Ibadah Musiman di Bulan Ramadan

by Mei 20, 2019
Esai Warta 0   255 views
durasi baca: 2 menit

Oleh: Ahmad Segaf*
Bulan Ramadan sedang kita lalui. Sejak awal kita bersegera menata diri untuk menyambut bulan yang suci ini. Mulai dari membersihkan lingkungan rumah atau pondok, merencanakan makan puasa dan sahur, dan yang paling terpenting adalah merencanakan ibadah-ibadah sunnah yang akan dilakukan rutin selama bulan Ramadan.

Puasa Ramadan tentulah ibadah wajib, kita pasti melakukannya dan takut akan dosa jika meninggalkannya. Berbeda dengan ibadah sunnah, tak akan ada dosa yang diberikan jika kita tidak melakukannya. Namun, di bulan Ramadan ini, kita akan selalu berusaha untuk melaksanakan ibadah sunnah karena Allah SWT sedang mengobral pahala. Sehingga, Ibadah sunnah seperti sholat tarawih, tadarus, sedekah, dan lainnya menjadi sangat menarik untuk diamalkan.

Namun, seperti halnya barang yang telah lama diidam-idamkan dan baru saja dibeli, ibadah-ibadah sunnah yang sejak awal Ramadan kita amalkan dengan penuh semangat, lama-lama akan dirasa bosan dan mengatakan pada diri kita sendiri, “Aduh berat ya, tubuh malah tambah lemas, laparnya minta ampun..”. Rasa malas seakan muncul mengurung kita dari segala arah, dan pada akhirnya kita jarang lagi melakukannya, atau malah meninggalkannya.

Inilah yang penulis sebut dengan ‘ibadah musiman di bulan Ramadan, pada awal Ramadan, masjid-masjid ramai, shaf-shaf penuh sampai belakang, suara tadarus Alquran mendengung siang-malam, serta kotak amal dipenuhi uang kertas. Namun hal ini seringkali terjadi hanya sampai pertengahan bulan puasa, tidak sampai akhir.

Hal ini terjadi karena kita menjadikan ibadah sunnah hanyalah sebagai keinginan nafsu untuk mendapatkan pahala yang melimpah, bukan dijadikan sebagai sesuatu yang benar-benar kita butuhkan untuk bekal kehidupan dunia dan akhirat kelak.

Jika disikapi secara benar, tentu kita akan melanggengkan ibadah sunnah tidak hanya di bulan puasa, namun akan menjadi rutinitas ibadah sehari-hari.
Agar ibadah yang kita tabung sejak Ramadan ini bisa langgeng dilakukan sehari-hari, kita butuh keyakinan dan tekad yang kuat, tubuh harus dipaksa walaupun terasa berat. Kita juga bisa mencari teman yang dapat mendukung niat kita.

Sebagai penerapan sikap ‘ihsan’, bayangkan saja Allah sangat senang jika kita terus melakukan ibadah sunnah, dan Dia akan sedih jika sekali saja kita absen. Jika kita rajin, tentu Allah akan memberi kita hadiah yang sangat besar, yaitu surga.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
(QS Fushshilat : 30)

*Santri Komplek K1 Pondok Pesantren Almunawwir

Tinggalkan Balasan