Halaqah Tematik: Bagaimana UU Pesantren Bisa Difermentasi dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0

by Januari 5, 2020
Warta 0   266 views
durasi baca: 2 menit

Photo: @yayasan.ali.maksum

Almunawwir.com – Halaqoh Tematik Pondok Pesantren se-DIY digelar dalam rangka memperingati Haul KH Ali Maksum yang ke 31. Acara ini dilaksanakan di Aula SMA Ali Maksum pada hari Sabtu, 4 Januari 2020 pukul 09.00 WIB.

Mengusung tema ‘Dinamika Pesantren Era 4.0’, acara ini diikuti oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM), Ketua RMI (Rabithah al-Ma’ahid al-Islamiyyah) NU pusat, Pengurus PWNU DIY, Jamiyah Pengasuh Pondok Pesantren Putri dan Muballighoh serta Pengasuh Pondok Pesantren se-DIY.

Acara ini dibuka oleh shohibul bait walhajat yang dalam acara ini diwakili oleh Ibu Nyai Hj. Hindun Annisah, MA. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa tujuan dari terselenggaranya halaqoh ini sangat erat kaitannya dengan UU pesantren. Bagaimana UU pesantren dapat difermentasikan dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0. Sehingga dapat ditemukan titik jawab di manakah posisi pesantren seharusnya. Terutama dengan kemajuan digitalisasi yang begitu cepat berkembang.

Halaqoh ini dimoderatori oleh Bapak Masyhuri. Pada sesi pertama, materi disampaikan oleh KH Abdul Ghofur Rozin, pengasuh Pondok Pesantren Maslahul Huda Kajen Pati.

Beliau menyampaikan bahwa 95% pesantren menjaga jarak dengan teknologi, terutama gadget. Para pengasuh masih memandang gadget sebagai ancaman bagi para santri ketimbang sebagai wasilah. Padahal di dalam perang informasi, peran santri sangat dibutuhkan dalam mengisi media. Terhitung ada 30 situs keislaman yang dijadikan rujukan anak milenial. Di urutan pertama yang menjadi rujukan adalah NU Online. Lalu di urutan ke 16 yang menjadi rujukan yakni Islamic.co. Selain urutan 1 dan 16, berbagai faham yang berbeda telah menguasai informasi dan menjadi sumber rujukan bagi santri milenial zaman kini.

“Semestinya santri belajar teknologi dari kalangan kita bukan dari orang lain, sehingga santri dapat mengontrol dan mengolah penggunaan media dengan baik”, ucap beliau.

Beliau juga menjelaskan bahwa di dalam UU Pesantren terdapat beberapa poin yang ditegaskan yakni, 1) rekognisi pesantren 2) penguatan kualitas 3) menjaga ke-khasan, bukan formalitas dan penyeragaman 4) menjaga independensi bukan intervensi dan birokratisasi 5) menjaga komitmen kebangsaan. Sehingga adanya UU pesantren ini, agar pemerintah mengakui pesantren salafiyyah dengan mekanisme tertentu.

Baca Juga: Ketika Kiai Hasan Abdullah Dibina KH Ali Maksum: Dari Novel, Bioskop Hingga ‘Proposal Hidup’

Materi ke dua dipaparkan oleh Bapak Bahlil Lahadalila. Beliau merupakan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM). Dalam hal ini beliau menyampaikan tantangan terkait pesantren dan santripreneurship di era 4.0.

Beliau menjelaskan bahwa teknologi merupakan fasilitas yang bagus akan tetapi isinya terkadang berisi kekacauan. Hal tersebut menjadi kekhawatiran orang dewasa terhadap penggunaan teknologi terhadap anak-anak. Di lain sisi pemanfaatan teknologi yang bagus juga mengakibatkan efek yang bagus pula.

Beliau memaparkan bahwa ekonomi santri itu lebih menitikberatkan pada satu industri UMKM. Pemerintah sedang meminta kepada penyedia jasa toko online untuk lebih menjual produk-produk industri dalam negeri, minimal 50%. Perlu diketahui jika pesantren merupakan tempat untuk mempelajari basis agama, akan tetapi kedepannya syiar para santri dalam agama tidak cukup dengan lantunan ayat ayat al-Quran dan hadis melainkan dibutuhkan beberapa muatan ekonomi.

“Harapannya para santri setelah lulus ketika mengajar agama dan mengabdi kepada masyarakat mereka memiliki cara untuk memperkuat perekonomian mereka”, harap beliau.

Acara ini dilanjut dengan tanya jawab yang kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ibu Nyai Hj Ida Fatimah Zainal.

Selain acara ini menambah pengetahuan kepada para peserta halaqoh, acara ini menjadi ajang silaturahmi dan temu kangen bagi sesama peserta halaqoh yang notabene pernah mengenyam pendidikan di Krapyak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *