Lingua Franca Santri: Sebuah Tradisi yang Perlu Dimaknai Kembali

by April 7, 2017
Esai 0   387 views
durasi baca: 5 menit

Oleh: Maya Ulfatul Umami*

Ada sebuah paradoks tentang tradisi pesantren. Di satu sisi pesantren memiliki akar yang kuat di bumi Indonesia. Pondok pesantren pun bisa dikatakan khas Indonesia ketika menggunakan suatu lembaga yang tradisional.

Namun di sisi lain, tentunya dalam beberapa aspek akan berbeda dengan sekolah tradisional di dunia Islam manapun. Di sisi lain, pesantren akan berorientasi internasioanal dengan Makkah dan Madinah sebagai pusat orientasi, bukan Indonesia.

Hal ini bisa dilihat dari banyaknya ulama yang menimba ilmu di Timur Tengah dan berguru langsung kepada para Syaikh disana. Sebut saja Syaikh Nawawi Al Bantani, Hamzah Fansuri, Mahfudz At Tarmasi, Hasyim Asy’ari yang kesemuanya itu merupakan ulama-ulama besar dengan kerendahan hatinya kembali ke tanah air dan membangun peradaban yang lebih berkembang lagi.  Ketika kita berpikir bahwa pesantren itu memiliki banyak tradisi, maka sejak itulah kita akan berpikir bahwa para ulama telah merumuskan sebuah tradisi yang pasti sangat mendidik.

Saat ini, yang namanya santri ya harus bisa ngaji. Ngaji apapun itu harus bisa dikuasai. Sebagai tolak ukurnya, seorang santri harus bisa membaca dan memahami kitab kuning. Dimana kitab kuning itulah salah satu ciri dari pesantren dan telah menjadi sebuah tradisi.

Seiring berkembangnya zaman menuju abad millenia ini, orang yang bisa membaca dan memahami kitab kuning semakin langka. Padahal kita tahu bahwa kitab kuning itu merupakan referensi yang penting dalam pengambilan sumber hukum Islam. Artinya, bahwa semakin sedikit orang yang bisa memahami kitab kuning, semakin sedikit pula orang yang bisa memahami sumber hukum Islam.

Selain harus bisa membaca kitab kuning, santri juga harus bisa membaca dan memahami tulisan pegon. Tulisan pegon inipun sangat erat kaitannya dengan pembacaan kitab kuning. Mengapa? Dengan pembacaan huruf pegon yang lancar tentu akan sangat memudahkan santri dalam memahami kitab tersebut.

Mungkin kebanyakan orang tidak terlalu mempermasalahkan tentang tulisan pegon ini. Namun ketika sub tema ini saya angkat, sebelumnya saya telah melihat di lapangan, lebih tepatnya dikalangan sendiri dimana seorang santri sangat kesusahan dalam mengikuti pemaknaan kitab oleh seorang ustadz.

Alhasil, dalam pemaknaannya mereka menggunakan tulisan latin yang ketika saya melihatnya sangalah miris. Terkadang pula ketika tertinggal dari apa yang disampaikan seorang ustadz mereka akan mengkosongi pemaknaan tersebut sehingga santri akan kesulitan ketika mendekati ujian. Disini yang akan menjadikan kurangnya pemahaman seorang santri dalam mengaji kitab.

Ketika kita melihat zaman sekarang ini, pegon tidaklah lagi dikenal masyarakat luas dan hanya terisolir di wilayah pesantren saja. Padahal sejarah telah menuliskan, arab pegon telah digunakan oleh para penyiar agama, ulama, penyair, pedagang, hingga politikus di wilayah melayu yang kesemuanya sangat akrab menggunakan arab pegon. Arab pegon atau lebih dikenal dengan tulisan jawi, adapula yang mengatakan tulisan arab melayu dikenalkan kurang lebih pada tahun 700 tahun yang lalu sesuai dengan penemuan batu bersurat tahun 1303 di Terengganu. Di ikuti lagi adanya surat tertua Sultan Ternate untuk Raja Portugal tahun 1522.

Huruf pegon sendiri berasal dari lafal jawa “pego” yang berarti menyimpang. Dikatakan berbahasa arab bukan, jawa juga bukan. Sehingga banyak yang mengatakan bahwa arab pegon ini adalah aksara yang nyleneh. Untuk bahasa pesantren sering menyebutnya dengan arab pegon dan bahasa luasnya menggunakan istilah arab melayu yang tersebar di wilayah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand di daerah Pattani, Myanmar di Rohingya, dan Filipina di Moro.

Huruf arab pegon mempunyai keunikan tersendiri yang orang arab asli pasti tidak akan bisa membacanya. Hal ini dikarenakan adanya modifikasi tulisan arab yang tidak lazim seperti huruf “p” menggunakan huruf “fa” dengan tiga titik diatasnya, atau kata “nga” menggunakan huruf ‘ain dengan tiga titik diatasnya. Perihal siapa yang menemukan rumusan arab pegon tidaklah jelas.

Ada beberapa pendapat mengenai hal ini seperti yang telah disebutkan diatas. Namun ada juga yang berpendapat pada tahun 1400-an arab pegon telah digagas oleh R.M. Rahmat atau Sunan Ampel yang mendirikan pesantren Ampel Denta. Ada juga yang mengatakan arab pegon ini dipelopori oleh Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Ada pula yang mengatakan huruf pegon ini ditemukan oleh Syekh Nawawi Al Bantani.

Dengan adanya tulisan arab pegon dikala itu, ilmu akan terjaga dari perubahan dan penyimpangan. Bukti pentingnya sebuah tulisan, ulama nusantara kala itu meninggalkan sebuah karya yang perlu diapresiasi seperti suluk Sunan Bonang (Head Book Van Bonang), hikayat Hang Tuah, hikayat raja-raja Pasai, Risalah tasawuf Hamzah Fansuri, karya Kiai Rifai Kalisalak yang dimana ada 4 judul kitab dan 60 buah judul tanbih berbahasa melayu tulisan arab pegon yang ternyata malah disita oleh pemerintah Kolonial Belanda. Sebagian dari hasil sitaan dikirimkan ke Belanda yang saat ini masih tersimpan di University Of Leiden. Karya-karya ulama nusantara ini kebanyakan ditulis dengan arab pegon baik karya asli ataupun karya terjemahan dari kitab-kitab literatur arab.

Namun ternyata, kedatangan penjajah saat itu tentu sangat menggerogoti tradisi menulis dengan huruf pegon karena ternyata dalam praktiknya tulisan yang digunakan adalah tulisan latin. Hal ini semakin diperkuat lagi dengan adanya kongres bahasa di Singapura pada tahun 1950-an yang semakin memperkuat kedudukan huruf romawi.

Keputusan pada kongres itupun pada akhirnya membentuk Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia yang memelopori penggunaan huruf romawi. Sehingga telah jelas bahwa arab pegon yang semula menjadi huruf internasional di wilayah melayu menjadi tergeser dengan adanya huruf romawi.

Karena pergeseran itulah maka untuk tetap melestarikan arab pegon, tradisi ini tetap dibawa di lingkungan pesantren dimana diharapkan santri sebagai penerus ulama tetap menghargai apa yang telah ditradisikan oleh pendahulunya. Sebut saja Syech Arsyad Al Banjari yang memiliki karya banyak dan menuliskannya dengan arab pegon.

Begitu bangganya beliau menulis arab pegon karena kecintaannya terhadap rumpun melayu yang sejak dulu identik dengan arab pegon. Terlihat sekali akan kembali lagi pembahasannya yang memberikan keunikan dalam pengajaran versi tradisi dalam pembelajaran Islam klasik di Indonesia menggunakan arab pegon yang memang tidak terlalu rumit untuk dibaca. Hanya saja dalam penulisannya tidak menggunakan harokat seperti tulisan arab pada umumnya.

Demikian halnya seperti yang disampaikan K.H. Maimoen Zubair ketika diselenggarakan Kongres Ijtima’ Ulama Nusantara yang kedua. Beliau menyampaikan betapa kelestarian tradisi salaf mulai terlupakan. Salah satunya adalah arab pegon.

Beliau selalu menuturkan bahwa tradisi salaf tidak bisa ditinggalkan dan arab pegon harus terus dihidupkan dan dilestarikan. Hingga saat ini mulai terlihat lagi bahwa banyak santri yang melupakan jati dirinya yang terkenal dengan arab pegon-nya dan mengabaikan sejarah-sejarah tradisinya. Sebegitu jauhnya-kah santri melangkah, sampai terkadang lupa bahwa tradisi pesantren mulai ditinggalkan?

Ketika hal itu sudah terjadi, ketika santri masih kesusahan dalam menuliskan arab pegon, ada baiknya santri dibimbing dengan melakukan pembiasaan sebelum santri benar-benar terjun memaknai kitab. Tradisi baru lagi yang keliru, ketika santri mulai mondok dalam usia yang sudah relative “berumur”, banyak yang menggampangkan bahwa santri baru itu pasti sudah mahir dalam arab pegon.

Padahal belum tentu orang itu berlatar belakang  dari pondok pesantren atau memang belum pernah hidup dalam dunia pondok pesantren. Yang seperti inilah terkadang membuat santri merasa kebingungan harus belajar dengan siapa. Karena memang ketika belajar dengan teman rasa malunya muncul. Beranggapan bahwa ia sudah besar tidak pantas belajar dengan teman sebaya.

Untuk itulah sebelum benar-benar terjun langsung memaknai kitab, sebaiknya santri juga dibarengi dengan bimbingan menulis arab pegon. Sehingga ketika mengaji kitab bandogan, apa yang diucapkan seorang ustadz dalam pemaknaan kitab bisa dengan mahir ditulis santri. Sekaligus memudahkan seorang santri ketika ia akan muthola’ah kitab yang dikaji.

Tradisi pesantren ini juga menjadi salah satu alat untuk mencetak kepribadian yang aktif dan dinamis dalam pergaulan sosial. Dimana pondok pesantren membentuk sebuah program yang dapat melatih santri agar mempunyai kepribadian yang mandiri. Sehingga kelak siap dan mampu untuk terjun ke masyakarat sesuai dengan ilmu yang didapatkan dari pesantren. Nah untuk itu, ketika penulis menyadari bahwa arab pegon ini mulai terlupakan, dapat disimpulkan bahwa orang Islam itu sendiri telah lupa dengan sejarah masuknya Islam di Indonesia.

*Santriwati Komplek R2, Esai ini merupakan Juara Kedua dalam rangka Kompetisi Esai Haul 78 Al Maghfurlah KH. Munawwir bin Abdullah Rosyad dengan tema “Revitalisasi Tradisi Pesantren”

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *