Habib Syekh Abdul Qodir Assegaf: “Berbeda Tidak Harus Bermusuhan”

by Februari 13, 2017
Mauidzah Warta 0   599 views
durasi baca: 4 menit

“Kita jangan saling menyalahkan. Indonesia harus ciptakan ketentraman dan ketenangan dengan adanya perbedaan. Ayo toh rukun, rukun itu indah, enak. Ribut boleh, tapi langsung selesai, ojo dowo-dowo.” pesan Habib Syekh.


Krapyak, Mengusung tema “Sholawat dan Doa untuk Indonesia 2017”, dari Yogyakarta untuk Indonesia. Selaku penyelenggara adalah Komplek Padang Jagad dan JTMJP (Jama’ah Ta’lim Wal Mujahadah Jum’ah Pon) yang diasuh oleh KH. Chaidar Muhaimin. Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek Padang Jagad menyelenggarakan kegiatan tersebut bekerja sama dengan beberapa elemen, seperti Polda DIY dan TNI. Sholawat dan Do’a bersama tersebut, menggaet Ulama sekaligus Habib yang masyhur disapa dengan Habib Syekh, lengkapnya Habib Syekh Bin Abdul Qodir Assegaf.

Acara rutinan yang diadakan setiap tahun ini, dimulai dengan pembacaan Qashaid (beberapa qoshidah-red ) oleh jam’iyah Ahbabul Mushtofa Solo sekitar pukul 18.40 WIB. Sebelum acara dimulai, para jama’ah telah ramai membanjiri Bumi Krapyak. Tentunya, kepadatan tersebut dipenuhi oleh para “Syekhermania”—panggilan untuk penggemar Habib Syekh sendiri. Meskipun tidak sedikit para pecinta sholawat dari beberapa daerah yang memadati.

Sedang puncak acaranya sendiri dimulai pukul 20.30 WIB dengan pembacaan sholawat bersama yang dipimpin oleh Habib Syekh dan diselingi dengan alunan musik hadrah dari Ahbabul Mushthofa.

Sekalipun suasana sesak akan lautan manusia—sebab di jalan pun penuh, namun acara sangat kondusif. Para penonton yang notabene Syekhermania tetap tertib dengan duduk rapi dan saling bersholawat. “Suasananya demikian menakjubkan, para penonton begitu kompak dan sangat antusias,” ungkap Ratna salah satu santri Al Munawwir.

Selain itu, dalam acara sholawat dan doa kali ini, tidak hanya diramaikan oleh para Syekhermania dan kalangan santri sendiri, namun juga pedagang kaki lima di sepanjang jalan menuju lokasi utama acara.

Setelah pembacaan sholawat qobla mahallul qiyam dirasa cukup, seperti biasa, Habib Syekh selalu menyelingi dengan memberikan petuah-petuah kepada para jama’ah. “Orang yang selalu ingat kepada Allah, ia akan mendapatkan kesejukkan, ketenangan dan ketentraman. Namun, jika seseorang tidak merasa tenang dan tentram, berarti Allah sedang lepas dari dirinya. Ia lupa dengan Allah.” Ujar Habib Syekh dengan gaya dan ciri khasnya, bersemangat.

Beliau melanjutkan, “Kenapa akhir-akhir ini sering terjadi  kegelisahan, kekacauan, bahkan sampai saling memfitnah? Karna di hati mereka tidak ada dzikrullah.” Habib Syekh mengatakan bukan hanya perkara dalam membaca Laillahaillah tapi juga di sertai perbuatan kita, tingkah laku kita yang sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Apabila kita menyalahi aturan-Nya, jelas, kita akan gelisah. “Itu pasti,” tegasnya.

Di zaman sekarang ini banyak orang tidak peduli dengan hal-hal seperti itu. Habib Syekh menambahkan perihal ciri orang baik ialah mereka yang tidak bisa tidur sebelum mendengar berita bahagia dari orang di sekitarnya. Beda dengan kondisi saat ini, kebanyakan orang tidak bisa tidur karena merasa iri atas kebahagiaan orang lain.

Mengenai kemaslahatan Indonesia, Habib Syekh juga berkomentar, “Sifat baik tersebut mari sama-sama kita timbulkan. Dimulai dari diri sendiri, rumah tangga, kampung, kota, lingkungan sekitar, kemudian nantinya Indonesia. Jadi, ketika akan berbuat baik jangan menunggu orang lain, kitalah yang harus menjadi orang pertama. Jadilah pelopor kebaikan di Indonesia,” ujar Habib.

Terkait kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini, Habib kembali menyampaikan bahwa janganlah kita menjadi pribadi yang hanya pandai berbicara dan menyalahkan orang lain, tetapi jadilah pribadi yang pandai mengoreksi diri sendiri. Karena bisa jadi, keburukan kita jauh lebih banyak dibandingkan dengan orang lain. Tanpa kita sadari, sesungguhnya keburukan orang lain yang nampak di mata kita merupakan keburukan kita yang sedang Allah tutup, sehingga tidak nampak di mata kita juga orang lain. Jadi, apabila kita dihadapkan dengan seseorang yang nampak keburukannya, jangan ditinggalkan, dicaci, dimusuhi, apalagi dilaknat. Dekati dia, nasehati secara halus, karena bisa jadi orang tersebutlah sarana kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Dewasa ini, Bangsa Indonesia dipenuhi permusuhan dan propaganda berkedok perbedaan ras, etnis dan agama, Habib Syekh mencoba menyamakan visi mengenai keragaman dan perbedaan. “Sama halnya dengan para Ulama yang ceramah di berbagai tempat, kebermanfaat isi ceramah yang Ulama sampaikan akan lebih terasa apabila terdapat orang yang kurang baik, karena ceramah memang bertujuan untuk mengingatkan dan mengajak orang yang kurang baik menjadi baik dan lebih baik. Perbedaan itu harus ada. Wajib malah. Kita kadang salah mengertikan perbedaan. Beda bukan berarti bermusuhan. Perbedaan bukan perpecahan. Karena dengan adanya perbedaan, kita bisa tahu mana yang menjadi hak kita mana yang bukan.” Tegas Habib yang lahir di Solo 56 tahun silam.

“Saya beda tidak masalah,” guyon Habib. “Beda dalam kebersamaan itu indah,” tambahnya.

Habib Syekh juga memberi perumpamaan mengenai hal tersebut, “Seperti saat ini, kami diberi minuman macam-macam, dan kami boleh memilih minuman kesukaan masing-masing. Pak Dhofiri suka teh. Pak Danden suka kopi. Saya suka air putih. Gus Endar suka rokok. Apakah saya boleh menyalahkan mereka karena berbeda dengan saya yang suka air putih? Tidak begitu kan? Dengan minuman yang berbeda, kami tetap duduk bersama, sebab beda dalam kebersamaan itu indah.”

Ada satu lagi guyonan dari Habib Syekh yang mana semisal beliau dan istri beliau fisiknya sama, “Kiro kiro piye? Turu bareng, ndelok wajahe podo. Ndak napsu sama sekali. Jadi ya memang sudah seharusnya perbedaan itu ada,” ujar Beliau tegas.

Terakhir, pesan Habib Syekh, “Kita jangan saling menyalahkan. Indonesia harus ciptakan ketentraman dan ketenangan dengan adanya perbedaan. Ayo toh rukun, rukun itu indah, enak. Ribut boleh, tapi langsung selesai, ojo dowo-dowo.”

Acara ditutup kurang lebih pukul 22.40 WIB dengan bersholawat mahallul qiyam dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Padamu Negeri dan Garuda Pancasila secara bersama-sama. [Tim Media | Aninda*]


* Rr. Aninda Wibowo, Santriwati R2

baca juga :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *