KH. dr. Atthobari Humam : “Anggapan Pesantren itu Kumuh, Kotor dan Sarang Penyakit Hanyalah Stigma Klasik”

almunawwir.com (Bantul)“Anggapan bahwa pondok pesantren itu kumuh, kotor dan sumber penyakit. Itu sebenarnya hanyalah sebuah stigma  klasik.” Ungkap Gus Atho’ selaku panitia pelaksana “Bakti Sosial Santri” dengan serangkaian acara reresik lingkungan di Pasar Niten dan Kali Winongo.

“Tapi dengan perkembangan pengetahuan dewasa ini”, beliau melanjutkan, “mulai dari pola hidup sehat, sarana pesantren yang semakin bagus tidak seperti dulu.

Kita yakin, bahwa stigma klasik itu sangat kecil. Sebab, sudah banyak yang mengamalkan sikap kebersihan. Ya meskipun, tidak sedikit masih ada yang seperti itu.” Jelas Gus Atthobari yang juga Ketua Yayasan PP. Al Imdad, Bantul.

Tidak hanya itu, menanggapi hal tersebut, beliau juga mengungkapkan jika kehidupan komunitas itu sangat besar pengaruhnya akan tumbuh kembang sesuatu. Mulai dari kerapian, kekompakan sampai kekolotan dan, bahkan wabah penyakit menular. Sebab kehidupan komunal, bergumul dengan banyak orang.

Tapi, dengan proses pengertian, pemahaman dan praktek kebersihan seperti dalam kegiatan ini, diharapkan para santri sanggup menyuarakannya dan mengamalkannya pula di lingkungan sekitar pesantren mereka masing-masing.

Pengamalan di pesantren itu, menurut Gus Atho’ bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana. Misal kebersihan kamar, komplek, masjid sampai lingkungan pesantren secara menyeluruh.

Ungkapan yang dilontarkan itu berlandaskan juga pada kaidah kebersihan yang diberlakukan di pesantren. Kaidah yang dimaksud adalah kebersihan adalah sebagian dari iman (annadhofatu minal iman). Bahwa tidak sempurna iman seseorang, tanpa sikap bersih dan menyukai kebersihan.

Di akhir perjumpaan, Gus Atho’ berpesan kepada seluruh santri berkaitan dengan peringatan Hari Santri, terkhusus pesan yang berkaitan dengan lingkungan,

“Marilah kita jaga lingkungan kita. Mulai dari lingkungan terkecil, yakni diri sendiri. Baik itu kesehatan, kebersihan diri sendiri hingga lingkungan sekitar kita secara utuh.”

Acara yang diikuti oleh sekitar 1000 santri dari pesantren di seluruh Kabupaten Bantul tersebut, diinisiasi oleh Pemkab Bantul yang, selain bekerjasama dengan santri, juga aktivis lingkungan daerah. Termasuk ormas Banser NU sebagai barisan terakhir pertahanan NKRI. [Red]

baca juga : Dramatikal Fiqih : “Ajang Membangun Kreatifitas & Melatih Mental Santri”

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *