Membaca Perspektif Imam Ghozali di Era Disruptif

by Mei 17, 2019
Esai Warta 0   193 views
durasi baca: 3 menit


Oleh: Irfan Asyhari
Barangkali ini adalah zaman ketika makin banyak orang lebih suka berbicara keburukan orang lain ketimbang menghisab keburukan diri sendiri, lebih suka mendengar untuk membantah demi memuaskan hasratnya untuk dianggap benar dan paham agama dan paling berhak masuk surga. Internet, dan terutama melalui blog atau media sosial, mempercepat tumbuhnya tunas-tunas perpecahan ini. Internet menghadirkan “kecepatan” penyebaran yang mengagumkan. Ini bukan hal buruk jika dikelola dengan baik; namun, entah sadar atau tidak, kecepatan diam-diam menjadi semacam obsesi.

Memperbincangkan orang lain alias gibah ikut mengalami revolusi seiring dengan berkembangnya dunia digital saat ini. Di Indonesia, media sosial sudah menjadi kebutuhan komunikasi masyarakat, berbagai jenis media sosial tersedia dengan mudah. Dari tahun ke tahun pun media sosial ini semakin banyak, semakin canggih dan banyak menyediakan fitur – fitur tambahan yang bagus. Oleh karena itu semakin canggihnya media sosial akan memungkinkan orang untuk haus dan penasaran terhadap informasi yang ada di media sosial.

Bulan Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk menjadi pribadi muslim yang baik, menggunakan media sosial dengan bijak, menebar kebaikan, menjaga ucapan, menjauhi tindakan tercela, dan menghindari ghibah. Baik menjaga lisan maupun menggunjing melalui media sosial, status, grup whatsapp, atau media sosial lainnya. Meskipun lidah dan lisan diam, namun jika jari tangan mengetik status, berkomentar , update status yang bersifat ghibah, hasilnya pun sama saja ghibah . Jika seorang yang berpuasa tidak menahan diri dari perkataan kotor atau bohong, maka nilai puasanya akan berkurang, juga mengurangi pahala puasanya.

Sudah maklum, kalau lidah itu tidak bertulang. Pemiliknya bisa saja dengan mudah menggunakan semau hatinya tanpa ada kesulitan sedikitpun. Bahkan, pada saat tertentu lidah itu bisa menjadi lebih tajam daripada pedang yang selalu diasah setiap hari. Dengan lidah kita bisa menyampaikan maksud hati dengan mudah dan dengan lidah pula kita gampang terjebak pada perbuatan yang diharamkan, seperti ghibah atau menggunjing.

Ghibah (menggunjing) adalah, setiap yang dapat dipahami dengan maksud penghinaan, baik berupa perkataan, isyarat atau tulisan. Ghibah ini, juga bisa berupa penghinaan terhadap seseorang tentang agama, kondisi fisik, akhlak, harta dan keturunannya. Barangsiapa yang mencela ciptaan Allah, berarti ia telah mencela penciptanya.

Imam Ghazali dalam Ihyâ’ Ulûmid-Dîn menjelaskan panjang lebar masalah ghibah. Menurutnya ghibah atau menggunjing adalah membicarakan seseorang yang tidak ada tentang hal yang tidak disukainya seandainya ia mendengar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyeru pelaku perbuatan ini dengan sabdanya:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya, namun keimanan itu belum masuk ke dalam hatinya! Janganlah kalian mengghibah (menggunjing) kaum Muslimin. Jangan pula mencari-cari aib mereka. Barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, (maka) Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang Allah mencari-cari aibnya, niscaya Allah akan membeberkan aibnya, meskipun dia di dalam rumahnya.”

Terlalu sering kita jumpai di masyarakat gunjing menggunjing. Satu berita menyebar dari mulut ke mulut tanpa diteliti kebenarannya. Akhirnya seolah-olah hal yang digunjingkan itu adalah kebenaran/kenyataan. Hal ini tentu saja akan menjadi musibah bagi orang yang menjadi pusat gunjingan. Bukan hanya dirinya yang tercemar tapi juga keluarga besarnya ikut tercemar. Semuanya menjadi resah. Jika berita yang sudah meluas itu tidak dikonfirmasi maka timbullah fitnah yang amat kejam, karena yang dibunuh bukan fisiknya tapi adalah karakternya. Istilah kerennya adalah pembunuhan karakter. Yang lebih menyedihkan adalah jika yang terkena fitnah tersebut menyanggah bahwa hal itu tidak benar, tetapi khalayak percaya. Maka perlu tabayyun untuk mengklarifasi semua informasi atau berita yang diterima.

Jangan karena informasi dan berita yang tidak disenangi sehingga menimbulkan rasan-rasan (ghibah) kepada orang lain, lalu membesarkan berita yang tidak seharusnya. Tanpa kita sadari, perasaan negatif ini masih saja terselip di dalam hati. Meskipun sebenarnya tidak bermaksud untuk memendam rasa iri, namun perasaan ini bisa muncul begitu saja dan kapan saja.
Ada beberapa poin yang sebaiknya diperhatikan dalam bahasan ini, yaitu berita kejelekan orang lain bukanlah untuk disebar luaskan, tetapi sebagai bahan untuk instrospeksi diri. Selain itu, jika tersebar berita atau gossip maka kita harus menyelidiki terlebih dulu kebenarannya. Jangan sampai tanpa sadar kita terlibat dalam penyebaran berita palsu, yang sangsinya amat berat di sisi Allah.

Watak buruk dari kelanjutan sifat tersebut biasanya adalah merendahkan orang lain. Amal ibadah yang melimpah, apalagi disertai pujian dan penghormatan dari masyarakat sekitar, sering membuat orang lupa lalu dengan mudah menganggap remeh orang lain. Orang-orang semacam ini umumnya terjebak dengan penampilan luar. Mereka menilai sesuatu hanya dari yang tampak secara kasat mata. Padahal, bisa saja orang yang disangkanya buruk, di mata Allah justru lebih mulia karena lebih banyak memiliki kebaikan namun lantaran bukan tipe orang yang suka pamer amal itu pun luput dari pandangan mata kita. Tak ada manusia yang sempurna. Manusia yang mulia ialah yang mau terus belajar dari masa lalu dan memperbaiki setiap kesalahan yang diperbuat serta tidak mengulanginya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *