Kisah Haru Perjuangan Khotimat 2017

2 years ago
durasi baca: 6 menit

Sesi Pengalungan Samir para Khotimat 30 Juz bil hifdhi

Jama’ah sholat magrib telah usai, santri-santri sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada beberapa yang mengambil Al Qur’an kemudian membaca dan menghafalnya.

Beberapa juga sibuk menyiapkan musholla barat untuk tempat acara. Maklum, PP Al Munawwir Krapyak tengah sibuk. Ada gawe besar pada tanggal 9 Maret 2017, khataman dan haul KH Munawwir ke-78.

Salah satu dari khatimat itu adalah Dewi Anisaul Karimah. Santri asal Kediri tersebut berhasil menuntaskan hafalan 30 juznya. Sebuah prestasi yang membanggakan. Tetapi bukan berarti untuk mencapainya tanpa halangan maupun rintangan suatu apapun.

 


“Di saat kita mengalami kondisi down seperti itu, hendaknya mendekat ke Allah, agar selalu mendapat petunjuk

(Dewi Anisaul Karimah)


Dewi (sapaan akrab Dewi Anisaul Karimah) menceritakan awal mula keinginannya untuk menghafal Al Quran adalah melalui lingkungan keluarganya. Dewi adalah anak terakhir dari 7 bersaudara. Beberapa saudaranya adalah seorang penghafal, hal ini lah yang menginspirasinya untuk menghafal. “Dulu sering diajak mbak-mbak saya untuk mengaji, dari sana saya tertarik untuk menghafal juga”, ujar mahasiswi UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Dewi mempelajari ilmu agama sejak kecil. Sewaktu masih SD, ia sudah ngaji di pesantren dekat rumah meski hanya menjadi satri kalong. Ketika diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta, ia pun kuliah dan mondok. Ia memilih PP Al Munawwir Komplek Q karena sebelumnya, salah satu kakak perempuannya lulusan pesantren tersebut.

Pada awalnya, di samping menghafal ia juga mengikuti Madrasah Diniyah. Namun lama-lama itu dirasa berat. Alhasil ia meminta saran ibunya tentang masalah tersebut. “Pilih kitab apa Qur’an?” ucap Dewi menirukan pertanyaan ibunya. Dengan berbagai pertimbangan, ia memilih untuk melanjutkan hafalan dan berhenti mengikuti Madrasah Diniyah. Untuk memfokuskan hafalannya, ia juga dipindah ke Q6, kamar khusus penghafal di pesantren Komplek Q.

Selama perjalanan, Dewi pernah mencapai titik terendah. Sewaktu sampai di jus 22, ibundanya jatuh sakit. Ia begitu khawatir dan tak tenang dan memustuskan pulang, namun ibunya melarang karena ia belum seminar skripsi. “Seminarnya saya cepatkan biar bisa pulang, gak tenang tahu ibu sakit”, ungkap alumni MAN 3 Kediri ini.

Setelah seminar selesai, Dewi pulang untuk merawat ibunya yang sedang sakit. Namun Allah berkehendak lain, ibunya meninggal beberapa hari setelah lebaran Idul Fitri. Sebagai anak terakhir yang dekat dengan ibu, tentu ini pukulan yang berat. Apalagi ayahnya juga sudah lama meninggal, sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kondisi ini mebuatnya down. Terpuruk. Jatuh. Bahkan ketika kembali ke pondok, ia kesulitan untuk menghafal seperti biasanya. “saking donwnya saya mencapai batas minimal setoran”, ujarnya. Dewi menambahkan bahwa kondisi ini berlangsung sampai beberapa bulan. Skripsinya juga belum dilanjutkan.

Di saat kondisi seperti itu, orang-orang terdekatnya memberikan motivasi kepadanya. Salah satunya adalah Gus Nang. Gus Nang memang dikenal dekat dengan santri-santrinya, terutama santri penghafal yang setoran kepadanya. Saat sowan ke ndalem Gus Nang, Dewi dinasehati agar tidak terlalu memikirkannya, karena dengan menghafal Al Qur’an sama dengan memuliakan kedua orang tua. “Nyekel Quran iku yo ngangkat derajat bapak-ibumu (menjaga Al Qur’an sama dengan mengangkat derajat bapak-ibumu)”, ujar Dewi menirukan nasehat Gus Nang. Selain Gus Nang, orang yang berjasa membangkitkan semangatnya adalah salah seorang sahabatnya. Dewi bercerita saat kondisi itu menimpahnya, sangat berat menjalankan kuliah dan hafalannya. Apalagi ia harus segera menyelesaikan skripsinya. “Teman saya bilang kalau tidak kuat dua-duanya ya jalankan satu-satu saja”, ujar Dewi. Akhirnya ia memilih menyelesaikan hafalannya dulu. Alasan memilih ini adalah waktu khataman yang dekat. “Kalau skripsi nanti sehabis khataman bisa, tapi kalau saya skripsi dulu, harus nunggu 2 tahun lagi untuk khataman”, dalih Dewi.

Kini, ia berhasil melalui semua rintangan tersebut, status khotimat 30 juz bil hifdhi ia sandang. Ketika ditanya apa kunci menghafal Al Quran, Dewi dengan mantap menjawab kunci dari menghafal adalah istiqomah. Mengutip dari kata-kata Gus Nang yang selalu diingatnya jika Al Quran itu mempunyai dua sisi, merahmati dan melaknati. “Al Qur’an harus dijaga agar bisa merahmati kalau dilalaikan akan melaknati”, kata Dewi.

Dewi adalah salah satu khatimat yang dapat menginspirasi siapa saja yang ingin menghafal Al Quran. Berbagai cobaan telah ia lalui hingga berhasil menuntaskan hafalan dan kemudian fokus ke skripsi. Dewi juga mengatakan jika di saat kita mengalami kondisi down seperti itu hendaknya mendekat ke Allah, agar selalu mendapat petunjuk.


Sebagai anak saya juga ingin memberikan mahkota surga untuk mereka (orang tua)

(Dyah Ayu Fatmawati)


Selain Dewi, perjalanan panjang dan penuh rintangan pun dialami oleh Dyah Ayu Fatmawati. Santri kelahiran Kudus, 8 Februari 1994 ini mulai nyantri di komplek Q sejak tahun 2012 lalu. Keinginannya saat itu sederhana saja, yaitu mewujudkan impiannya sejak sekolah di MANU Banat Kudus, menghafalkan al-Qur’an dan menjadi seorang sarjana. Tetapi keinginannya untuk menghafalkan al-Qur’an tidak lantas mendapatkan petunjuk dan jalan dari Allah. Bahkan cita-cita mulia ini sempat tidak mendapat ridho dari ibu tercintanya, “ndak usah ngapalkan Qur’an nduk, biar mbakmu saja, ibu takut nanti kamu malah kebanyakan pikiran,” ujar Dyah mengingat kekhawatiran ibunya kala itu.

Namun niat dan semangatnya tidak pernah padam. Keinginannya untuk bisa memberikan mahkota surga kepada orangtuanya, membuatnya terus berdoa, memohon pada yang kuasa agar diberikan jalan untuk menghafalkan al-Qur’an, “sebagai anak saya juga ingin memberikan mahkota surga untuk mereka,” ungkapnya dengan penuh bahagia. Hingga akhirnya di tahun 2015 lalu tepatnya tanggal 5 Oktober, ia menemukan jalannya untuk meraih cita-cita mulianya. Setelah menyelesaikan Madrasah Diniyahnya selama 3 tahun, ia pun mendapat perintah dari ibu Nyai untuk pindah ke gedung tahfidz Q6. Sejak saat itu dimulailah langkah awal perjuangannya.

Banyak santri yang mengira bahwa Dyah telah menghapal al-Qur’an sejak di MA, sehingga ia bisa mengikuti khataman 30 juz bil hifdzi di tahun 2017 ini. Ada pula yang beranggapan bahwa ia memiliki nashab penghafal Qur’an dan memiliki otak yang sangat cerdas, sehingga bisa menyelesaikan hapalannya hanya dalam waktu satu tahun enam bulan. Namun semua anggapan itu nampaknya kurang tepat, Dyah menuturkan “saya bisa lebih cepat menyelesaikan hapalan daripada teman-teman bukan karena saya cerdas atau memiliki nashab penghapal, tetapi karena saya punya keinginan yag lebih kuat dan keras dibanding teman-teman semuanya.” Dyah juga menjelaskan, bahwa keinginan kuatnya itu muncul karena ia ingin melihat orang-orang yang dicintainya bisa menyaksikan dirinya saat berhasil meraih impian,”kita kan tidak tau sampai berapa lama umur orang-orang yang kita cintai, maka cepatlah selesaikan apa yang sudah kita mulai,” terang mahasiswa UGM ini.

Namun jalan tak selamanya lurus dan mulus, ungkapan ini nampaknya sesuai dengan perjalanannya dalam meraih impian. Selama menghafal al-Qur’an, Dyah mengaku banyak sekali cobaan dan rintangannya. Di saat teman-temannya sudah mencapai 15 juz perolehan, ia masih harus tertatih memulai hapalannya dari juz awal. Tidak hanya itu, ia juga memiliki kewajiban untuk segera menyelesaikan masa studinya di UGM (Universitas Gajah Mada), sekaligus menjalankan amanah dan tanggung jawabnya sebagai bendahara tahfidz Q6. Ketiga hal tersebut bukanlah perkara mudah jika harus dijalankan dan diselesaikan dalam waktu bersamaan. Maka Dyah pun membuat target dan memaksa dirinya, “sejak awal saya memang berlomba dengan diri sendiri, bismillah semuanya diniatkan ibadah dan setiap ibadah pasti ada ujian dan cobaannya. Namun kuncinya satu, ikhlas, sabar dan istiqamah,” ungkapnya penuh keyakinan.

Akhirnya, pada tanggal 14 Februari 2017 lalu ia berhasil menyelesaikan 30 juz hafalan Qur’annya dan pada tanggal 16 Februari 2017 berhasil menyandang gelar S.Si di belakang namanya. Tetapi dibalik kabahagiaan tersebut, Dyah mengaku menyimpan kesedihan yang teramat dalam. Pasalnya pada tanggal 8 januari 2017, saat hapalannya masih kurang 4 setengah juz lagi, bapak yang menjadi salah satu penyemangat hidupnya dan menjadi tempat sandarannya berkeluh kesah, telah diambil kembali oleh pemilik sebenarnya, Allah SWT. Kejadian tersebut tentu menjadi puncak ujian terberatnya dalam prosesnya meraih impian. Namun hidup ini harus tetap berjalan meskipun sering tidak sesuai dengan keinginan, itulah yang terus Dyah upayakan. Ia pun menulis di bawah target hapalannya “meski yang dicintai telah tiada, tetap semangat melanjutkan hidupmu Dee.. yakinlah bahwa dia yang kamu cinta, akan selalu mendoakanmu, sekarang dan selamanya.”

Ketika ditanya, bagaimana ia bisa terus melangkah menggapai mimpinya padahal cobaan terus saja mengikutinya?, maka dengan tegas Dyah pun menjawab, “kuncinya itu fokus terhadap apa yang kita cita-citakan dan percaya bahwa apa yang telah kita upayakan  tidak akan disia-siakan oleh Allah, meskipun dalam keadaan jatuh sekalipun, jangan pernah menyerah, karena kita tidak tahu seperti apa masa depan nantinya, saya juga berpesan untuk teman-teman santri bahwa ketika kita berada di puncak kesedihan jangan lantas beranggapan bahwa kita adalah orang yang paling menderita. Karena sebenarnya disaat itu kita adalah orang beruntung, yang sedang diperhatikan oleh Allah.” Semoga bermanfaat bagi teman-teman dan sukses untuk khataman 2017. (Listriyah/Hafidhoh)

baca juga : 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *