Harlah NU 93, Keluarga Santri Jawa Timur Selenggarakan Seminar Keaswajaan

Yogyakarta- Dalam rangka memperingati hari lahir NU ke-93, Keluarga Santri Jawa Timur Krapyak (KASAJI Krapyak) pada hari Ahad, 27 Januari 2019 menyelenggarakan Seminar Ke-Aswajaan yang bertajuk “NU yang Saya Anut, NU yang Saya Pahami, NU yang disalahpahami.” Acara yang berlokasi di gedung PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta ini dihadiri sekitar 200 peserta.

Dimulai sejak pukul 09.30, acara ini menghadirkan 3 pembicara yang merupakan praktisi NU. Masing-masing pemateri menyampaikan persoalan ke-NU-an dari sudut pandang kiai, akademisi, dan santri. Seminar ini dibuka oleh Faishol Amin, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, selaku moderator.

Dari sudut pandang kiai, hadir KH. Drs. M. Habib A. Syakur, MA selaku pembicara. Pengasuh PP. Al-Imdad II Bantul ini mendapat kesempatan berbicara mengenai NU yang saya anut. Beliau menjelaskan bahwa NU yang saya anut adalah NU yang wasatiyah (tengah-tengah), dan menerima perbedaan. Menurutnya, perbedaan adalah potensi. Ibarat bangunan, harus terdapat pasir, semen, dan lain-lain. Islam pun demikian, tidak boleh seluruh komponen Islam ini seragam.

Selanjutnya, Ahmad Rafiq, M.Ag., Ph.D. selaku Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga bertindak sebagai pembicara kedua. Beliau memaparkan metodologi dan alternatif sikap untuk memahami segala aktivitas NU. Menurutnya, amaliah NU yang dijalankan oleh masyarakat masih di tingkat ibadah.

Sedangkan untuk dapat memahami segala perubahan dan perbedaan di masyarakat, perlu adanya pemahaman secara epistem, atau dalam NU dikenal dengan fikrah. Setelah prinsip-prinsip tersebut dimengerti dengan baik, maka harus ada harakah atau pergerakan. Harakah berfungsi untuk menyelesaikan berbagai problem kemasyarakatan, mulai dari ekonomi, sosial-budaya, politik, dan lain sebagainya.

Materi terakhir disampaikan oleh M. Ihsanuddin, M.Si. selaku pemerhati dan praktisi NU yang aktif berperan dalam dunia pesantren dan epistimologi santri. Beliau menyampaikan tentang tradisi NU yang kerap disalahpahami. Pada dasarnya tradisi dalam NU adalah dakwah islamiah yang diakulturasikan dengan budaya masyarakat Indonesia. Dakwah yang dibawa oleh Saad bin Abi Waqash ketika menginjak tanah Nusantara itu sama persis dengan budaya pesantren.

Demikian inti dari salah satu teori masuknya Islam di Nusantara. Sebaliknya, jika muslim nusantara terus mengikuti budaya dari luar, lama kelamaan wajah Islam nusantara akan hilang, dan kita akan kehilangan identitas. Dari segi sejarah dan budaya, NU memiliki sanad keilmuan yang terus bersambung dan dapat dipertanggungjawabkan. “Jadi kita ini sebenarnya adalah kelompok yang paling sah disebut sebagai pewaris Nabi di Nusantara,” tandasnya.

Afif Naufal selaku ketua pelaksana mengatakan, “Adanya kegiatan ini bertujuan untuk menangkal upaya radikalisasi yang membahayakan keutuhan NKRI; mengingatkan kembali prinsip-prinsip islam yang telah diajarkan ulama salafushshalih; dan untuk ‘ngaji’ (ngatur jiwo).”

Hj. Ida Fatimah Zainal selaku Pembina KASAJI Krapyak sekaligus salah satu pengasuh PP. Al-Munawwir menyebutkan bahwa, generasi NU saat ini kian mengalami kemunduran dan membelok dari prinsip NU yang ditanamkan leluhur, sehingga perlu adanya revitalisasi nilai-nilai NU. Oleh karena itu, Seminar Ke-Aswajaan penting diadakan.

Tampak beberapa banser turut mengawal keamanan selama acara.

Ketua umum KASAJI Krapyak, Robbin Dayyan, mengatakan, “Ini dikarenakan adanya insiden-insiden yang terjadi dalam event NU beberapa waktu lalu. Terlebih tahun 2019 adalah tahun politik yang rentan dengan munculnya berbagai atribut partai, kami berusaha meminimalisir itu.”

Selanjutnya, pada peghujung acara, Ketua Umum KASAJI Krapyak menyerahkan cinderamata kepada pemateri. Musikalisasi puisi oleh perwakilan anggota KASAJI Krapyak diiringi alunan biola oleh santri Ali Maksum turut menyemarakkan jalannya acara yang usai pada pukul 12.00 tersebut. (Faiqoh/)

Tinggalkan Balasan