keluarga atau teman. Toleransi adalah persoalan yang rumit sekaligus penting, apalagi bagi negara yang multi etnis seperti Indonesia. Bagaimana peran perempuan di sini?

Ada keuntungan menjadi perempuan dengan sifat-sifat khasnya. Konstruksi gender yang berkembang di masyarakat, laki-laki adalah makhluk yang berkompetisi antar sesama laki-laki. Berlomba-lomba menunjukkan kehebatannya. Dalam kaitannya dengan intoleransi tadi, bisa saja laki-laki membuktikan kehebatannya dengan merendahkan orang lain. Laki-laki berbeda dengan perempuan dalam persoalan mengungkapkan ekspresi perasaan. Hal ini menjadi keuntungan bagi peremuan karena kemampuannya dalam berekspresi.

Meskipun demikian, bukan berarti keuntungan ini tidak bisa berubah menjadi hal negatif. Sifat-sifat tadi bisa berubah menjadi hal-hal yang negatif, seperti gosip atau perbuatan intoleransi, seperti menghakimi sesama perempuan atau merasa benar sendiri. Tidak jarang, sering kali kita mendengar ucapan perempuan menyalahi kodrat. Sebenarnya apa itu kodrat?

Memaknai kodrat sama halnya memaknai toleransi. Sangat sulit mengemukakan definisinya. Dr. Katrin mengatakan bahwa menjadi perempuan adalah sebuah perjalanan di atas kodrat masing-masing. Perjalanan adalah proses pencarian identitas, sehingga akan menemui fase-fase tertentu. Dan hal ini dialami oleh semua perempuan. “Dalam perjalanan, kita tidak tahu ke depan jalan hidup apa yang kita jalani,” ucap Dr. Katrin.

Pemateri selanjutnya adalah Kalis Mardiasih. Kolomnis dan penulis di berbagai media Islam ini menceritakan latar belakangnya sebagai seorang anak kampung yang tinggal di lingkungan miskin yang khas dengan berbagai problematikan kulturalnya. Kalis kecil sudah biasa melihat tetangganya menyembeli anjing di pinggir sungai kemudian menyatenya, isteri-isteri dibentak suami karena masalah ekonomi, janda-janda korban perceraian, hingga teman-temannya yang keluar penjara dengan berbagai kasus.

Kondisi ini mendorong sang bapak untuk membangun musala dekat rumah. Sang bapak bukan lah orang kaya dan bukan pula keturuanan kiai. Hanya berbekal pernah nyantri, bapak Kalis bertekad untuk mengajar ngaji warga sekitarnya. Dalam proses ini, bapak Kalis tidak serta-merta mendoktrin warganya, dengan penuh kesabaran, bapak Kalis menunggu jama’ah  yang tidak banyak datang ke musala untuk mengaji. “ Perhari hanya 2-3 orang, selama belasan tahun bapak menjalani aktivitas ini, adzan lima kali dalam sehari adalah hal yang biasa bapak lakukan, dan tak ada perubahan secara signifikan” cerita Kalis.

Suatu ketika ia pernah bertemu dengan sahabat kecilnya yang pulang dari Malaysia sebagai buruh migran. Tampilannya yang berbeda membuat Kalis agak susah mengenalinya. Ia bertutur bahwa temannya satu ini berhasil membeli tanah di desa dari hasil jerih payah di negeri jiran, namun sayangnya tanah ini terjual karena orangtua angkatnya masih hobi berjudi. Dari sini Kalis menyadari bahwa perjalanan hidup kita ditentukan oleh akses. Ada akses terhadap ilmu pengetahuan, akses pertemanan, dan lain-lain. Sementara temannya tadi tidak seberuntung Kalis yang bisa mengenyam pendidikan baik formal maupun agama.

Kondisi berbeda ditemuinya ketika menginjak bangku kuliah, adalah masjid-masjid di kampus banyak menyelenggarakan kajian-kajian yang bertemakan Muslimah. Tema-tema ini tak jauh dari perempuan harus menjaga diri, poligami atau menikah mudah dan jilbab. Hampir tidak ada hal lain yang dibahas. Kajian-kajian seperti ini ketika membicarakan kemuliaan perempuan hanya sebatas tema-tema tadi. Kalis berefleksi tentang dua hal yang berbeda tersebut, menurutnya ia tidak lebih baik dari teman kecilnya yang menjadi buruh migran tadi. Semua pekerjaannya sejak kecil hingga jadi buruh migran telah didedikasikan untuk orangtua angkat yang telah merawatnya.

Dengan demikian, apakah benar mendefinisikan kemuliaan perempuan hanya cukup mengulang-ulang kajian dengan topik-topik di atas? Menurut Kalis kajian-kajian seperti ini hampir selalu berujung ke komodifikasi, yakni jilbab yang dijual melalui kajian-kajian tersebut. Hal ini tentunya berbanding terbalik dengan tahun 70-80an. Islam sangat dibatasi. Hal ini membuat beberapa perempuan beramai-ramai memakai jilbab untuk menunjukkan simbol Islam punya kekuatan dan perlawanan terhadap Batasan tersebut.

Jilbab adalah simbol kesederhanaan dari Muslimah. Makna ini bisa menjadi tidak ada artinya ketika artis-artis  atau influencer yang berjilbab berbicara di kampus-kampus dan mereka didengarkan sekaligus menjual Jilbab-jilbab dengan harga yang mahal. Namun hal-hal ini tidak bisa dijadikan dalil untuk menghakimi sesama perempuan.

Jihad perempuan adalah bagaimana menjadi perempuan yang menerima dirinya sendiri apa adanya.” Takwa dan jihad hari ini adalah bagaimana kamu menahan dirimu atau potensi dalam dirimu untuk menghukumi perempuan lain. Bagaimana kamu nyaman dengan dirimu hari ini, membentuk dirimu dengan ilmu pengetahuan di pesantren lalu terjun ke masyarakat. Di sini bagaimana kamu mendefinisikan dirimu, “ jelas Kalis kepada hadirin yang didominasi santri putri.

Kalis menambahkan bahwa media sosial hari ini telah mengkaburkan batasan-batasan. Semisal berbicara tentang cadar. Kita tidak bisa berbicara cadar karena murni ideologi. Dulu orang bercadar serba hitam. Tapi kini, kita akan temukan orang bercadar dengan berbagai warna. Hal ini pernah diamati Kalis di salah satu akun Instagram wanita bercadar. Setiap hari ia memposting gambar dan foto hasil bepergian ke luar negeri. Foto yang diposting menunjukkan ia tengah berpakaian Dengan nuansa warna-warni. Namun, ketika mengendorse jilbab mahal, ia akan menggunakan ayat-ayat Alquran yang menunjukkan makna perempuan harus menjaga diri di rumah dan tidak bercampur baur dengan laki-laki. Tentunya posingan-postingannya menujukkan adanya paradoks antara apa yang dikatakan ketikan mengendorse menggunakan dalil dan kehidupan peribadinya sendiri.

Hingga hampir pukul 12.00 WIB para peserta masih tampak antusias untuk menyimak pemaparan materi dan jawaban dari pernyataan yang diajukan oleh para peserta. Acara seminar ini ditutup dengan foto Bersama pemateri, peserta, dan panitia.

 

Reporter: Hafidhoh Ma’rufah

Editor: Afqo

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *