IKAPPAM

Hampir disetiap lembaga pendidikan, alumni selalu memegang peranan penting dalam memajukan almamaternya. Apabila alumninya baik, akan dipandang baik pula almamaternya olah masyarakat. Sebaliknya, apabila alumninya setelah lulus justru menjadi lebih buruk, orang-orang akan menganggap lembaga pendidikan tempat dimana dulu ia belajar adalah tempat yang buruk.

Mengutip ujaran almarhum KH. Muntaha Al-Hafidz, pengasuh PP Al-Asy’ariyah Wonosobo dan salah satu murid Almarhum Mbah Munawwir; “Maju atau mundurnya pondok, tergantung alumni.”

Menyadari akan hal ini, atas inisiatif para alumni Pondok Pesantren Al-Munawwir Yogyakarta dan almarhum KH. Zaenal Abidin Munawwir, terbentuklah IKAPPAM (Ikatan Alumni Pondok Pesantren Almunawwir) sebagai wadah bagi para alumni.

ik
Berdiri untuk memberi manfaat

Didirikan pertama kali pada tahun 1992, IKAPPAM menjadi wadah bagi alumni Al-Munawwir agar silaturahmi antar sesama alumni maupun ahlen bisa tetap terjaga.  Dibentuknya IKAPPAM juga diharapkan agar para alumni yang sudah berjuang di tempat lain, senantiasa ingat dengan latar belakangnya sehingga tingkah lakunya sesuai dengan nilai-nilai Qur’ani yang diajarkan di Pesantren Al-Munawwir.

“Santri dan alumni seyogyanya di setiap tindak-tanduknya, bisa memberi manfaat bagi masyarakat luas,” ujar KH. Muhtarom Ahmad, Ketua IKAPPAM.

Agar hubungan silaturahmi antar alumni tetap terjalin, IKAPPAM mengadakan pertemuan bulanan yang digelar setiap hari Ahad Wage di Aula Komplek AB Al-Munawwir Krapyak. Namun mulai awal tahun 2015, jadwal pertemuan diganti setiap Ahad Legi atas permintaan Ny. Hj. Ida Fatimah, Istri dari almarhum KH. Zaenal Abidin Munawwir. Agenda pertemuan bulanan selalu diwalai dengan beberapa amaliah, seperti Yasin & Tahlil, Sholat Taubat, Sholat Hajat, Sholat Tasbih lalu dilanjutkan dengan diskusi. Selain pertemuan bulanan di Yogyakarta, IKAPPAM di daerah lain juga memiliki agenda pertemuan di daerahnya masing-masing dengan jadwal yang berbeda-beda.

IKAPPAM sejauh ini mempunyai peran yang penting atas kemajuan Pondok Pesantren Al-Munawwir, khususnya di bidang pendidikan. Salah satunya adalah di dirikanya  lembaga pendidian di bawah Yayasan Al-Munawwir, yaitu Al-Ma’had Al-‘Aly, atas hasil diskusi antara alumni dan juga KH. Zaenal Abidin Munawwir. Di setiap pertemuan bulanan, IKAPPAM juga memberikan beberapa rekomendasi untuk kemajuan Yayasan yang disampaikan pada setiap peringatan Haul KH. M. Munawwir bin Abdullah Rosyad. Beberapa kitab karya almarhum mbah Zaenal, sapaan akrab KH. Zaenal Abidin Munawwir, juga berawal dari tanya jawab antara alumni dengan mbah Zaenal pada saat diskusi ketika pertemuan bulanan berlangsung.

Pesantren Al-Munawwir yang telah lama berdiri tentu memiliki ribuan alumni yang berasal dari seluruh penjuru daerah di Indonesia. Saat ini banyak alumni santri Krapyak yang telah menjadi tokoh penting di Indonesia, seperti KH. Mustofa Bisri (Rais ‘Am PBNU), KH. Said Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU), almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Presiden RI Ke-3), serta masih banyak lainya yang menjadi tokoh nasional atau yang menjadi pengasuh pondok pesantren di berbagai daerah di Indonesia. Hanya saja karena jumlah total alumni Ponpes Al-Munawwir yang begitu banyak, tidak semua terdaftar di database IKAPPAM.

KH. Muhtarom Ahmad menghimbau kepada semua alumni yang merasa dirinya belum terdaftar di database untuk menghubungi sekretaris, yaitu Bapak Ihsanudin, yang beralamat di Jl. Parangtritis sebelah kampus ISI, atau bisa langsung datang di pertemuan bulanan setiap Ahad Legi. Beliau juga menambahkan,

“Semua santri diharapkan untuk tekun mengikuti setiap pengajian, terutama pengajian Al-Qur’an, sebab Pesantren Al-Munawwir identik dengan Al-Qur’an. Dalam belajar Al-Qur’an itu tidak hanya dibaca, namun juga dipahami maknanya. Semua santri jika besok sudah lulus dan menjadi alumni, agar tetap senantiasa menjaga akhlak dan mengamalkan ilmu yang sudah didapatkan selama mondok. Juga mau aktif di IKAPPAM dan bersama-sama memberi kemanfaatan untuk kemajuan Pesantren Al-Munawwir maupun Bangsa Indonesia.” [Rofik
]

Bagikan