KH Abdul Hamid AQ : Almunawwir Pengemban Tugas Nasyrul Ilmi wad Din

6 months ago
durasi baca: 1 menit

Krapyak – Memasuki majlis haul, acara diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Alquran dan pembacaan syair almunawwiriyyah.

Setelah itu sambutan-sambutan. Sambutan pertama atas nama keluarga disampaikan oleh KH Abdul Hamid AQ. Dalam sambutannya beliau menyampaikan apabila ada kekurangan bagi bapak dan ibu, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. Serta kami mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang terlibat menyukseskan agenda haul ini.

Kebesaran Pondok Pesantren Almunawwir ini tidak bisa dilepaskan dari sosok beliau KH M Moenawwir yang telah meninggalkan kita 80 tahun yang lalu. alfadhlu lil mubtadi wa in ahsanal muqtadi keutamaan itu milik Bagaimanapun keutamaan layak disandang oleh pendahulu-pendahulu kita. Walaupun kita bisa berbuat lebih baik.

Di akhir sambutannya, Kiai Abdul Hamid berharap eksistensi Pondok Pesantren Al Munawwir semoga tetap terpusat dalam mengembanan tugas nasyrul ilmi wad din.Serta dapat bermanfaat bagi kepentingan agama bagi nusa dan bangsa.
“Semoga kita mendapatkan berkah dan ridho-Nya. Semoga kita semua juga mendapatkan berkah serta karomah dari Al Maghfurlah Simbah KH M Moenawwir bin Abdullah Rosyad,” takhtim beliau.

baca juga : “Sebanyak 366 Khatimat Telah Diwisuda”

Sambutan kedua disampaikan oleh Bapak Wakapolda DIY Drs. Bimo Anggoro Seno, S.H.

Dalam sambutannya Pak Bimo menjelaskan manaqib Mbah Munawwir dari kecil di Indonesia sampai besar di Mekkah. Kemudian bercerita ketika kematian Mbah Munawwir, bahwa 40 hari pasca beliau meninggal, setiap orang berziarah ke maqbarah KH M Moenawwir. Selain itu, kehebatan Mbah Munawwir juga terletak dalam karomahnya dalam keistiqomahan membaca Alquran.

“KH M Moenawwir menunjukkan kepada kita bahwa ada lebih tinggi kedudukannya daripada ilmu,” terang Bapak Wakapolda.

Di akhir sambutannya, Pak Bimo mengutip perkataan dari Mbah Munawwir, “apabila hidayah tiba, permusuhan pun musnah. Jadilah engkau seperti arti, dibutuhkan dan guna di mana saja. Atau sekalian menjadi batu, diam dan tidak berguna. Janganlah kamu menjadi kalajengking yang dilihat sudah menakutkan,”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *