Kisah Mbah Ali, Karib Tokoh Muhammadiyah dan Celana

9 months ago
durasi baca: 3 menit

Mbah Ali sering dianggap punya kemampuan spektakuler serta berpandangan luas. Baik dari segi keilmuan, persahabatan, sampai hal-hal seperti pesepakbola legendaris; Diego Armando Maradona dan petinju kenamaan—yang kebetulan memiliki kesamaan nama dengan beliau—Muhammad Ali.

Dalam khasanah pesantren, kisah cerita seorang kiai yang memiliki kemampuan spektakuler kerapkali muncul. Cara-cara mendidik santri yang kerap aneh membuat dugaan kemampuan spektakuler itu muncul.

Ketangkasan Mbah Ali dalam placing dan membaca peluang strategis sulit diragukan, juga pengalamannya dalam pembaruan pendidikan pesantren yang sangat mashur. Dimulai dari Tremas, Krapyak sampai PBNU pembaharuannya menuai banyak pujian. Lantas KH Masdar Farid Mas’udi menyebutnya sebagai kiai yang berpandangan modern.

Mbah Ali itu ibarat nyala lilin dalam kegelapan. Di saat menguatnya segmentasi organisasi keagamaan, Mbah Ali memperluas kualitas kultur keberagamaan melalui jalinan tali persahabatan dengan beberapa tokoh lintas generasi dan organisasi, termasuk KH Azhar Basyir seorang tokoh sekaligus Ketua PP Muhammadiyah (1990-1995).

Seperti yang diceritakan oleh budayawan dan penulis Hairus Salim kepada kami beberapa waktu silam.

Senja kala itu, Aziz tiba di Pesantren Krapyak usai menempuh perjalanan beratus kilo dari kediamannya di bagian utara Jawa Tengah. Merasa letih, Aziz kemudian mencari tempat teduh di celah pesantren sekedar untuk beristirahat sembari menunggu jeda Magrib.

Maksud dan tujuan ia datang ke krapyak adalah untuk mendalami keilmuan KH Ali Maksum.

baca juga : “Mbah Ali, Pesantren dan Sepakbola”

Selepas berjamaah, Aziz sowan ke ndalem Mbah Ali, memohon restu mengangsuh-kaweruh di Pesantren Krapyak. Ia memperkenalkan diri, bertukar kabar, sampai berkisah mengenai perjalanannya hingga sampai di Krapyak.

Alih-alih langsung direstui, Mbah Ali malah menguji Aziz. Ia diperintah Mbah Ali meneruskan bait di nazam Alfiyah.
Mulanya, Aziz ketar-ketir mendapat tantangan tersebut.

“Ayo coba, teruskan nazam ini..” Mbah Ali melantunkan sebait nazam dan dengan lanyah Aziz meneruskan.

“Baik, sekarang dibalik. Dibaca dari belakang..” perintah Mbah Ali.

Seperti tantangan pertama, Aziz lanyah meneruskan bait-bait yang diucapkan Mbah Ali.

Merasa terkagum, Mbah Ali lantas berujar “Yowes Ziz, koe wes rausah sinau agomo nang aku. Besok pagi selepas subuh ikut aku yaaa…”

“Nggih kiai.” Aziz menjawab gugup. Namun jiwa santrinya menuntun Aziz memilih sami’na wa atho’na dan segera pamit untuk menyudahi sowan yang begitu menggetarkan tadi.

Sembari keluar dari ndalem Mbah Ali, Aziz gusar dan terus bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, “kira-kira besok pagi Mbah Ali mau ngajak ke mana ya?”.
–.
Keesokan harinya, Aziz diajak Mbah Ali pergi. Berdua mereka berboncengan menaiki vespa. Sementara Mbah Ali menyetir di depan, Aziz yang di belakang semakin gusar. Pertanyaan malam terus menggeliat dalam pikirannya.

Hingga vespa Mbah Ali berhenti di depan sebuah rumah. Mbah Ali berucap salam sembari tangan kanannya mengetok pintu rumah. Tak berselang lama seorang membukakan pintu. Yang nampak adalah sosok orang tua gagah, berkaca mata dan berpenampilan rapih. Mbah Ali lalu beruluk salam, bertukar sapa, hingga berpelukan erat sekali seperti bertemu sahabat yang lama tidak ditemuinya.

Mereka bertiga duduk di ruang tamu. Teh hangat dan hidangan ringan terpapar di meja. Aziz mendapati di sekeliling ruang tamu buku-buku tertata sangat rapih di rak.

“Ini Kiai Azhar Basyir, sekarang kamu kutitipkan di sini. Belajarlah kepadanya, habiskan buku bacaannya.” Pesan Mbah Ali.

Seketika perasaan Aziz kalut. Ekspestasi kepergiannya ke Krapyak untuk menimba ilmu ke KH. Ali Maksum, tapi Mbah Ali berkehendak lain. Ia diperintahkan supaya belajar pengetahuan umum ke tokoh Muhammadiyah, KH. Azhar Basyir.

baca juga : “Mbah Ali, Pohon Natal dan Anomali Logika Beragama”


Selang beberapa tahun kemudian, Mbah Ali berniat mengambil Aziz di kediaman Kiai Azhar Basyir untuk diboyong kembali ke Krapyak. Sendiri beliau mengendarai vespanya. Sesampainya di kediaman Kiai Azhar, Mbah Ali terkekeh ketika mendapati Aziz sedang membaca buku di pelataran rumah Kiai Azhar.

“Loh. Sekarang kamu sudah bisa pakai celana, Ziz?”

Aziz diam tak membalas. Kepalanya merunduk tersenyum malu.

Mbah Ali masih mengamatinya dari ujung kaki sampai pucuk rambut. Terkekeh.

Tak berselang lama, Kiai Azhar Basyir mengenali tawa tersebut dan keluar rumah. Kembali mereka berdua beruluk salam, bertukar sapa, hingga berpelukan erat sekali seperti bertemu sahabat yang lama tidak ditemuinya.

“Ngene yo Syir, sekarang anakku; Aziz mau kubawa kembali ke Krapyak. Kiranya sudah cukup ia dua tahun belajar di sini. Nanti kalau terlalu lama, takutnya ia jadi Muhammadiyah.” Mereka berdua tertawa.

Masih dalam kondisi tertawa, Mbah Ali berujar, “Lihat saja”, telunjuk Mbah Ali tertuju ke celana Aziz, “sekarang dia sudah pakai celana, padahal sewaktu pertama kali ke sini ia masih memakai sarung.” gelak tawa kembali memenuhi ruang tamu.

Belakangan diketahui jika ketika Azhar muda, ia dititipkan kepada KH Abdul Qodir Munawwir oleh ayahnya sendiri; Kiai Basyir—untuk belajar Alquran. Ayah KH Azhar Basyir pernah mengenyam pendidikan pesantren di Tebuireng Hadrastusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Tidak hanya itu, Azhar muda juga tidak pernah absen mengikuti pengajian kitab kuning yang diampu oleh KH Ali Maksum.

Setelah belajar di Krapyak, Azhar melanjutkan ke Termas dan lalu Kairo. Di Kairo Azhar berjumpa dan berkarib dengan Gus Dur. Sekembalinya dari Kairo, Kiai Azhar Basyir menjadi Ketua PP Muhammadiyah dan Gus Dur menjadi Ketua PBNU.

Penulis : @afrizalqosim
Ilustrator : @vckyyhr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *