Kembali Kepada Kepemimpinan Ulama

durasi baca: 4 menit
ILUSTRASI – Ulama. (Foto: NU Online/Jawa Pos)

Oleh : KH Ali Maksum

Perkenankanlah di sini kami mengkaji sedikit tentang NU di hari-hari pertama didirikannya. Dengan harapan agar dapat kita petik intinya, lalu kita pegangi dalam menjalankan roda jam’iyah. Sebab bagaimanapun, para leluhur NU kita tetap lebih utama daripada kita.

الفضل للمبتدي وإن احسن المقتدي
“Keutamaan tetap di tangan perintis, kendati si penerus lebih baik adanya”

Dalam Anggaran Dasar NU yang pertama, seperti tertuang “Statuten 1926”, didirikannya jam’iyah NU ini dimaksudkan untuk keteguhan bermadzhab empat dan juga untuk kegiatan apa saja yang menjadikan kemaslahatan agama Islam. Lalu dalam pasal berikutnya, dikemukakan beberapa cara untuk mencapai maksud tersebut, yaitu: mengkoordinir para Ulama, meneliti kitab-kitab sebelum diajarkan, melakukan dakwah Islamiah, mendirikan madrasah dan pesantren, menangani masalah-masalah yang menyangkut kepentingan masjid, langgar, pondok, anak yatim, dan fakir miskin. Kemudian yang terakhir adalah menangani masalah perekonomian dengan cara yang haq.

Maka dalam NU, letak Ulama selalu berada pada posisi yang menentukan. Ulama bukan sekedar staf ahli yang dipakai jika perlu. Tapi Ulama adalah pemimpin tertinggi, pemutus kata dan penentu arah organisasi. Kalau kita masuk dalam NU, berarti telah mau menerima kepemimpinan Ulama dalam artian tersebut. Perlu juga kami tegaskan di sini, bahwa yang dimaksud suara Ulama di dalam kepemimpinan NU adalah bukan suara seorang Ulama atau Kyai, tetapi yang dimaksud suara Syuriah sebagai lembaga tertinggi dalam kepemimpinan NU. Mekanisasi kepemimpinan seperti itu, sesungguhnya telah kita sadari bersama, karena tidak satu pun pemimpin NU, bahkan pemimpin terendah pun yang belum memahami maksud ayat dan hadis berikut:

إنما يخشى الله من عباده العلماء ْ وإن العلماء ورثة الأنبياء

baca juga : NU, Ulama dan Umara”

Maka dari itu, jika ada langkah-langkah yang tidak sesuai maka petunjuk Syuriah, apalagi bertentangan adalah tidak benar dan itu langkah sesat, walaupun kelihatannya mengatasnamakan NU. Langkah inilah yang menggusur kesucian NU, mengotori citra NU dan mencemarkan nama harum para leluhur NU yang sudah almarhum. Na’udzubillah.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, tidak banyak yang akan kami sampaikan. Hanya satu hal saja, yaitu: Marilah kita kembali sepenuhnya pada kepemimpinan Ulama, petunjuk dan konsepsi Ulama dalam NU. Selanjutnya kami melihat sekarang ada beberapa mabda’ (nilai) yang perlu dimantapkan penerapannya, yaitu:

Ikhlas
Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa ikhlas adalah:
تجرد الباعث الواحد لله تعالى
“Sikap hanya ada satu motif, yaitu lillahi ta’ala”

Jadi ikhlas adalah monoloyalitas penuh kepada Allah. Orang yang ikhlas itu tidak mengharapkan selain keridlaan Allah. Kalau dalam ber-NU ini kita ikhlas, maka baik menjabat atau tidak, tetap mengabdi, baik jadi DPR atau tidak, kita pun tetap mengabdi. Kalau kita ikhlas, maka pengabdian kepada NU yang lillahi ta’ala ini, semata-mata merupakan realisasi dari kemurnian cinta kita terhadap NU. Sekarang, cinta kita kepada NU ini apakah benar-benar cinta murni, atau ada udang di balik batu, marilah kita uji dengan rumus Sayyidina Ali sebagai berikut:

كل مودة عقدها الطمع حلها اليأس
“Setiap cinta yang diikat karena tama’ sesuatu, maka ia pudar jika sesuatu itu tak didapati”

Kalau kita memang ikhlas dalam ber-NU, maka kita akan mencintainya dengan cinta murni. Meskipun sudah kerempeng, tetap kita peluk, rangkul dan dekap erat-erat, sedikitpun tak dapat berpisah. Ibarat wanita, walaupun sudah keriput dan reyot, tetapi kita tetap mencintainya seperti waktu masih montok, berisi, basah, manja, berkulit halus dan ngidap-ngidapi.

Demikianlah tinggi nilai ikhlas sehingga Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ…..
“dan tiadalah mereka diperintahkan kecuali supaya mengabdi kepada Allah dengan ikhlas beragama…”

Dan dalam Hadis Qudsi, Nabi bersabda:

الإخلاص سر من أسراري أستودعه قلب من أحببت من عبادي
“Allah berfirman: ikhlas adalah salah satu rahasia-Ku, dan aku titipkan di dalam hhati hamba yang Aku kasihi”

baca juga : Pesantren : Benteng Terakhir Ajaran Islam”

Jujur
Jujur atau shidiq adalah menyampaikan sesuatu secara apa adanya.. demikian besar harga sikap jujur, maka menjadi salah satu Sifat Wajib Rasul yang wajib kita ketahui. Dalam hal ini, Imam Ghazali mencatat 6 segi dalam membentuk kejujuran yang sempurna (shidqun kamilun), yaitu:

a. الصدق في القول(Jujur dalam ucapan). Dalam hal ini menyangkut materi ucapan benar, penyampaiannya benar, dan ia benar-benar yakin bahwa si Mukhatab (orang kedua, yang diajak bicara) telah memahami ucapannya secara benar pula.

b. الصدق في النية (Jujur dalam niat). Yaitu, dalam melakukan kejujuran itu harus disertai dengan niat yang jujur juga. Sebab bisa saja seseorang menyampaikan sesuatu secara benar apa adanya, tapi niatnya busuk, misalnya mengadu domba, membangkitkan fitnah, dsb.

c. الصدق في العزم(Jujur dalam bermaksud). Sebab bisa saja seseorang bermaksud sedekah jika dikaruniai harta, bermaksud adil jika berkuasa. Tapi apakah maksud tersebut tetap begitu atau tidak, ini terserah kejujuran yang ada.
d. الصدق في الوفاء بالعزم(Jujur dalam realisasi maksud). Ini sudah jelas, sering terjadi seseorang setelah memperoleh karunia lalu lupa maksud semua.

e. الصدق في الأعمال(Jujur dalam berbuat). Perbuatan yang jujur adalah yang sesuai dengan ucapan, niatan dan maksud semula. Jelasnya, perbuatan yang memperkuat ucapan dan niatan. Nabi pernah berdo’a:
اللهم اجعل سريربي خيرا من علابنيتي واجعل لى علانية صالحة
“Oh Allah, jadikanlah jiwaku lebih bagus daripada lahiriahku, dan jadikanlah lahiriahku yang shalih”

f. الصدق في الأعمال (Jujur dalam berbagai status keagamaan). Maksudnya, dalam berbuat itu harus diterapkan juga berbagai etika agama. Misalnya, kapan harus dibarengi dengan sikap sabar, marah, memaafkan, menindak, dst.
Demikianlah dua hal yang amat sangat penting di saat-saat sekarang ini, yaitu ikhlas dan jujur. Memang ringan di bibir, tapi amatlah mengagumkan jika keduanya dapat terlaksana:
Sa’ad Zaghlul bilang:
يعجبني الصدق في القول والإخلص في العمل
“Membikin aku kagum, ucapan yang jujur dan perbuatan yang ikhlas”

Marilah kita isi NU kita dengan berbagai pengabdian dan aktivitas yang bermanfaat dengan dasar ikhlas dan jujur tersebut. Dengan bekal dasar dua hal tersebut, insyaAllah segala masalah dapat terselesaikan. Kalau kita benar-benar mukhlis dan shadiq, maka pemerintah akan lebih mantap lagi dalam merangkul kita sebagai partner untuk melaksanakan pembangunan ini. Kita tidak lagi dicurigai, tidak lagi terpojok dan dinilai ekstrim. Sebab sesungguhnya timbulnya anggapan negative terhadap kita tersebut, adalah karena kurangnya komunikasi, sehingga menyebabkan pemerintah salah paham, lalu muncullah anggapan negatif tersebut di atas. Tapi Alhamdulillah beberapa hari yang lalu telah kita sampaikan secara langsung kepada Bapak Presiden sehingga beliau cukup dapat memahami segala apa yang ada ini. Yakinlah, NU akan jaya di hari depannya, bi Aunillah. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *