Kesan Kasih Mbah Ali Maksum di Mata Santri Kinasih

by Desember 30, 2019
Esai Masyayikh 0   316 views
durasi baca: 3 menit

Kehidupan pesantren selalu menyimpan segudang cerita dan kenangan bagi insan-insan yang pernah bersimpuh di dalamnya. Kenangan yang terpendam berpuluh-puluh tahun jauh di dasar tumpukan-tumpukan peristiwa seolah muncul ke permukaan ketika tokoh kunci dalam peristiwa diperdengarkan kembali. Hal ini tampaknya dialami semua santri yang pernah mondok di suatu pesantren, tak terkecuali santri pondok Krapyak.

Kedekatan santri dengan kiai mengambil sebagian memori penting dalam benak dan laku kehidupan seorang santri. Mbah Ali Maksum, begitu sapaan akrab santri sekarang yang mencoba mengenalnya, baik dari karya-karyanya maupun melalui cerita santri alumni Krapyak sebelum tahun 89-an.

Dalam suatu cerita salah seorang santri kinasih Mbah Ali yang nyantri pada era 70-an, mengisahkan. “Mbah Ali itu seorang yang sangat dekat dengan santrinya. Beliau sangat memperhatikan semua santrinya, baik ketika masih nyantri di Krapyak ataupun sudah menjadi alumni…. Pernah suatu ketika, saat saya pulang belajar dari Madinah saya bertemu dengan Mbah Ali. Tampaknya Mbah Ali sangat memperhatikan keadaan santrinya sampai hal-hal yang menyangkut privasi santri seperti menikah juga ditanyakan.”

Dalam suatu obrolan bersama Mbah Ali, beliau menyinggung masalah perjodohan. Beliau mengatakan kepada saya kurang lebih  “iki ono santri ayu apal Qur’an, kepiye?

Mbah Ali ketika itu bermaksud menjodohkan saya dengan gadis pilihannya yang menurut ciri-cirinya cantik, putra kiai, dan hafal Qur’an. Lantas sambil malu-malu saya pun menjawab bahwa saya belum siap untuk menikah pada waktu itu. Perlu diketahui gadis yang dijodohkan tersebut akhirnya menikah dengan santri yang secara umur masih di bawah saya. Dan itu juga atas perjodohan Mbah Ali.

Masih banyak sisi-sisi kedekatan Mbah Ali kepada santrinya yang memberikan kesan pada setiap santri yang menangi Mbah Ali, entah karena pernah dihukum, ketika sorogan, dan banyak lagi kenangan dekat dengan Mbah Ali.

Baca Juga: Ketika Kiai Hasan Abdillah Dibina KH Ali Maksum: Dari Novel, Bioskop hingga ‘Proposal Hidup’

—-

Kesan masing-masing santri terhadap kiainya tentu berbeda. Lain masa, lain cerita. Mungkin adalah ungkapan yang cocok untuk mengisahkan pernak-pernik kehidupan pesantren dari waktu ke waktu. Seperti yang diceritakan oleh salah satu santri Mbah Ali  yang tak lain juga penulis buku berjudul KH. Ali Maksum: Perjuangan dan Pemikiran-Pemikirannya.

“Hampir tiap hari Mbah Ali itu keliling membangunkan santri untuk jamaah shalat Shubuh. Sebenarnya untuk kiai-kiai yang besar seperti Mbah Ali cukup mengutus pengurus untuk melakukan tugas tersebut, namun lain dengan Mbah Ali, dimana setiap hari beliau membangunkan sendiri santri-santrinya.”

Mbah Ali juga sering memanggil santri-santrinya untuk ke ndalem, entah mendapat hukuman atau perintah. Kamar beliau itu seperti studio yang ada speakernya menyambung ke semua kamar santri. Santri-santri sering dipanggil untuk mijeti (memijat). Tapi jangan hanya dilihat mijetinya saja, tapi lebih pada kedekatan dengan santri-santrinya.

Ketika mijeti, santri yang terindikasi nakal masih sempat saja mengambil jeruk, rokok milik Mbah Ali. Meskipun mengetahui hal tersebut, Mbah Ali membiarkannya dalam arti mengikhlaskan untuk digunakan santri-santrinya.

Ada hal menarik saat mijeti Mbah Ali, dimana ketika dipijeti, Mbah Ali seolah-olah tidur, tapi ketika santri mau pergi Mbah Ali langsung bangun. Ini menjadi satu kesan lucu sekaligus bukti kedekatan seorang santri kepada kiai, tidak adanya batas antara hubungan santri dengan kiai, pemimpin pesantren atau bahkan pemimpin tinggi NU waktu itu.

Sikap dalam kepemimpinan Mbah Ali juga bisa dikatakan termasuk “seni dalam memimpin”. Untuk mengenal dan dekat pada santrinya, Mbah Ali hafal nama-nama santrinya. Tiap pagi ada sorogan  dan pengeras suara dihidupkan. Sekali sorogan ada 6-7 dan Mbah Ali diam, namun ketika salah langsung membetulkan. Kok bisa?

Hal demikian sehingga santri-santri banyak sekali kenangannya karena selalu ada tanda tangan Mbah Ali pada setiap setoran.

Perhatian terhadap santri juga ditunjukkan Mbah Ali dengan menggoda santri-santrinya. Misalnya ketika ada seorang santri yang membeli makan di luar pondok dan kebetulan lewat depan ndalem, maka Mbah Ali akan menyuruh untuk berhenti dengan mengatakan “mandek mandek mandek, gowo opo kui, tuku kok meneng wae” (berhenti, berhenti, berhenti, bawa apa itu? Beli sesuatu kok diam aja.) dengan maksud untuk mengambil sedikit ataupun banyak dari makanan santri.

Mbah Ali sangat suka menggoda santri-santrinya dan santrinya pun justru malah senang merasa diperhatikan kiainya. Sisi lain juga dapat dipahami bahwa Mbah Ali itu memiliki selera humor yang tinggi, barangkali ini juga sedikit banyak memberikan kesan bagi santri-santri Krapyak.  (nm)

 

*Tulisan ini bersumber dari wawancara bersama KH. Muhadi Zainudin pada Juni 2019 dan KH. Zuhdi Mukhdlor pada Juli 2019 (keduanya adalah santri KH. Ali Maksum), oleh Muhammad ‘Ainun Na’iim, Santri Komplek Nurussalam dan Pegiat Pemikiran KH Ali Maksum.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *