Kisah Sebutir Kurma dan Doa Wali yang Tertolak

by Juni 3, 2018
Esai PKR Warta 0   391 views
durasi baca: 4 menit

Kebiasaan menyandarkan perilaku kepada hal material, cenderung hanya akan berbuah teror batin belaka. Ia bergelayut dalam angan-angan ketidakpastian (uncertainty), dan bahkan menjerumuskan pada keresahan tak bertepi.

Dari sana saya teringat ungkapan Ibnu Athoillah As-sakandary dalam Al Hikam yang mengingatkan jika dalam berperilaku, dalam beramal seyogyanya kita tidak menggantungkannya kepada selain Allah swt. (laa i’timada illa billah). Dari sana, penulis pengin mengurai kembali cerita akan keyakinan semu atas apa yang telah kita yakini betul. Dalam sebuah kisah seorang sufi agung berikut.

Ibrahim bin Adgham (100-165 H) ia dilahirkan di Balkh—sekarang Afghanistan. Memiiki nama lengkap Hazrat Sultan Ibrahim bin Adham bin Mansur al-Balkhi al-Ijili Abu Ishaq, pada mulanya ia seorang raja yang memiliki kerajaan besar. Namun sebagai seorang raja dan sekaligus sufi besar, ia lebih memilih hidup zuhud dengan berkelana ke berbagai destinasi daripada mengurusi kerajaan beserta isinya.

Dari usaha kerasnya tersebut, Ibrahim bin Adgham oleh Ai Hujwiri (400-465 H) dalam kitab Kasyf al-Mahjub disebut sebagai”unique in this path; the chieftain of his contemporaries, and a disciple of al-Khidr.”

Gelar sufi besar yang disandang bukan semata-mata melekat dari darah atau tahta keluarga. Terdapat banyak cerita yang menyudahi perdebatan kita soal gelar kesufian beliau. Seperti ketika Ibrahim mendapati seorang yang sedang mencari seekor unta di atas genteng tempat ia tidur.

Ibrahim sempat menghardik orang tersebut dengan mengatai sebagai seorang yang “bodoh”. Namun, orang itu balik menjawab pernyataan Ibrahim tersebut “apakah kamu mencari Tuhan dengan pakaian sutra dan tertidur di atas sofa emas?”. Ungkapan itu seketika meneror pikiran Ibrahim hingga membuatnya tidak bisa tidur.

Selain cerita itu, ada beberapa cerita lain yang sangat menggugah iman kita. Seperti yang akan saya ceritakan berikut.

baca juga : Ngaji Jalalain : Upaya Mengenali Dosa beserta Dampak-Dampaknya”

MENCARI BEKAL

Selepas menunaikan ibadah haji, Ibrahim pengin melanjutkan perjalanannya ke Masjid al-Aqsha. Dalam perjalanan hendak ke Yerussalem tersebut, ia mampir ke pasar dekat Masjidil Haram untuk membeli sekilo kurma di pedagang tua sebagai bekal perjalanan. Kurma yang selesai ditimbang dimasukkan di keranjang Ibrahim. Setelah semua telah dimasukkan, Ibrahim melihat satu kurma tercecer persis di bawah timbangan. Ia mengira satu biji itu bagian dari kurma yang ia beli, alhasil ia memungut dan memakannya. Setelah melahap lantas ia berangkat menuju Masjid al Aqsha.

Selang empat bulan kemudian, Ibrahim bin Adham tiba di Masjid Al Aqsha. Seperti biasa, ia memilih ruangan di bawah kubah Sakhra sebagai tempat favorit untuk beribadah. Ia salat, mendaras Alquran, bermunajat dengan khusyuk. Selagi ia beribadah, telinganya menangkap suara dua malaikat bercakap tentang dirinya.

“Itu dia Ibrahim bin Adham, seorang ahli ibadah, zuhud, dan wara yang doanya selalu dikabulkan oleh Allah Swt”, ujar malaikat.

“Tetapi sekarang tidak. Doanya tertolak. Sebab empat bulan yang lalu ia memakan sebutir kurma di meja seorang pedagang tua yang bukan haknya.” jawab malaikat yang lain.

Mendengar perkataan tersebut, seketika Ibrahim terkejut dan terhenyak. Seketika ia teringat empat bulan yang lalu sebelum berangkat menuju Yerussalem, ia mampir membeli sekilo kurma di pasar dekat Masjidil Haram. Lantas ia bangkit mengemasi barang-barangnya. lantas berangkat kembali ke Mekah untuk mencari pedagang kurma dan meminta ikhlasnya.

Sesampainya di Mekah, di tempat pedagang tua berjualan dulu, namun ia tidak menemukan pedagang tua melainkan seorang muda. Ibrahim bin Adham yang sedang berkemelut hatinya dan sedang digelayuti keheranan pun bertanya.

“Empat bulan yang lalu saya membeli kurma di sini kepada seorang pedagang tua. Sekarang di mana dia?”.

“Itu Bapak saya, Syeikh. Dia meninggal sebulan yang lalu”, keluh pemuda tersebut.

“Innalillahi Wainna ilaihi rooji’uun, saya turut berduka cita atas kematian Bapakmu wahai pemuda. Kalau begitu kepada siapa saya bisa meminta penghalalan?” Ibrahim kemudian menceritakan detail peristiwa yang dialaminya. Sedang anak muda mendengarkan dengan seksama.

“Nah, begitulah. Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur kumakan tanpa izinnya?” kata Ibrahim bin Adham setelah bercerita.

“Bagi saya tidak masalah. Saya halalkan. Tapi saya masih memiliki saudara yang jumlahnya 11 orang yang mempunyai hak waris sama dengan saya.” Ucap pemuda itu.

baca juga : Suka Duka Menjadi Muazin Krapyak dan Pendengaran Adalah Kunci”

JIHAD MENCARI RIDO KURMA

Ibrahim yang bersikeras untuk mendapatkan rido atas sebutir kurma tersebut, meminta alamat masing-masing saudaranya. “Di mana alamat-alamat saudaramu, biar saya temui mereka satu persatu?”, desak Ibrahim.

Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham kemudian pergi menemui mereka. Masing-masing didatangi, mengetuk pintu, dan ditemui tepat di depan rumah. Setelah seluruh keluarga itu telah menghalalkan sebutir kurma, Ibrahim pun lega. Dirasa semua permasalahan telah terselesaikan, Ibrahim pengin kembali ke Masjid al Aqsha.

Ia kembali menempuh empat bulan lamanya untuk perjalanan ke Masjid Al Aqsha. Sesampainya di sana, seperti biasa, ia memilih kubah Sakhra sebagai untuk tempat beribadah. Ia kembali bertakarub kepada Allah, dengan ritual salat, zikir, dan munajat. Tidak berselang lama, selagi ia masih berdo’a, tetiba Ibrahim mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi sedang bercakap-cakap.

“Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara-gara makan sebutir kurma milik orang lain”, kata malaikat.

“Oh tidak, sekarang doanya sudah makbul lagi. Ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas”, terang malaikat yang satunya lagi.

*diolah dari sumber kitab Nashoihul Ibad- Bab 3 Maqalah 13 dan Sufiwiki.com.(afqo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *