Mbah Warson, Wajah Keteduhan hingga Keteladan

Oleh: Hayatun Amanah

Beberapa hari sebelum menulis kisah ini, saya dapat pesan lewat Whatsapp dari salah satu warga Halqimuna panitia untuk membuat tulisan bebas tentang Komplek Q. Tentu saja dengan seribu satu cerita indah yang menyertainya. Masih kata sang pengirim pesan, hal ini dalam rangka memeriahkan harlah Komplek Q.

Dengan modal nekat karena tidak punya pengalaman menulis sedikitpun, saya mengiyakan. Tentu saja dengan diiringi rasa tidak percaya diri.
Memulai corat-coret tentang Komplek Q, segera saja menyeruak beribu timbunan kenangan Komplek Q di benak saya.

Tentang sosok Bapak, kiai idola kami para santrinya, Ibu Nyai yang super cantik dengan ke-istiqomah-an beliau, Mbak Aina yang membuat saya iri kalau sudah melihat sosoknya yang tinggi dan anggun (maklum saya termasuk golongan “cewek tinggi minimal lebar maksimal”), Gus Nanang yang kalem sampai terkadang saya dan santri lainnya penasaran ingin sekadar melihat, Gus Kholid dengan gaya khas beliau saat mengisi acara khitobah rutin malam Jumat untuk pertama kalinya (belum terlalu sering berinteraksi, saya keburu boyong) dan tentu saja queen Komplek Q Mbak Inez yang kecantikannya tak terlupakan oleh saya.

Selalu saja kalau sudah membuka lembar kenangan tentang Komplek Q, campur aduk rasa di dada. Haru, sedih, senang, kangen, bangga dan beruntung bisa ngalap berkah sama Bapak. Sedikit penyesalan karena dulu kurang tenanan mengajinya. Komplek Q, oh Komplek Q.

Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi kenangan seputar beruntungnya saya bisa ngaji dan ngalap berkah dengan Bapak, K.H. Ahmad Warson Munawwir. Seorang kiai yang sungguh luar biasa, lembut, dekat dengan santri, memiliki bahasa kasih sayang dengan para santri yang begitu menonjol, sangat terbuka untuk berembuk dengan para santri khususnya pengurus dalam upaya memajukan Komplek Q, memberi kebebasan penuh pada jajaran pengurus menuangkan ide-idenya, ide khas anak muda, dan tentu saja tak perlu dibicarakan lagi adalah kealiman beliau.

Sekali lagi saya ingin berujar betapa beruntungnya saya bisa ngalap berkah dengan Bapak dan berkesempatan menjadi salah satu santri beliau. Ada beberapa catatan kecil nan indah tentang Komplek Q, khususnya sosok Bapak, yang akan saya bagi. Masih sempurna tersimpan di otak saya setiap hari Minggu pagi seluruh santri ngaji bandongan di musala barat dengan Bapak. Ngaji yang sangat menyenangkan bagi saya.

Betapa tidak, durasi yang lama (sekitar dua jam) kami bisa bersama Bapak, ngaji Nasaihul Ibad (kalau keliru mohon dimaafkan), tidak melulu ngaji tentunya. Selalu terjadi dialog-dialog yang begitu asyik dengan Bapak, cerita-cerita masa lalu Bapak yang bagi saya dan teman teman sangat menarik, guyonan-guyonan beliau yang bermutu dan menyegarkan.

Ada satu kekhasan Bapak yang sampai sekarang sering membuatku tersenyum sendiri. Saat ngaji Minggu pagi, Bapak selalu mengabsen para santri. Jika beliau ketemu nama-nama tertentu, beliau akan berseloroh, “Diet loh, kapan awakmu arep diet?”[1] Semua santri pun tertawa. Saat itu saya merasakan betapa saya dan teman-teman yang lain begitu di-eman beliau.

“Ha ya diet,” seloroh Bapak saat saya berpapasan dengan Bapak waktu akan berangkat kuliah. Bapak selalu pintar membuat santrinya tersenyum bahagia karena merasa begitu diperhatikan. Untuk hal yang satu ini, selorohan diet ala Bapak, sampai hari ini menjadi spirit tersendiri (bahasa saya mberkahi). Berkah untuk kesehatan saya. Mengajak saya untuk selalu semangat berdiet ria mengingat begitu cepatnya body ini melar dan hobi makan saya yang sulit dikompromi.

Ada hal lain yang begitu lekat di benak saya. Sudah menjadi kebiasaan Bapak sering memanggil pengurus untuk membicarakan banyak hal. Bagi saya ini berkah yang sungguh luar biasa, dapat kuliah umum super keren dari mahaguru secara gratis dan tak jarang empat mata.

Bukan hanya ilmu keagamaan saja, tapi juga dari dunia politik, sastra, sosial, ekonomi, dan dunia yang sangat asing bagiku, dunia permobilan. Dan kalau sudah masalah permobilan, biasanya saya matur ke Bapak, “Bapak, saya tidak tau sama sekali masalah mobil”. Mendengar hal itu, Bapak akan menjawab dengan senyum khas nya, “Tak dungakke suk awakmu nduwe mobil luwih apik”[2].

Doa Bapak memang tak pernah berhenti untuk kami. Bahasa kasih yang luar biasa nan dalam merupakan sebuah keharusan untuk dicontoh oleh para santrinya.

Masih lekat di ingatanku bagaimana mengagumkannya cara Bapak menghargai santri-santrinya. Kalau beliau nimbali saya karena ada hal penting yang akan dingendikakke di jam-jam yang pada umumnya para santri sedang tidur siang, selalu diberi embel-embel, “Undangke Haya, nek eseh turu ojo digugah ngenteni tangi.”[3]

Sampai-sampai saya rikuh sendiri dan minder. Siapa aku? Bagi saya ini adalah ilmu kehidupan yang super istimewa, bekal buat saya untuk mampu secara apik berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Tergambar jelas bagaimana Bapak mengajarkan pada saya, pada kita para santrinya, untuk senantiasa menghargai orang lain bahkan jikapun orang itu bukan siapa-siapa.

Ada juga cerita lain yang menurut saya penting untuk saya bagi. Pada jaman saya mondok, Indonesia sedang dipimpin oleh Gus Dur. Pastinya, secara otomatis dunia pesantren akan sangat merasakan gejolak dinamika politik yang terjadi pada saat itu. Dan sudah bisa ditebak di sela-sela ngaji dan interaksi sehari-hari, analisa politik kualitas tinggi gratisan saya dapat dari Bapak. Meskipun saya tidak mempunyai bekal yang memadai untuk mendengar dan membicarakan tema-tema politik yang beliau sampaikan, tetapi dari sikap dan cara Bapak ngendika terlihat bahwa beliau selalu menganggap saya bisa memahaminya. Beliau memosisikan saya sebagai lawan bicara yang pantas. Betapa Bapak tidak pernah meremehkan lawan bicaranya meski hanya dengan saya santri beliau, santri yang tidak bermutu.

Saya masih mengingatnya dengan baik, dimana kala itu kami diwajibkan oleh Bapak untuk istighasah tiap malam saat Gus Dur digoyang isu lengser dengan skenario busuk ala politikus-politikus gila ndunya. Paginya, Bapak selalu menanyakan ke pengurus apakah tadi malam istighasahnya berjalan atau tidak.

Ketika pada akhirnya Gus Dur sukses dilengserkan oleh mereka, Bapak terlihat begitu sedih saat ngendika tentang lengsernya Gus Dur. Beliau tidak ngendika banyak, tidak berujar kebencian sedikitpun terhadap mereka yang sukses melengserkan Gus Dur. Walaupun suasana sedih dan terpukul begitu terlihat di wajah Bapak, tetapi kalimat-kalimat bijak dan teduhlah yang terucap dari beliau.

Bandingkan dengan keadaan saat ini, apa lagi yang berhubungan dengan politik. Hampir setiap hari kita mendengar dan membaca ujaran kebencian yang begitu kotor. Semoga dengan segala keterbatasan yang saya miliki, dalam keadaan dan situasi tidak nyaman sekalipun, saya mampu untuk belajar menahan diri tidak mengumbar ujaran kebencian seperti yang telah Bapak ajarkan kepada para santrinya.

Bagi saya pribadi, semangat dan upaya untuk mampu menghargai orang lain, berlaku dan berucap santun, dan menumbuhkan jiwa penuh kasih adalah usaha yang tidak mudah. Dan upaya yang tidak mudah itu selalu saja terasa seolah-olah ada yang menuntun, yang kehadirannya kasat mata tapi senantiasa hadir dalam spirit hidup saya.

Keluasan ilmu dan mulianya akhlak Bapak yang saya saksikan sehari-hari pada jaman saya mondok dulu menjadi bekal yang teramat berharga bagi saya dalam mengarungi kehidupan fana ini.

Di posisi inilah saat secara fisik saya tidak lagi sedang nyantri dengan Bapak, berkah Bapak begitu terasa, mbarokahi kami santrinya. Ilmu yang sedikit mampu saya serap menjadi pegangan dan penuntun hidup, berusaha untuk mencontoh pembelajaran-pembelajaran agung yang telah Bapak berikan. Oleh karena itu, saya semakin yakin berprinsip bahwa belajar harus mempunyai guru sebagai penuntun yang sanad. Prinsip ini harus kita pegang sampai kapanpun.

Bapak, Ibu dan keluarga, maafkan saya santri panjenengan yang sering berbuat khilaf. Terima kasih tidak terhingga atas semua kebaikan dan kemuliaan yang telah kami terima. Betapa kami sangat beruntung menjadi bagian dari keluarga besar Komplek Q.

Teriring rasa cinta yang begitu dalam doa kami, semoga Bapak K.H. Ahmad Warson Munawwir ditempatkan pada tempat yang paling mulia dan keluarga selalu dilimpahi berkah oleh Allah SWT. Lahu Al-Fatihah. Tak terasa air mata ini ndredes deres tanpa dikomando. Sekian catatan kecil dari saya yang sangat jauh dari memadai. Atas segala kekhilafan dan kekurangan, saya mohon maaf sedalam-dalamnya. Teriring harap semoga bermanfaat.

[1] “Diet loh, kapan dirimu akan diet?”
[2] “Saya doakan kamu nanti punya mobil lebih bagus.”
[3] “Panggilkan Haya, kalau masih tidur jangan dibangunkan, tunggu dia bangun.”

*Tulisan ini ditulis dalam rangka memperingati hari lahir Komplek Q yang ke-28
dan menjadi salah satu tulisan yang dibukukan dalam “Aku dan Komplek Q”

Tinggalkan Balasan