Fatwa Rindu Gus Candra Malik  

durasi baca: 2 menit


“Sastra menjadi pilihan utama, karena  memudahkan kita untuk berkomunikasi. Termaktublah dalam salah satu referensi Agama Islam yang menganjurkan supaya berkomunikasi dengan bahasa kaumnya. Bahasa kaumnya dalam lingkup luas adalah bahasa Ibu”.


“Kalau kita mau menyadari bahwa menulis itu mudah. Akan tetapi yang terasa adalah susah, maka jadilah dirimu sendiri. Jari-jariku yang sudah menemaniku selama ini, yang aku yakini adalah bahwa apa yang sudah Allah beri dan buahnya adalah memberikan manfaat kepada liyan”.

“Jangan menunda pekerjaan untuk melakukan sesuatu. Setelah itu ketika sudah selesai dalam satu bidang pekerjaan, lalu  fokuslah di pekerjaan  yang lain. Jujur, yakni jujur dalam keadaan apapun. Satu hal yang membuat kita cepat dalam melakukan sesuatu adalah mencacat hal yang pernah terjadi dalam hidup kita”.

“Energi besar dari para guru dan kiyai, dengan tawadhu dan ta’dzim kepada para guru dan kiyai akan memberikan kemudahan dalam kehidupan kita, terutama dalam barokah dan Ridho Ilmunya. Biarkan karya kita seperti anak kandung kita sendiri, dan karya itu akan berjalan sesuai dengan takdirnya”.

“Semua orang mengaku potensi yang dimiliki, supaya memiliki kepercayaan dalam menjalankan tugasnya, di Indonesia ini yang tidak mengakui profesinya hanya koruptor. Pengakuan mengikat kita kepada intelektualitas, pengakuan mengikat kita pada suatu bidang profesi supaya percaya diri”.

“Jadilah dirimu sendiri ketika kamu melakukan atau tidak melakukan sesuatu”.

“Bagaimanapun juga kehidupan ini sangatlah damai dan menyenangkan, maka mari berlatih dalam keadaan yang sebenarnya dengan dinamika yang ada untuk mengenali diri sendiri”.

“Pernah dalam suatu forumnya, menyampaikan pertanyaan tentang Allah, pertanyaan pertama tentang Allah. Kenalkah Anda dengan Allah? Pertanyaan ke satu setengah, Seberapa jauh kita kenal Allah,? Sontak para hadirin mulai berfikir dengan pertanyaan ini. Sebenarnya Gus Candra tidak membuat kita bingung, akan tetapi mengajak kembali sejauh mana kita mengenal sang pencipta dan apa tujuan dari hidup kita”.

“Ekspresi seni untuk menyampaikan hal yang indah adalah ketika memberikan manfaat dan kebahagiaan kepada semua orang”.

“Cinta akan membawa kita kepada apa yang kita cintai”.

“Cinta itu melupakan, yaitu melupakan masa lalunya, persis seperti seorang sufi dalam munajatnya memohon ampun kepada Allah SWT. Dan Ketika menikah, mesti yang seharusnya dilakukan adalah melupakan masa lalunya, bukan mengungkit-ungkit masa lalunya, kalau belum melupakan dan masih saja mengingat masa lalu, berati belum cinta”.

“Hidup itu tentang perjalanan rasa, bukan perjalanan logika, contoh rasa legah, rasa kantuk, rasa cemburu dan lain sebagainya, Kalaupun dalam kehidupan sehari-hari kita mempunyai rasa, sehingga terbitlah buku Layla, bukan Raisa yang selalu ini disebut-sebut dalam guyonan di grup WhatsApp NU Garis Mesra itu”.

“Cinta itu seharusnya bahagia, tapi kenapa  rindu malah menjadi derita?” [Irfan Asyhari]

Ditulis  pada acara Lesehan Mesra Pesantren, Yang diselenggarakan Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak. Ahad, 7 Mei 2017

Sumber Foto : Ig @candramalik

baca juga :

Santri dan Dunia Literasi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *