Dua Murid KH M Munawwir, Beda Nasib Bertemu Nasab

by Februari 1, 2020
Esai Masyayikh Warta 0   898 views
durasi baca: 3 menit

Doc: Almunawwir.com

Oleh: Muhammad Rosyid Yusuf*

ذكر الصالحين تتنزل البركات

Menyebut (menceritakan) orang-orang sholih dapat menurunkan (mendapatkan) barokah.

KH M Munawwir adalah guru besar Alquran nusantara, tidak diragukan lagi karena hampir di setiap sanad Al quran di Indonesia banyak guru-gurunya yang melewati beliau. KH M Munawwir mempunyai banyak murid yang tersebar di penjuru tanah air, dan ada dua santri yang sama-sama murid beliau yang kami tahu dan akhirnya bertemu nasab menjadi bagian dari keluarga beliau.

Pertama, Kiai Hasbulloh adalah murid KH M Munawwir berasal dari Jejeran-Bantul. Dikisahkan sewaktu Mbah Hasbulloh sowan kepada Kiai Munawwir setelah khatam mengaji sambil membawa se-tundun pisang untuk tasyakuran.

Lalu beliau matur, “niki kagem Yai, panjenengan ngersakke nopo maleh.” (ini untuk Pak Yai, kira-kira Pak Yai menghendaki apalagi)

Kiai Munawwir berkata, iku sing mbuk ajak sopo ng sampingmu? (itu yang kamu ajak disampingmu siapa ?)

Mbah Hasbulloh menjawab, niki putri kulo. (ini putri saya)

Kemudian Kiai Munawwir menyahut, yo wis aku pengen anakmu wae. (yaudah, aku pengen putrimu saja)

Begitu ta’dzimnya seorang murid kepada guru, tanpa berpikir panjang akhirnya dinikahkanlah sang puteri dengan sang guru, walaupun selisih umur yang sangat jauh, sehingga jadilah beliau sebagai murid sekaligus mertua.

Sang putri yang dimaksud adalah Ny. Khodijah yakni istri kelima sekaligus terakhir Kiai Munawwir, dari beliaulah melahirkan Ny. Walidah Munawwir (istri KH Nawawi Abd Aziz, PP An Nur, Ngrukem-Bantul), KH Ahmad Munawwir (Komplek L-Krapyak), Ny. Zuhriyyah Munawwir (istri KH Mubassyir Mundzir, PP Maunah Sari-Kediri) @maunahsari.

Dokumentasi (@Rosyid.Yusuf)

________________

Baca Juga: Belajar Tata Cara Pergaulan dari KH M Munawwir

Murid Kiai Munawwir kedua yang akhirnya menjadi bagian dari keluarga beliau adalah Mbah Ma’shum bin Siroj. Beliau berasal dari Gedongan Cirebon. Hubungan beliau dengan Kiai Munawwir sudah sangat dekat dimulai dari kakek, yakni Kiai Sa’id. Kiai Sa’id merupakan muassis awal Pesantren Gedongan, beliau menjadi penghubung antara Kiai Munawwir dengan seseorang yang mewaqafkan tanah untuk berdirinya pesantren dan akhirnya pindah di Krapyak yang sebelumnya berada di Kauman Yogyakarta.

Mbah Ma’shum adalah putra pertama dari delapan bersaudara, beliau tercatat sebagai pengasuh Pesantren Gedongan periode ke empat menggantikan ayahnya, Kiai Siroj bin Sa’id, diantara adiknya adalah Kiai Aqil (PP KHAS Kempek-Cirebon, ayah dari KH Said Aqil Siroj).

Mbah Ma’shum terkenal pandai mengarang syair dengan bahasa Arab, sehingga mempunyai karangan kitab Nailurroja Madzhumah Safinatinnaja. Kitab ini telah disyarahi oleh KH Sahal Mahfudzh Kajen-Pati dengan judul kitab Faidl Al-Hija.

Suatu hari Mbah Ma’shum berkesempatan mengunjungi Pesantren Krapyak bersama dengan keluarganya, termasuk dalam rombongan tersebut adalah putrinya yang berusia 18 tahun. Di sana beliau dan rombongan diterima oleh Kiai Ali Maksum, menantu yang ikut mengasuh Pesantren Krapyak setelah Kiai Munawwir wafat pada tahun 1942.

Dari pertemuan tersebut terkejutlah sang putri mendengar dhawuh dari ayahnya, ia mengira datang ke Krapyak untuk mondok, melihat usianya yang terbilang muda dan sebelumnya masih menjadi santri di Pesantren Arjowinangun-Cirebon, ternyata ia akan dinikahkan dengan putra Kiai Munawwir.

Sang putri tersebut bernama Ny. Shofiyyah (18-an tahun) dan menikah dengan KH Ahmad Munawwir (40an tahun), muassis komplek L (salah satu asrama di PP Al-Munawwir). Dari pernikahan tersebut, maka Mbah Ma’shum adalah murid juga menjadi besannya Kiai Munawwir.

Doc: @rosyid.yusuf

 

*Ustaz Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek L 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *