Mahligai Mbah Ali

3 years ago
durasi baca: 2 menit

Krapyak, sudah menjadi tradisi apabila Haul atau peringatan kematian itu dilaksanakan oleh kaum Nahdliyin. Adalah upaya untuk mengingat kembali raut kebahagiaan sosok  yang dihauli.

Meneladani kembali ahwal serta amaliah yang dihauli. Mengimani beberapa mutiara hikmah yang terpancar dari perkataan maupun perilaku yang dihauli. Ala kulli hal, fenomena Haul merupakan dinamika positif-reflektif—atau bahasa pesantrennya adalah Barakah—dari  mereka-mereka yang dihauli. Timbal balik itu bisa dirupakan dengan segala hal, yang positif, itu pasti.

Seperti halnya peringatan Haul KH Ali Maksum semalam (Ahad, 05/02/2017) yang bertempat di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta. Suasananya sungguh, tak terhingga ramainya.

Ramai akan manusia-manusia yang berselimut kerinduan. Rindu akan sosok yang istimewa di madah-nya. Sehingga Haul nampak memiliki definisi lain yang baru, yakni Haul adalah obat rindu—kepada sosok yang dihauli. Mengamini ibarat Agus Maftuh Abrigibriel, “bahwasannya pertemuan kita di majlis ini adalah irisan-irisan takdir Tuhan. Rencana indah Tuhan yang menghendakkan kita berjumpa, berwasilahkan Haul KH Ali Maksum”. Tukas alumni Pesantren Krapyak sekaligus Dubes Indonesia untuk Arab Saudi itu.

Bahkan lampu pun tak mau kalah. Dengan usaha sungguh, lampu-lampu mencoba menampakkan kerinduannya dengan sinar cahayanya yang bias di mata. Gelimang lampu, menerangi segala penjuru. Pancaran cahanya, secara jumhur, tidak lain berasal dari lentera para pedagang dadakan yang, turut serta menyemarakkan Haul. Para pedagang itu berasal dari penjuru daerah, tentu yang dekat dengan Yogyakarta.

Stand Santri Ali Maksum*

Sedari sore hari, mereka berduyun-duyun mendatangi Krapyak, sekedar hanya untuk menggelar lapak yang menurut hemat penulis tidak sedemikian besar. Paling besar dua meter persegi. Dan mayoritas dagangan yang dijajakan pun beraroma Islam. Peci, Sarung, Sorban, Poster Kyai dan Habaib, Tasbih, Minyak Wangi, misalnya.

Tak terkecuali para pedagang makanan ringan. Semuanya saja, secara tidak langsung, urun-rembuk menyemarakkan dinamika Haul KH Ali Maksum pada malam itu. Entah atas motif apa mereka bersemangat. Tapi itu tidak penting. Yang jelas sejelas-jelasnya, di lain motif ekonomi, tidak jarang penulis menemui bahwasannya tatkala para pelapak setelah udzur melapak—meskipun dengan pendapatan yang tidak seberapa di kesempatan tersebut—di perhelatan Haul para Kiai NU.

Selepas itu, istilahnya mereka kecipratan berkah, sehingga ketika melapak di lain tempat, keuntungan atas dagangannya itu melonjak drastis. Berkah Haul menjadi spirit lain dalam medium perdagangan. Spirit yang mengukuhkan. Spirit yang seperti sewajarnya diuraikan oleh Max Weber—Islam dan Spirit Kapitalisme. Hehe. Ini tidak jarang penulis pergoki. Meskipun ini hanya sekedar opini publik.

Selain cerita itu, euforia para pelapak ini pun tidak menafikan peran yang dihauli. Sosok Al Maghfurlah Simbah KH Ali Maksum, meskipun sudah wafat 28 tahun yang lalu, tetap saja sumbangsih beliau terhadap rakyat masih gamblang kita nikmati bersama.

Keberkahan hidup beliau, tidak hanya nampak saat beliau masih sugeng saja. Bahkan ketika beliau wafat pun, keberkahan itu masih langgeng—semoga kedepannya masih langgeng, Amin. Kesejahteraan sosial, yang juga sebagai asas kita tatkala berislam, hal itu dimaknai betul oleh beliau. Sehingga nilai-nilai yang dulu beliau tanam, tak pernah mati, bahkan terus tumbuh, berkembang, hingga nantinya berbuah. Selamat Jalan Bapak. Kami Bangga Kepadamu Pak. [Afrizal]


*sumber foto : https://www.instagram.com/p/BQIPF3FFsGV/?taken-by=sakanthullab.krapyak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *