KH. Buchori Masruri tentang KH. Ali Maksum (Bagian II)

by Juni 7, 2017
Esai Masyayikh 0   520 views
durasi baca: 2 menit

~ Disiplin dan Bersahabat ~

Oleh :  M. Zaky Mubarok 

Pernah suatu malam saya diutus Pak Ali untuk “mijeti idak-idak“. Tapi itu dimulainya dari ba’da Isyak sampai Subuh loh. Kalau beliau tidur saya turun dan berhenti, sambil makan minum apa saja yang ada, untuk sekedar menstabilkan staminaku. Ada Kopi saya minum Kopi, ada Air saya minum Air, ada Roti ya saya makan. Kalau Pak Ali bangun saya naik dan mijeti idak idak lagi.

Tiap kali saya mijeti idak idak, tembok beliau saya tulisi. Tanggal sekian mijeti, tanggal sekian mijeti. Sampai Pak Ali dawuh “temboke kyai kog digawe agenda” (temboknya Kyai kok dibuat agenda).

Semalaman penuh mijeti Pak Ali, tapi setelah Shubuh pun, saya tetap harus ikut mengaji. Saat itu jadwalnya adalah mengaji kitab irsyadul ibad. Kalau tidak ikut ngaji pasti saya juga kena takzir, padahal saya sudah mijeti semaleman sampai Shubuh.

Guru maupun santri semua wajib ikut ngaji irsyadul ibad tanpa terkecuali. Padahal waktu itu saya juga sudah guru. Andai disuruh mengaji atau mengajarkan kitab irsyadul ibad sendiri pun, kira-kira juga sudah bisa.

Suatu saat saya kelelahan habis mijeti beliau sampai Shubuh. Habis Shubuh saya tidur. “Mesti sing gak ngaji iki Buchori” (pasti yang tidak mengaji ini Buchori) keluh Pak Ali pada santri santri lain. Kebetulan ada murid saya bernama Hasbullah dari Banyuwangi. Dia didawuhi Pak Ali. “Bullah, jukuk o banyu, gebyur Buchori!!!” (Bullah, kau ambil air, lalu gebyurkan ke Buchori!!!).

Hasbullah mengambil air dan bergegas ke kamar saya untuk menunaikan tugasnya. “Pak Buchori, kulo diutus Pak Ali katuri nggebyur njenengan“. (Pak Buchori, saya diutus Pak Ali disuruh menggebyur panjenengan).

Kemudian saya terbangun lantas berdiri, tapi Hasbullah tidak berani nggebyur saya. Wong saya gurunya. Hahahaha… Tapi pada akhirnya, demi menuntaskan tugasnya, dia nggebyur saya tapi cuma pada bagian kaki saya saja. Hahaha

Dia kembali menghadap Pak Ali dan ditanya. “Pye wes mbok gebyur?” (Gimana sudah kamu gebyur?). “Sampun” jawab Hasbullah.

Saya 2 kali absen, tidak ikut mengaji. Sampai pada akhirnya, di kesempatan yang ketiga saya dikirimi Bakpia sama Pak Ali, seraya memberikan kepadaku, Pak Ali dawuh, “Iki gawe sangu ngaji” (ini buat bekal mengaji) kata Pak Ali. Saya pun menyadari jika Pak Ali mengetahui ketidakhadiranku mengaji, pun dengan Bakpia yang beliau berikan, adalah sebuah tamparan bagiku. Akhirnya saya kapok untuk tidak mengaji. Sengantuk apapun tetap saya paksa untuk ikut ngaji.

Itu lah sosok Pak Ali, selain disiplin dalam mengajar, beliau juga sangat akrab dengan para santrinya.

baca juga :

Tinggalkan Balasan