Gus Ali Sebut Mbah Munawwir Ulama yang Konsisten dengan Perkataan dan Perbuatan

by Februari 5, 2020
HAUL Mauidzah Warta 0   169 views
durasi baca: 2 menit

KH Agoes Ali Masyhuri saat memberikan mauidhoh hasanah dalam acara haul almaghfurlah KH Muhammad Munawwir ke-81 di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Selasa malam Rabu (04/02/2020)

Almunawwir.com – “Subtansi haul adalah dzikrul maut sedangkan subtansi shalat adalah dzikrullah”. Kalimat tersebut terucap dari KH Agoes Ali Masyhuri atau yang akrab disapa Gus Ali saat membuka tausiah dalam acara haul almaghfurlah KH Muhammad Moenawwir, di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Selasa (04/02/2020).

“Apabila ada muballigh atau kiai ketika diundang menghadiri acara haul, kok keterangan yang disampaikan macam-macam tidak menerangkan tentang mati, tanpa mengurangi rasa hormat muballigh haul itu kurang cerdas” imbuh beliau.

Kiai asal Tulangan Sidoarjo itu kemudian menjelaskan bahwa umur manusia bukan miliknya, tetapi umur manusia yang sebenarnya adalah umur yang digunakan untuk hidup bersama Allah. Banyak orang yang memiliki umur panjang tetapi sedikit manfaatnya, namun banyak orang yang memiliki umur singkat tetapi banyak manfaatnya.

Gus Ali mengatakan bahwa makna umur panjang bukanlah seberapa lama ia hidup di dunia, melainkan seberapa banyak prestasi dan amal saleh yang dikerjakan, “sebagaimana almaghfurlah KH Muhammad Moenawwir yang mampu meninggalkan nama baik, prestasi dan prasasti, dimana muridnya yang tersebar mampu mengembangkan Al-Qur’an di Republik tercinta ini” tutur beliau.

Sebagaimana yang diketahui, almaghfurlah KH Muhammad Moenawwir memang sosok Guru Besar Al-Qur’an dan juga penggagas pesantren Al-Qur’an pertama di Indonesia. Jika ditelusuri, hampir semua mata rantai sanad Al-Qur’an di Indonesia akan tersambung kepada Kiai Moenawwir. Beliau banyak melahirkan murid yang juga menjdi ulama penghafal Al-Qur’an di Indonesia, diantaranya yang masyhur adalah almaghfurlah KH Arwani Amin (Pendiri Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus).

Dalam acara haul ini, Gus ali menyampaikan kekagumannya kepada almaghfurlah KH Muhammad Moenawwir. Beliau mengatakan bahwa Kiai Moenawwir merupakan ulama’ besar di zamannya, yang bukan hanya sekedar hafal Al-Qur’an, tetapi mampu tampil menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan. Gus Ali juga kagum dengan Pondok Pesantren Al-Munawwir, meskipun di tengah keramaian kota Yogyakarta, Pondok Pesantren Al-Munawwir mampu berdiri dan masih eksis sampai saat ini.

Di akhir tausiahnya, Gus Ali berpesan jika umat Islam ingin menguasai dunia, maka kedudukan dan keberadaan pondok pesantren harus dipertahankan, diperkuat dan ditingkatkan agar mampu menjawab kebutuhan-kebutuhan dan tantangan zaman. Hal ini karena pondok pesantren merupakan pertahanan dan benteng terakhir Islam di dunia ini.

Selanjutnya, Gus Ali mengajak semua yang hadir untuk belajar ikhlas dalam segala hal, karena ikhlas meruapakan salah satu ruh Pesantren. “Ikhlas bagaikan mata air jernih yang menyuburkan, orang yang berhati ikhlas bagaikan tanah yang subur, sekecil apapun benih kebaikan akan mudah tumbuh dan berkembang” tutup beliau.

 

Pewarta: Alans Marzuq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *