Gus Baha: Orang itu Harus Senang dengan Taat

by Januari 7, 2020
HAUL Warta 0   765 views
durasi baca: 2 menit

Gelegar: Gus Baha menyampaikan mauidhoh dengan gaya semangat yang membuat audiens rileks. Sumber Foto: Istimewa

Almunawwir.com – “Yang saya kenang dari Mbah Ali Maksum itu dari murid-muridnya dan saya menyaksikan sendiri itu “senang guyon”. Karena itu menurut saya filosofi yang sangat luar biasa,” kenang KH Bahauddin Nursalim ketika menyampaikan ceramah di Haul KH Ali Maksum ke 31. Sabtu malam (04/01/2020).

Orang itu, Gus Baha melanjutkan, sampai mencari kesenangan dengan maksiat, karena tidak nyaman dengan taat. Sehingga, kiai-kiai alim termasuk Mbah Ali Maksum, Mbah Maimun, Bapak saya (Kiai Nur Salim), semuanya itu mengamalkan taatnya dengan cara suka bercanda. Supaya orang itu nyaman dengan kiai, nyaman dengan taat. Sehingga tidak perlu lagi senang dengan yang maksiat.

Kiai yang akrab disapa dengan Gus Baha itu melanjutkan, bahwa bercanda itu ada filosofi yang luar biasa. Supaya orang itu farrah bi tha’ah atau farrah bima ahlahullah. Kita mencium tangannya Mbah Ali Maksum sudah senang, dan dikenang sepanjang masa, itulah santri. Ini yang harus kita gerakkan di zaman akhir. Jadi, orang harus terbiasa senang dengan taat, dan ekspresi ridho yang paling mudah itu ceria dan riang gembira.

Baca Juga: Dubes Arab Saudi Apresiasi Kebesaran Krapyak

Gus Baha kemudian melanjutkan pembahasan mengenai “Hujjah Ahlussunnah Waljamaah” sebuah kitab karangan KH Ali Maksum yang disimpan di ruangan khusus rumahnya. “Tahaddus binn’mah, saya ini lama sekali mengkaji kitabnya Mbah Ali Maksum, Hujah Ahlussunnah Waljamaah, sebelum diundang dan saya tidak pernah membayangkan diundang di sini.”

Dalam kitab tersebut Mbah Ali berpesan tentang tata cara meminimalkan konflik atau perbedaan pendapat. Kita berkeyakinan bahwa yasinan, tahlilan itu sampai ke mayit, itu boleh dan kita hadiahkan sampai ke mayit. Ini dari awal hanya masalah khilafiyah, sehingga tidak perlu menjadi konflik yang berkelanjutan baik kita menuntut yang melakukan itu atau menuntut yang menentang itu karena dari awal ini hanya masalah furuiyah.

Gus Baha juga mennyebut referensi kitab yang dirujuk oleh Mbah Ali berasal dari ketetapan ulama lokal ataupun internasional. Dalam hal ini yakni ketetapan mengirimkan doa kepada jenazah yang sudah meninggal, Mbah Ali mengutip Ibnu Taimiyah yang sering dipakai oleh orang-orang sana (minhum, red.).

“Jadi kata beliau itu sederhana saja, kalau yang melarang (al-mani’u) tahlilan melarang yasinan dikirimkan ke mayit itu punya sanad, yang membolehkan juga punya sanad. Jadi pesan saya kepada santri-santri Krapyak, sebetulnya masalah kita ini adalah tercerabut dari ilmu. Ini gejala akhir zaman,” pungkas Gus Baha.

Tinggalkan Balasan