Mbah Ali: “Zainal kui cagake langit. Durung kiamat yen Zainal esih ning dunyo.”

7 months ago
durasi baca: 2 menit

Berbicara tentang KH Zainal Abidin Munawwir, tidak dapat dipisahkan dari wira’inya beliau.

Beliau merupakan ulama yang sangat hati-hati terhadap barang syubhat. Dalam mauidzah khasanah Haul Almaghfurlah KH Zainal Abidin Munawwir ke-5 yang disampaikannya, KH Yahya Cholil Staquf menceritakan bahwa Mbah Zainal pernah menjadi DPRD DIY. Saking wira’inya Mbah Zainal sampai gajinya tidak pernah diambil karena beliau takut uang tersebut tercampur bermacam-macam uang pajak yang syubhat.

Namun beliau masih bisa menabung untuk mewujudkan cita-cita beliau, yaitu menunaikan ibadah haji. Uang tabungan Mbah Zainal juga selalu dizakati setiap tahunnya meski belum mencapai satu nisab.

K.H. Yahya Cholil Staquf juga menceritakan bahwa ketika KH Zainal Abidin Munawwir akan berangkat haji, pintu, jendela, hingga meja dan kursi yang berada di rumah beliau dilepas dan dipasrahkan kepada pengurus pondok. Adapun kayu-kayu yang dijadikan perkakas rumah beliau dulunya merupakan kayu bekas pagar pondok. Beliau menyerahkan kembali kayu milik pesantren tersebut agar digunakan oleh para santri.

Mbah Zainal hanya bergantung kepada Allah swt. Tidak pernah khawatir dan memusingkan rezeki yang sudah pasti Allah berikan kepada hamba-hambaNya. Seluruh hidupnya digunakan untuk mengabdi kepada Allah swt. Waktu beliau habis untuk berzikir, berdoa, dan mengajar para santri.

Semoga hal ini dapat dijadikan sebagai penyemangat bagi kita untuk belajar menjaga kesucian lahir dan batin. Meskipun jika dibandingkan dengan Mbah Zainal tidak ada apa-apanya. Tirakat dan kesungguhan Mbah Zainal mengabdi kepada Allah mengingatkan pangandikan K.H.Ali Maksum, guru Mbah Zainal sekaligus kakak ipar beliau, “Zainal kui cagake langit. Durung kiamat yen Zainal esih ning dunyo.” (isnarr/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *