Kedahsyatan Sebuah Wasilah

Esai Ngaji 0   630 views
durasi baca: 2 menit

ilustrasi by Najilul Barokah/Q

Almunawwir.com – Suatu hari seorang ibu tua mendatangi Imam Hasan al-Bashri. Ia baru saja ditinggal mati anak perempuannya. Kepada Hasan al-Bashri, ia menyampaikan kerinduan mendalam kepada anaknya. Ia merasa kehilangan. Ia ingin mengetahui keadaan si anak. Ia ingin berjumpa dengan anaknya meski dalam mimpi.

Hasan al-Bashri memahami perasaan yang dialami tamu tersebut. Ia kemudian menyarankan si ibu untuk melakukan sembahyang empat rakaat setelah sembahyang Isya. “Bacalah Surah Alhakumut Takatsur sekali setiap rakaat setelah pembacaan Surah al-Fatihah. Lalu berbaringlah. Bacalah shalawat nabi hingga kau tertidur.”

Perempuan itu mendengarkan baik-baik fatwa Hasan al-Bashri. Ia segera pulang dan menjalankan fatwa tersebut. Terjadilah apa yang dikehendaki si ibu. Ia dapat berjumpa dengan anak perempuannya yang telah meninggal. Tetapi ia begitu terkejut melihat anaknya terbelenggu dan terpasung dalam siksa kubur.

Bangun tidur, ia kembali menemui Hasan al-Bashri. Ia mengabarkan kondisi anaknya di alam barzakh. Mendengar cerita si ibu, Hasan al-Bashri pun sempat gelisah dan bimbang sesaat. Hasan al-Bashri menyarankan tamunya untuk bersedekah yang amalnya dihadiahkan untuk ahli kubur yang dimaksud.

Ibu tersebut pulang. Ia mengikuti saran Hasan al-Bashri. Benar saja, kondisi anaknya berubah di alam kubur. Tetapi kali ini Hasan al-Bashri yang justru mimpi bertemu anak perempuan tersebut. Pada malam itu, Hasan al-Bashri seperti berada di taman surga yang terdapat sofa bagus di dalamnya. Di taman itu Hasan al-Bashri melihat seorang perempuan muda yang cantik dengan mahkota cahaya di kepala.

Baca Juga: Mampukah Kita Membaca Ayat Ini dengan Sepenuh Hati?

“Apakah Tuan mengenal saya?” perempuan muda itu menyapa Hasan al-Bashri.

“Tidak.”

“Aku putri dari seorang ibu tua yang mengunjungi Tuan.”

“Iya, tetapi bukan seperti (sebaik) ini ibumu menceritakan kondisimu,” kata Hasan al-Bashri terheran.

“Tuan benar, kemarin-kemarin keadaanku memang demikian (buruk dan tersiksa).”

“Lalu dengan apa kau mendapat kemuliaan seperti ini?”

“Di alam barzakh, kami berjumlah 70.000 orang menerima siksa kubur. Tetapi suatu hari ada seorang saleh yang baik hati melewati pemakaman kami. Ia membaca shalawat nabi sekali dan menghadiahkan pahalanya untuk kami sehingga Allah membebaskan kami dari siksa tersebut melalui keberkahan Rasulullah saw. Keadaanku sampai berubah, seperti Tuan lihat sekarang,” jawab perempuan tersebut.

Ust. Muhammad Yunan Roniardian, M.Sc
follow
Latest posts by Ust. Muhammad Yunan Roniardian, M.Sc (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *