Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H Kompleks Nurussalam : “Lakumu, Tuturmu, Tauladanku Wahai Muhammadku”

by Desember 20, 2016
Event Warta 0   382 views
durasi baca: 3 menit
img-20161214-wa0000

KH. Fairuzi Afiq, Pengasuh PP. AlMunawwir Kompleks Nurussalam, Foto by. AlMunawwir.com

YOGYAKARTA, AlMunawwir.com, Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Nurussalam telah mengadakan acara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan pada tanggal 13 Robiul awwal 1438 H / 13 Desember 2016. Acara sekitar pukul 20.30. Bertempat di musholla komplek Nurussalam Putri. Acara ini diikuti oleh seluruh santri Nurussalam tanpa terkecuali, dihadiri pula oleh para dewan pengasuh komplek Nurussalam dan juga tamu undangan dari komplek lain.

Tahun ini, dengan mengusung tema Lakumu, Tuturmu, Tauladanku Wahai Muhammadku, bertujuan untuk mengenang dan menambah rasa rindu kita semua pada baginda Muhammad SAW.

“Adanya acara ini juga diharapkan dapat menambah rasa cinta kita semua kepada Rasulullah. Karena sudah seharusnya perilaku serta tutur kata beliau, insan yang paling mulia itu kita kenang agar dapat kita jadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari” tutur ketua panitia, Lutviyana Nur Hidayah.

Senada dengan penuturan ketua panitia, ketua komplek Nurussalam putri, Ummu Shodiqoh juga menuturkan, “Mengapa kita memperingati hari Maulid ini? Karena beliau baginda Muhammad SAW adalah Nabi dari kalangan manusia, yang mana bisa kita jadikan suri tauladan, yang berbeda adalah Nabi Muhammad SAW adalah manusia namun bukan manusia biasa, melainkan Beliau adalah Permata diantara kita yang bebatuan biasa.”

Tak ketinggalan sambutan yang disampaikan oleh Abah KH. Fairuzzi Afiq selaku pengasuh komplek Nurussalam, beliau menyampaikan “Pelaksanaan peringatan maulid Nabi ini sebagai salah satu bentuk ungkapan rasa cinta kita sebagai ummat beliau, bahwa kita rindu, ingin tau bagaimana perjalanan beliau.”

Beliau KH. Fairuzi Afiq dalam sambutannya juga menuturkan rasa keprihatinan beliau terhadap munculnya ormas-ormas, yang dewasa ini entah dari mana dan atas dasar apa mudah sekali membid’ahkan bahkan menganggap kegiatan maulid sebagai suatu bentuk kesyirikan.

img-20161213-wa0009

Ratusan Santri Menghadiri Acara Maulid Nabi Kompleks Nurussalam,Foto by. AlMunawwir.com

Padahal telah dikisahkan, Abu Lahab saja yang sudah jelas syirik dan masuk neraka, mendapatkan keringanan siksa dengan di angkat dari neraka tiap hari senin. Karunia itu diberikan Allah kepadanya karena Abu Lahab dulu pada saat Rasulullah lahir dia merasa bergembira. Rasa kegembiraannya itu dia ungkapkan dengan membebaskan budak yang bernama Su’aibah. Jika Abu lahab saja dapat bergembira akan kelahiran Rasulullah sudah seharusnya kita sebagai umat muslim harus merasa lebih gembira dengan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW.

Selayaknya perayaan-perayaan maulid pada umumnya, yang wajib dilakukan ketika perayaan maulid Nabi adalah pembacaan maulid Diba’. Pada kesempatan ini ditugaskan kepada grup Hadroh Rayyanaya dari komplek Nurussalam putri. Lantunan sholawat senantiasa bergema dari lubuk-lubuk hati para pecinta. Merindui sang kekasih permata hati, Rasulullah SAW.

Seusai pembacaan maulid, acara dilanjutkan dengan mauidzoh khasanah yang disampaikan oleh beliau Dr. Moh. Tantowi, M. Ag. Dalam mauidzahnya beliau menekankan ada 3 aspek penting pada diri Rasulullah SAW yang yang patut dicontoh, yakni Surah, Sirah, dan Sarirah.

Suatu poin penting dalam memandang Sunnah-sunnah ini, para ulama berbeda pendapat mengartikannya, ada yang mengartikannya dengan melihat maqosid (Tujuan) Nabi Muhammad melakukan hal tersebut. Ada pula yang langsung meniru beliau tanpa melihal maqosid-nya terlebih dahulu, artinya ada sahabat-sahabat yang langsung meniru secara total sunnah-sunnah nabi tanpa melihat maqosid-nya terlebih dahulu.

Termasuk suatu kesunahan, seperti yang dikatakan imamuna Abu Hamid Muhammad Al Ghozali yakni meniru apa yang dilakukan nabi dalam konteks Surah atau bentuk bentuk secara fisik beliau. Kesunnahan kedua yang harus ditiru dari Nabi adalah Sirah yakni perilaku Nabi. Dan yang ketiga serta yang paling penting adalah Sarirah yakni cara berfikir baginda Muhammad SAW.

Cara Nabi berfikirnya selalu mengedepankan Rahmatan lil ‘Alamiin penuh dengan kasih sayang, yang memandang kepada sesama dan ummat dengan pandangan yang penuh dengan kasih sayang melalui perspektif Tuhan, bukan dengan pandangan ghodob. Kemarahan dan Permusuhan dan bukan dengan pandangan subjektif sesuai kepentingan pribadi, itu semua adalah 3 hal penting yang harus kita tiru dari Nabi Muhammad SAW.

Acara ditutup dengan doa oleh Dr. Moh. Tantowi, M. Ag. Semoga kita senantiasa terus diberi kerinduan kepada Baginda Nabi, dapat meneladani akhlaknya, serta mendapatkan syafaatnya di yaumul qiyamah. Dan semoga lantunan sholawat tidak hanya bergema pada bulan maulid saja, melainkan setiap hari selama nafas masih diberikan pada masing-masing diri. (Faridz/Ilma|ed:Wiwid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *