Majlis Haul Komplek L, KH Muslim Nawawi Bocorkan Resep Hidup Mulia

by Februari 6, 2020
HAUL Warta 0   415 views
durasi baca: 4 menit

KH Muslim Nawawi Abdul Aziz menyampaikan Mauidhoh Hasanah dalam Haul KH M Munawwir di Komplek L. Doc: Komplek L (Istimewa)

Almunawwir.com – Semarak peringatan Haul Akbar KH  Muhammad Moenawwir ke-81 begitu terasa di bumi Krapyak Yogyakarta. Terhitung sejak seminggu sebelum puncak acara haul, lantunan ayat suci Al-Qur’an sudah menggema di langit Krapyak. Agenda muqoddaman dan sima’an al-Qur’an dilaksanakan di beberapa tempat di sekitaran bumi Krapyak.

Peringatan haul almaghfurlah KH Muhammad Moenawwir merupakan sebuah momentum besar sebagai wujud rasa ta’dzim dan khidmah seorang murid kepada sang Muassisul-Ma’had (Pendiri Pondok Pesantren). Oleh karena itu, beberapa komplek di Pondok Pesantren Al Munawwir ikut menggelar serangkaian agenda haul di kompleknya masing-masing, seperti halnya komplek “L”.

Komplek yang diasuh oleh KH Muhammad Munawwar Ahmad ini memulai rangkaian acara haul  dengan Muqoddaman Al-Qur’an setiap selesai shalat Maghrib sejak hari Jum’at (31/01/2020) sampai hari Minggu (2/2). Kemudian, pada Minggu pagi semua santri melaksanakan Roan Akbar dan dilanjut dengan Majelis Sima’an Al-Qur’an sampai hari Senin sore (3/2). Majelis Sima’an sendiri terbagi menjadi tiga bagian, yakni sima’an kasepuhan, sima’an alumni, dan sima’an santri El-Hufadz.

Adapun doa khataman Al-Qur’an dilakukan pada hari Selasa (4/2) sesudah shalat Maghrib di halaman mushala komplek “L” sekaligus dilanjut dengan  Majelis Haul dan Temu Alumni.

Acara Majelis Haul ini dihadiri oleh para Kiai dan Habaib. Di antara yang hadir adalah Habib Shaleh al Haddad, Habib Umar bin Qutban, Habib Taufiq Ilham al Kaff,  KH Muslim Nawawi (Pengasuh PP An-Nur Ngrukem Bantul), dan KH Chafidz Tanwir (Pengasuh PP Almunawwir Ndlajo Klaten). Selain itu acara tersebut juga dihadiri oleh wali santri, alumni dan santri-santri Komplek “L” sendiri. Dalam rangkaiannya para jamaah yang hadir begitu khidmat mendengarkan mauidzah hasanah yang disampaikan oleh KH Muslim Nawawi.

Membahas kisah Simbah Munawwir tidak terlepas dari disiplin dan totalitas beliau terhadap Al-Qur’an yang begitu agung. Selain beliau termasuk ulama Ahlul Qur’an nusantara, beliau juga paham dengan kitab-kitab klasik pada umumnya. Karena sebelum simbah Munawwir menimba ilmu di Makkah dan Madinah, beliau sempat berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan dan berbagai pondok pesantren lainnya. Pernyataan ini dituturkan oleh KH Muslim Nawawi selaku pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem Bantul dalam puncak acara Majelis Haul, pada hari Selasa malam (4/2) bertempat di halaman Mushola Pondok Pesantren Almunawwir Komplek L.

Setiap manusia baik muda atau tua, pejabat atau karyawan, atau apapun statusnya sudah barang tentu ia menghendaki hidup yang mulia. Di sini ada resep supaya seseorang mendapatkan kemulian. Hal ini telah dibuktikan langsung oleh simbah Munawwir dan para ahli quran lainnya. Apa resepnya? Yaitu kalau kita ingin mulia harus berhubungan dan berinteraksi dengan hal-hal yang mulia, dengan pelantara demikian insyaAllah kita dikehendaki menjadi orang yang mulia.

Kira-kira di dunia ini yang jelas-jelas mulia dan mudah ditemukan disekeliling kita, bahkan bila kita meragukannya dianggap kafir. Apakah itu? Yaitu Al-Qur’an. Lanjut Pengasuh An-Nur Ngrukem dalam ceramahnya.

Dengan mendekatkan diri dengan Al-Qur’an, artinya membaca dan memahami kandungan maknanya. Seseorang akan mendapatkan kemulian Al-Qur’an, sebagaimana seorang yang selalu bersama dengan orang yang menjual minyak wangi, tidak membelinya pun ia akan tetap mendapatkan keharuman dari minyak wangi tersebut.

Selanjutnya Kiai Muslim menjelaskan bahwa kemulian Al-Qur’an tidak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi benda mati pun mendapatkan kemulian karenanya. Seperti halnya kertas putih, sebelumnya ia tidak memiliki nilai kesakralan tetapi setelah kertas putih itu dituliskan ayat-ayat Al-Qur’an bahkan menjadi mushaf, yang dulunya kertas putih tidak ada nilainya sekarang menjadi suci.

Bulan Ramadhan sebelumnya merupakan bulan yang biasa-biasa saja, tetapi karena berhubungan dengan diturunkannya Al-Qur’an (nuzululqur’an), bulan Ramadhan menjadi bulan yang paling mulia (sayyidus-syuhur). Termasuk juga malam yang paling mulia adalah malam lailatul qadar, kenapa? Karena malam lailatul qadar merupakan malam yang dipilih Al-Qur’an.

Berkaitan dengan kemulian-kemulian Al-Qur’an, putra dari KH Nawawi Abdul Aziz ini mengisahkan sejarah yang berhubungan dengan Ny Khadijah binti Hasbullah, yakni istri kelima sekaligus terakhir Kiai Munawwir. Hasbullah, nama terakhir setelah Ny Khadijah merupakan santri dari Kiai Munawwir sendiri. Walaupun Mbah Hasbullah sudah menjadi kiai di desanya, tetapi beliau masih turut mengaji dan mengabdi kepada gurunya.

Baca Juga: Gus Ali Sebut Mbah Munawwir Ulama yang Konsisten dengan Perkataan dan Perbuatan 

Dikisahkan tatkala Mbah Hasbullah khatam mengaji sambil membawa beras dan sebagainya termasuk juga Ny Khadijah turut diajak matur kepada gurunya. Ketika sedang matur, Kiai Munawwir bertanya kepada Mbah Hasbullah, Kiai Munawwir berkata,

“Kiai Hasbullah, niku sinten?” (Kiai Hasbullah, itu siapa?)

Lalu Mbah Hasbullah menjawab, “niki putri ndalem romo yai, nggih monggo saestu dikersake” (ini putri saya pak yai, silahkan dikehendaki).

Begitu ta’dzimnya seorang murid kepada guru, tanpa pikir panjang putri Mbah Hasbullah dinikahkan dengan sang guru. Sehingga beliau merupakan murid sekaligus mertua dari Kiai Munawwir. Padahal sebelumnya Ny Khadijah pernah dilamar oleh seorang yang alim, yaitu Mbah Marzuki. Namun jodoh berkata lain, Ny Khadijah belum siap menerimanya. Oleh sebab itu, dari pernikahan Kiai Munawwir dan Ny Khadijah menurunkan putra-putri yang alim dan shaleh-shalehah, yaitu Ny Walidah Munawwir (istri KH Nawawi Abdul Aziz, PP An-Nur, Ngerukem), KH Ahmad Munawwir (Pendiri PP Almunawwir Komplek L, Krapyak), dan Ny Zuhriyyah Munawwir (istri KH Mubassyir Mundzir, PP. Maunah Sari, Kediri).

Ketiga putra-putri dari pasangan Kiai Ahmad dan Ny. Khadijah semuanya min ahlil qur’an. Jadi ketiganya telah dididik dengan Al-Qur’an sejak usia dini. Jelas Kiai Muslim Nawawi.

Lalu beliau mengisahkan sosok ibundanya yaitu Ny. Walidah yang ditinggal oleh Kiai Munawwir pada usia sekitar 5/6 tahun. Namun demikian, sang Ibu dapat melanjutkan hafalan Al-Qur’an atas berkat bimbingan KHR Abdul Qadir Munawwir. Begitu pula dengan Kiai Ahmad Munawwir, semenjak usia kecil beliau sudah bisa menghafal sekitar 5 juz, padahal ketika itu beliau masih belum pandai membaca. Bahkan ketika beliau mengaji lalu tidak ada yang mengajar, beliau menangis.

Kiai Muslim Nawawi mengkisahkan bahwa Ny Zuhriyyah sebelum menikah, pernah riyadhah setiap hari mengkhatamkan Al-Qur’an selama 3 tahun. Hal ini beliau barengi dengan berpuasa setiap harinya. Disamping beliau tetap memenuhi kewajiban anak terhadap orang tuanya.

Terkadang Ny Zuhriyyah dapat mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 35 juz dalam sehari. Artinya beliau khatamkan 30 juz Al-Qur’an, lalu 5 juz sisanya beliau lantunkan sambil melakukan aktivitas rumah tangga seperti memasak, menyapu, dsb. Hal ini beliau lakukan sambil menunggu adzan Maghrib dikumandangkan.

Sebagai penutup beliau berpesan “saya hanya dapat menceritakan apa yang saya ketahui, semoga apa yang dikisahkan, bisa dijadikan sebagai spirit kita semua dalam mengabdi kepada Al-Qur’an dan semoga mendapatkan barakah serta kemuliaan Al-Qur’an”. Tentunya semoga kita semua dapat mengambil ibrah dalam meneladani sosok simbah Munawwir dan para dzuriyahnya dalam berkhidmat demi menegakkan pilar-pilar agama.

Peringatan haul ini dipandu oleh pembawa acara yakni saudara Achmad Soib dan saudara Chamdan. Dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh Ustaz M Itsnaini. Lalu dilanjutkan dengan acara pembacaan tahlil dan doa yang dipimpin oleh KH Chafidz Tanwir. Kemudian mauidzah yang disampaikan oleh KH Muslim Nawawi. Lalu dilanjutkan dengan pembacaan hamdalah oleh para hadirin yang menandakan akhir dari rangkaian acara haul Pondok Pesantren Almunawwir Komplek L.

 

Oleh: Irfan Fauzi

Editor: Ajie Prasetya

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *