Meneliti Pesantren Krapyak, Miss Claire Hefner Kagum Potensi Diri Santri

durasi baca: 2 menit
Sumber Foto: @yayasan.alimaksum

Ruangan yang tak kuasa membendung deru suara itu terpaksa menyilakan godam palu dan timba jatuh dari pekerja bangunan untuk menyertai diskusi rutin bertajuk “Ngobrol Asyik dengan Miss Cantik” yang dihelat di aula komplek H Pondok Pesantren Ali Maksum, Jumat 27/07/2018.

Sementara Ms. Claire terlihat sangat menikmati suasana. Anak dari Prof. Robert W. Hefner itu terlihat nyaman dengan kepala berbalut jilbab, berpakaian serapi santri, dan benar dialah Miss Cantik. Ia membaur, dengan sesekali mata cemerlangnya mengamati wajah para santri. Menyejukkan.

Diskusi rutin yang digelar dan itu berjalan dengan asik. Perkenalan, bertukar ide dan pengalaman akademis, sampai cerita keseruan hidup di Yogyakarta menjadi serum penyemangat diskusi.

Dalam forum yang diikuti oleh santri-santri Pesantren Krapyak ini, peraih gelar Ph.D dari Emory University Atlanta dengan disertasi berjudul” Achieving Islam: Women, Piety, and Moral Education in Indonesian Muslim Boarding Schools” itu mencoba menjelaskan pengalaman hidup dan penelitiannya selama di Yogyakarta.

Baca Juga: Pengantar Sejarah Alquran (9): Penambahan Titik dan Harakat Pada Penulisan Alquran

“Sebelum tahun 1999 saya pernah bermukim di Yogyakarta, tepatnya di Jalan Kaliurang. Pada saat itu, saya lebih fokus pada pelancaran bahasa dan mendalami budaya Indonesia. Pasca itu, saya lebih sering ke Jogja, apa lagi dikala musim panas.” tutur Miss Claire dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih.

Selama dua puluh satu bulan (Oktober 2011-Juli 2013), Miss Claire meneliti bagaimana para remaja putri Muslim belajar dan terlibat dengan apa artinya menjadi saleh, terdidik, dan modern di Indonesia. Ia mengkomparasikan prestasi perempuan dan pengajaran moral di dua Pesantren, yaitu Pesantren Muallimaat Yogyakarta dan Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta.

Kenapa memilih dua pesantren tersebut? kata Claire, karena kedua Pesantren tersebut merupakan pesantren unggulan dari dua Ormas Islam terbesar di dunia:  Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Baca Juga: Pengantar Sejarah Alquran (8): Kodifikasi Alquran di Masa Khalifah Usman bin Affan

Dalam penelitiannya, Miss Claire berargumen bahwa penentuan pribadi dan sosial dari kekhawatiran etis yang berpusat pada pemahaman diri dan aspirasi sosial – melibatkan interaksi halus dengan praktik di sekolah, jaringan sosial, biografi dan kepribadian, merepresentasikan pendidikan dan cara mereka bersosialisasi terhadap lingkungan modern di Indonesia.

“Dan lingkungan pesntren Krapyak maupun Muallimaat sanggup mengitersepsi modernitas Indonesia secara halus di lingkungan Pesantren dan perilaku mereka sehari-hari”, terang sosiolog dan antropolog tersebut

Interaksi inilah yang diteliti oleh Miss yang sering mengikuti majlis salawat Gus Kelik, dalam upaya untuk menyumbangkan pemahaman yang lebih beragam tentang pendidikan, etika, dan subjektivitas Islam.

Turut hadir dalam acara tersebut yakni Bu Nyai Maya, Kiai Nilzam, dan Kiai Hilmy Muhammad sebagai dewan pengasuh Pesantren Krapyak. (rq)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *