Kandang Menjangan

durasi baca: 3 menit

Oleh: lukim*

Suara burung bercicit syahdu di atas pohon asem dekat bangunan tua dengan corak arsitek zaman penjajahan. Suara itu terus menghiasi langit kuning semu merah tanda akan datangnya malam. Aku mengikuti suara itu dengan siulan bibir sambil melihat ke arah bangunannya. Bangunan kusam dengan warna  putih yang pudar oleh lumut dan bentuknya menyerupai ka’bah dinamakan dengan Kandang Menjangan. Disetiap sisinya terdapat pintu dan dua jendela disamping kanan dan kirinya yang terbuat dari besi bak  jeruji penjara.

kandang menjangan krapyak (foto by panorama jogja)

Terkadang aku berpikir, pada zaman dulu bangunan itu dipergunakan untuk berburu oleh keluarga kerajaan hadiningrat yogyakarta, toh kenapa sekarang bangunannya dipakai sebagai penjara santri yang melanggar hukum pondok? aku terus berjalan mengitarinya dan melihat  pondok pesantren seluas desa yang melingkari bangunan itu,  lalu bertemu seorang pengurus bangunannya yang berdiri tepat didepan pintu.

Mbah, kenapa bangunannya kosong. Apa tak ada santri yang melanggar?

diperkirakan Lelaki kurus berumur 40 tahun dengan tinggi 150 cm itu memakai peci kusam dan sarung lusuh,  memperlihatkan wajah yang murung sesudah aku tanya seperti itu. Seketika suara burung itu berhenti, seolah ingin tahu jawabannya. Dia menunduk sebentar sambil memegang kepalanya lalu menatapku, “Namamu siapa, ya, Mas?” “Sutoyo, Mbah, warga sini,”dia menjawab seolah-olah mengalihkan pembicaraan.

Aku membenarkan celana congkrang putih dengan tasbih melingkar ditangan kiriku. sambil menunggu jawabannya, tangan kananku terus mengelus-ngelus jenggot yang lebat diikuti dengan ayat ayat tasbih yang aku bacakan dalam hati. tak lama kemudian si mbah meneruskan perkataanya “Ini, Mas Toyo. Kayanya, santri sini pada baik-baik. Buktinya, bangunan ini tetap kosong.” Kedua alisku mengkerut dengan mata menatap kearah Si Mbah. Aku kesal, mana mungkin santri disini tak pernah melanggar peraturan. apakah Saling pandang tatap muka sesama lawan jenis itu bukan maksiat?. malahan sebelum menyapa, aku melihat dua pasangan berciuman dibelakang bangunan ini.  itu semuanya sudah jelas maksiat yang sudah diatur dalam al-qur’an dan hadist. Gumanku dalam hati.

Ingin rasanya kukepal mulut dia dengan tanganku ini dan melemparkan tasbiehku kearah mukanya.  Aku kembali mengingat kenangan waktu belajar dipondok pesantren. Hukumannya sekeras batu dan tegas tanpa alasan. Setiap adzan berkumandang, tak ada santri yang berada di kamar, semuanya sudah berbaris bershaf-shaf menunggu sholat berjama’ah dimulai. Jarak santri (laki-laki) dan santriwati (perempuan) jauh sekali, jika melihat kaum Hawa seperti menemukan mutiara dilautan lepas.

Setahuku di Pondok ini, ribuan santrinya merasakan hidup senang, tanpa ada kekangan dan aturan yang memaksa. julukannya sudah terkenal yaitu pondok pembebasan. Setiap adzan berkumandang mereka memilih tidur, jadwal ngaji dimulai mereka pergi kewarung kopi untuk merumpi kesana kemari. Pulang ke pondok hanya untuk tidur, makan dan ngopi. Santri macam apa itu?.

Aku menyangkal jawabannya dengan nada keras, “Mbah tak lihat. Disini banyak santri yang keluar. Setiap hari mereka selalu berpapasan dengan santriwati. Apakah ini bukan pelanggaran dan maksiat mbah?”, “oalah. Itu tho mas. Sudah jadi tradisi sini mas. Santri seperti raja, keluar bebas, ngaji semaunya.” Tak kusangka jawabannya seperti itu. Tasbeh kupetik dengan kencang hingga hampir putus. Tangan kananku mengepal sekeras batu ingin ku hempaskan ke mukanya tanda kemurkaanku.

“Mbah tak takut dapat dosa. Santri disana bermaksiat sedangkan sampean diam mematung disini.   Apa gunanya penjara ini sedangkan hukum segini adanya?” tegasku dengan pertanya, ”Tak tahu mas. Ini sudah tradisi. Disini santrinya dididik untuk menjadi orang yang bebas, supaya mereka tau bagaimana hidup seperti itu. Nanti juga mereka sadar sendiri.” Jawabnya singkat

Aku Tarik nafas dalam-dalam. Jawabannya membuat dadaku sesak. Udara yang masuk ke hidung berbau busuk, bau ketidak sucian. bau maksiat. Aku jawab dengan suara bergelombang “loooh, pikiran seperti itu salah. Santri itu ngaji, bukan malah hidup bebas. Mereka diajarkan seperti itu apakah mbah yakin akan berubah?.  Apakah mbah yakin mereka akan jadi manusia yang bermanfaat bagi yang lainnya?. Mereka yang akan memegang dunia dimasa yang akan datang. Mereka akan jadi pembuka agama disetiap rumahnya. Kalau pendidikannya seperti ini, bagaimana mereka siap terjun langsung mensyiarkan agama islam yang rahmatan lil’alamin.

Udara sore yang harusnya dingin malah menjadi panas. “iya mas. tapi  ini sudah tradisi. Insyaalloh mereka akan berubah. Alloh sudah mengaturnya”. Jawabannya sama. Kuputar tasbeh dengan irama illahi yang kubaca. Sudah jelas bahwa itu maksiat malah terus mengikuti tradisi. Tradisi yang keliru membuat orang keliru. Percaya bahwa Alloh itu Maha Merubah hanya dalam mulutnya tanpa ada perubahan yang dia lakukan. Semuanya mustahil.

Aku sudah muak dengan semuanya. Tasbehku putus, butirannya aku lempar ke wajah itu sambil berkata dengan nada keras.”mbaaah. ini semua maksiat. Alloh akan melaknat kalian. Buat apa perjara ini ada lebih baik dijadikan monumen bersejarah yang bisa bermanfaat dan dinikmati semua orang. DASAR KAFIR!. Awan mulai mendung dan langitpun mulai gelap. Si mbah dengan santai mengusap wajah lalu menjawab “tidak bisa mas. Ini sudah jadi tradisi.”

*Lukmanul Hakim Santri Komplek eL PP. Al Munawwir 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *