Membendung Paham Radikal, Sahal : Santri Perlu Formulasi Jitu

1 year ago
durasi baca: 1 menit
Foto @den_tamyiz

Jakarta – Pembacaan terhadap konten-konten sensitif beralur sengit. Banyaknya narasi radikalisme dan terorisme yang menggelembung di media sosial melahirkan pemahaman keagamaan yang rentan terhadap kultur keindonesiaan.

Sebagai bangsa yang berbudi luhur dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban dalam wujud toleransi dan tenggang rasa terhadap sesama, perlahan mulai digerogoti oleh paham radikalisme keagaamaan.

Gejala itu yang menjadi pemantik diskusi dalam agenda “Kopdar Santrinet Nusantara” yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia di Jakarta, Sabtu (11/08/18).

“Pengarus-utamaan moderasi Islam itu sangat perlu” ujar Akhmad Sahal. “Selain semakin menggelembungnya narasi Islam radikal, Sahal melanjutkan, hingga menggerus nilai-nilai keindonesiaan, moderasi Islam perlu ditingkatkan intensitasnya di media sosial dalam ikhtiar mempertahankan dan melestarikan ”. imbuh Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU Amerika Serikat tersebut.

Karena itu, Sahal berpendapat hal yang harus diperhatikan sebelum benar-benar terjun dalam pertarungan arus informasi radikal ini adalah dengan memperhatikan, pertama, metode dan teknis dalam bermedia, kedua, diseminasi, tidak mendakwah pada orang yang sudah beriman atau orang yang sudah masuk dalam lingkaran kita. Ketiga, mengetahui latar belakang serta arah gerakan lawan. Keempat, membuat narasi besar dalam mempertahankan serta mengarus-utamakan moderasi Islam. (afqo)

Acara yang dihadiri oleh aktivis media sosial seluruh pesantren di Indonesia itu diselenggarakan oleh Kemenag dalam rangka Launching Hari Santri 2018 pada 22 Oktober mendatang. (afqo)      

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *