Konstruksi Kepemimpinan dan Peninggalan Nabi Sulaiman AS. [BAGIAN I]

by Desember 22, 2017
Esai 0   471 views
durasi baca: 2 menit

Oleh: Elma Nafi’atul Maulida*

Nabi Sulaiman (sekitar 975-935 M) adalah putra raja termasyhur Bani israil, yakni Daud. Sebagaimana ayahnya, ia dikenal sebagai raja yang kaya raya dan memiliki kelebihan dapat berbicara dengan seluruh binatang dan burung-burung, menaklukan angin, laut dan udara. Bahkan jin-jin pun tunduk dan patuh kepada perintahnya.

Sepeninggal ayahnya, Nabi Sulaiman menggantikan posisi ayahnya sebagai seorang raja bagi Bani Israil.

Nama Sulaiman disebut di dalam Al-Qur’an sebanyak 16 kali. Namanya tersebar dalam tujuh surat, yakni QS. Al Baqarah [2]: 102, QS. An Nisaa’ [4]: 163, QS. Al An’am [6]: 84, QS. Al Anbiyaa’[21]: 78-82, QS. An Naml [27]: 15-44, QS. Saba’[34]: 12, serta QS. Shaad [38]: 30-44.

Sejak kecil, Nabi Sulaiman telah menunjukkan kecerdasan dan ketajaman pikirannya. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 970 SM. Ia adalah seorang nabi yang terkenal karena kebijaksanaanya. Ia wafat di Rahbaam, Baitul Maqdis, Palestina. Rizem (2014:415)

baca juga : Asal-Usul Kalamun

Nabi Sulaiman merupakan salah satu dari empat raja yang berhasil menaklukkan sebagian besar wilayah di belahan bumi. Di antaranya adalah Dzul Qarnain, Bukhtanasar, dan Namruds.

Ia bernama lengkap Sulaiman bin Daud bin Aisyah bin Awid dari keturunan Yahuza bin Yaqub. Dari garis nasab itu, tidak heran jika Nabi Sulaiman memiliki kerajaan yang sangat besar dan kuat. Dengan kuasa Alloh Swt. Nabi Sulaiman dikaruniai pasukan yang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.

Selain itu, di kerajaannya yang sangat megah itu, terdapat berbagai karya seni dan benda-benda berharga sekaligus menarik. Menurut literatur orang orang yahudi, Istana megah Nabi Sulaiman itu disebut dengan Solomon Temple (Istana atau Kuil Sulaiman).

Saat ini keberadaan Istana tersebut sudah tidak ada, karena telah mengalami banyak sekali keruntuhan dan kerusakan, kecuali tembok sebelah barat yang masih tersisa dari bangunan kuil atau Istana yang masih berdiri. Orang orang Yahudi menamakan bangunan kuil itu dengan Wailing Wall atau Tembok Ratapan.

Dengan gaya kepemimpinan yang sangat bijaksana, Nabi Sulaiman memimpin kerajaan dengan penuh tanggung jawab dan rasa rendah hati. Terlebih dengan kondisi kekayaannya yang tak terhitung.

Akan tetapi, Nabi Sulaiman bukanlah sosok pemimpin yang sesukanya sendiri. Nabi Sulaiman sangat memikirkan akan kehidupan masyarakat, terlebih terhadap kaum yang menyembah berhala, Nabi Sulaiman akan langsung mengajak kaum tersebut, bahkan, pemimpin kaum tersebut untuk menyembah Allah Swt pada jalan yang benar.

baca juga : Memperingati Kelahiran Sang Cahaya diatas Cahaya

Sayangnya, kini istana dan kerajaan Nabi Sulaiman yang tiada tandingannya di muka bumi itu, runtuh tanpa bekas.

Dalam beberapa riwayat disebutkan, hancurnya istana Nabi Sulaiman bukan karena runtuh, melainkan diruntuhkan oleh orang orang Yahudi yang sombong dan angkuh.

Selain Istana Nabi Sulaiman, konon di lingkungan Istana tersebut terdapat bangunan lainnya, seperti gapura yang terletak di sebelah barat daya Istana Ratu Bilqis.

Istana Nabi Sulaiman sensiri memiliki 32 pilar pintu gerbang. Di bagian dalam terdapat ruang pengadilan, tempat tinggal para Rahib, pintu masuk ke kuil, alun alun dan lain sebagainya. Wawan(2005:195)

*Penulis merupakan Santri Al Munawwir Komplek Q

Tinggalkan Balasan