Dubes Arab Saudi : Mbah Ali Kiai Rasionalis

3 years ago
durasi baca: 3 menit

“KH Ali Maksum adalah Kiai paling rasionalis di zamannya”, tukas Agus Maftuh Abegebriel. Selain itu, “Al Maghfurlah Simbah KH Ali Maksum adalah seorang  al alim, al faqih, al mufassir, faridu ashrihi wawahidu fi zamanihi. Satu-satunya intelektual hebat di zamannya.

Sebab beliau satu-satunya Ulama’ NU yang tidak terjebak pada kitab-kitab muktabarah belaka. Beliau mempelajari pula kitab-kitab non-muktabarah. Hal ini dinilai sebagai sebuah terobosan hebat bagi seorang Kiai yang hari ini kita Hauli” lanjut Alumni Pesantren Krapyak yang sekarang menjabat sebagai Dubes Indonesia untuk Arab Saudi tersebut.

Perkataan itu disampaikan sedemikian semangatnya, ketika beliau diberi kesempatan untuk mengisi sambutan sekaligus mauidhoh hasanah dalam acara Haul Ke – 28 KH Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta. Pada hari Ahad, 05 Februari 2017.

Selain beliau, acara Haul ini juga dihadiri oleh para Kiai dan Ulama’ masyhur Nahdlatul Ulama’. Misal KH. Najib Abdul Qodir Munawwir, KH. Azhari Abta, KH. Malik Madany, KH. Masyhuri Malik, KH. Abdul Ghofur Maimun, KH. Ulil Absor Abdalla dan lain-lain.

Sambutan atas nama keluarga diwakilkan kepada KH. Attabik Ali dan KH. Abdul Ghafur Maimun dari Sarang. Lain dengan Agus Maftuh, dalam sambutannya, KH. Abdul Ghofur Maimun atau Gus Ghofur sapaan akrabnya menyebut “KH. Ali Maksum sebagai al insan al kamil (manusia sempurna) yang bisa membawa gerbong dari kecenderungan murid-murid yang berbeda akan tetapi bisa disatukan dalam satu gerbong. Itu merupakan salah satu ciri dari al insan al kamil. Dimana santri-santri beliau yang berbeda latar belakang, seperti Gus Dur, Mbah Zainal Abidin Munawwir, dan KH Malik Madany, oleh Mbah Ali Maksum bisa disatukan menjadi satu gerbong.

Kalau di Indonesia sekarang ini ada al insan al kamil seperti Mbah Ali ini, mungkin Indonesia, NU dan PBNU tidak seperti sekarang ini. Tokoh sekaliber Mbah Ali Maksum ini, meneladani sikap mengayomi berbagai karakter manusia”. Jelas Rektor STAI Al Anwar, Sarang tersebut.

Sebelum acara Pengajian Akbar itu, telah terlaksana acara Simaan Al Qur’an, Halaqah atau Temu Alumni, dan tentu Ziarah ke Maqbarah KH Ali Maksum di daerah Dongkelan secara berjamaah, yang terhitung sejak hari Sabtu (3/2/17).

Sebagai acara puncak dari serangkaian acara Haul Al Maghfurlah Simbah KH Ali Maksum itu, Pengajian Akbar ini dimulai ba’da isya’ dengan pembacaan sholawat ad-diba’i. Dalam Haul Nampak begitu semarak sebab dihadiri lebih dari 4000 hadirin dan hadirat, yang mayoritas dari kalangan Pesantren di Yogyakarta sendiri.

Selain itu, keramaian tersebut juga dibumbui oleh beberapa pelapak dadakan yang sedari sore mulai membuka lapak sederhananya di kanan- kiri jalan di sepanjang area Pesantren Krapyak.

Di akhir sambutannya, Agus Maftuh menegaskan, jika “Mbah Ali yang meninggal 28 tahun yang lalu ini sebenarnya tidak pernah mati. Tidak pernah meninggalkan. Karena beliau adalah seorang alim.

Akhul ilmi hayyun kholidun ba’da mautihi. Wa ausholuhu tahta at turobbi rominu (orang yang mempunyai ilmu yang dahsyat—seperti KH Ali Maksum ini—akan selalu hidup setelah wafatnya.

Meskipun tulang-belulangnya sudah remuk ditelan bumi—ini orang alim). Sebaliknya, wa dzul jahli mayyitun wahuwa masyiyan ‘ala attara yudhonnu mina al ahya’i wahuwa ‘adzinun (dan orang yang tidak mau belajar seperti mayat meskipun dia bisa berjalan. Dia dianggap sebagai orang hidup itu tidak pernah ada).beliau melanjutkan sebagai kata penutup,Kebeseran Krapyak tidak bisa dipisahkan dari KH Ali Maksum,  penggemar music Jazz—ketika teman sejawatnya suka dengan qasidahan”. Lantas statement terakhir ini mengundang decak tawa para hadirin.[Afrizal Qosim/Irfan]


Sumber foto : Dokumentasi Krapyak TV


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *