KH Hendri Sutopo Ungkap Alasan Mengapa Al Qur’an Menjadi Mu’jizat Terbesar Bagi Nabi Muhammad Saw

by Juni 13, 2017
PKR Warta 0   539 views
durasi baca: 3 menit

Memahami Al Qur’an tidak cukup hanya dengan mata atau telinga saja, tetapi juga menggunakan rasa.


Ada yang berbeda dengan PP Al Munawwir Komplek Q Krapyak, Yogyakarta. Biasanya pada malam hari setelah tarawih, santri dijadwalkan untuk mengaji bandongan kitab klasik. Namun di malam 17 Ramadhan yang bertepatan pada hari Minggu 11 Juni 2017 kemarin, panitia Program Khusus Ramadhan (PKR) mendatangkan mubalig kondang, KH. Hendri Sutopo untuk mengisi pengajian Nuzulul Qur’an.

Para santri cukup antusias, apalagi sosok sang mubalig masih cukup asing di kalangan santri, hanya beberapa santri yang mengetahui. Hal ini cukup beralasan karena panitia PKR lebih sering mengundang para pakar tafsir seperti KH. Syahiron Syamsudin atau KH. Abdul Mustaqim ketika ada event keagamaan tertentu.

Pak Hendri (sapaan karib KH. Hendri Sutopo) memulai ceramah dengan menjelaskan alasan mengapa Al Qur’an menjadi mu’jizat terbesar bagi Nabi Muhammad Saw.

Pak Hendri menuturkan bahwa beberapa mu’jizat Nabi seperti membelah bulan, dapat memperbanyak makanan, atau seakan-akan Nabi dapat mengeluarkan air dari sela-sela jari hanyalah tinggal cerita. “Sedangkan Al Qur’an bisa kita nikmati sampai sekarang. Ini lah alasan yang pertama,” Ucap Pak Hendri.

Kedua, apabila ditinjau dari seni bahasa atau balaghoh sangat jelas kalau bahasa yang digunakan di luar kemampuan berbahasa manusia. Memahami Al Qur’an tidak cukup hanya dengan mata atau telinga saja, tetapi juga menggunakan rasa.

Pak Hendri mencontohkan akhiran bunyi beberapa surat dalam Al Qur’an yang memiliki sajak yang sama nan indah, seperti surat Al fatihah yang memiliki akhir sajak in.., An Nas yang memiliki akhir sajak nas…” Sedangkan pada surat Al fiil mengapa akhirnya tak sama? Ya karena seni itu surprise. Memiliki makna yang luar biasa,” tambah Pak Hendri.

Alasan ketiga adalah karena satu-satunya bacaan dan suara yang tidak pernah membosankan hanyalah Al Qur’an. Dalam penjelasannya, beliau mengatakan bahwa beliau adalah penggemar musik apapun, namun meskipun sudah hafal akan cepat bosan. Sedangkan Al Qur’an tidak pernah membosankan untuk didengar dan dibaca.

Alasan terakhir adalah semua yang diceritakan oleh Al Qur’an menjadi kenyataan. Pak Hendri mengaku cukup prihatin dengan kondisi masyarakat muslim yang dihancurkan dari dalam melalui ayat-ayat Al Qur’an sendiri. “Dulu ada orang Belanda yang namanya Snouck Hungronje hafal Al Qur’an tapi tujuannya untuk menghancurkan kita dengan menyamar menjadi sorang muslim bernama Abdul Ghaffar,” ujar penggemar berbagai genre musik ini. Lanjut, Pak Hendrik mengatakan bahwa kondisi seperti itu sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan akan terus terjadi.

Beliau bercerita mengenai pertemuan beliau dengan salah satu seorang akademisi di salah satu masjid kampus di Yogyakarta. Dalam kesempatan itu, beliau ditanya mengenai Pilpres (Pemilihan Presiden). Pak Hendrik tak langsung menjawab, beliau berbalik menanyakan hal tersebut dengan mantap,

Sang penanya menjawab tidak memilih dua-duanya karena tidak ada perintah memilih presiden dalam Al Qur’an. Jika memilih termasuk kafir karena tidak mentaati perintah dalam kitab suci itu.

Mendengar jawaban itu, Pak Hendri hanya senyum sambil berkata, “Samean kalau lewat lampu lalu lintas (Bangjo), ketika lampu merah, berhenti atau jalan?”

Sang penanya dengan mantap juga menjawab bahwa ia berhenti. “Kalau berhenti berarti melanggar Al Qur’an dong, kan berhenti ketika lampu merah tidak dijelaskan dalam Al Qur’an.”, jawab Pak Hendri yang disambut tawa santri.

Di akhir ceramah, Pak Hendri menjelaskan mengenai beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam penggunaan dalil Al Qur’an maupun hadis.

Beberapa Pertimbangan itu adalah “isthitho’a” (kemampuan) seperti haji bagi orang yang mampu, “hajat” (kebutuhan) seperti babi menjadi halal apabila dalam kondisi dhorurot, “adat” (kebiasaan) seperti membayar zakat sesuai dengan bahan pokok suatu daerah, dan “muktadhol haal “(proposional) atau sesuai kondisi dan situasi saat itu.

Pak Hendri juga menjelaskan pentingnya makna surat Al Maidah ayat satu yang berisi tentang keharusan memenuhi suatu janji.

“Ulama tafsir sepakat bahwa janji itu tidak hanya antara muslim dan muslim tapi juga antara muslim dan non-muslim. Nah NKRI adalah bentuk janji antara muslim dan non-muslim jadi tidak perlu diubah lagi,” tutur Pak Hendri. Di penghujung acara, ditutup dengan do’a oleh Pak Hendri. (Hafidhoh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *