Citra Diri NU

by Januari 4, 2020
Esai 0   369 views
durasi baca: 4 menit

Oleh: KH Ali Maksum

Sampai hari ini, NU telah berumur genap 60 tahun (1983, menurut hitungan taqwim hijriah, ed.). waktu 60 tahun adalah perjalanan yang cukup lama, lebih tua dibanding dengan usia negara kita sendiri. Dalam usia yang cukup dewasa inilah, paling tidak NU dapat memetik berbagai hikmah.

  1. NU telah banyak belajar dari sejarah hidupnya

Mempelajari sejarah kehidupan diri sendiri adalah amat penting artinya, terutama guna meningkatkan kualitas kehidupan di hari esok. Dengan kita mempelajari pasang surut pamor kehidupan NU dari dulu hingga kini, dan berbagai sebab serta hal-hal yang melatar belakanginya, maka kita akan dapat menarik beberapa kesimpulan yang kemudian menjadi rumusan kehidupan di masa yang akan datang. Karena pengalaman adalah guru yang paling utama.

Arti sejarah memang penting dan amat penting dalam bidang kesejarahannya sendiri-sendiri. Sehingga seorang mufasir besar, Ibnu Daqieqil Ied menyatakan:

المفسر يحتاج الى التاريخ اشد من احتياجه الى النحو والصرف

“mufasir Alquran memerlukan kepandaian di bidang sejarah yang lebih besar frekuensinya daripada keperluannya di bidang ilmu nahwu dan sharaf”

Demikian pula sebagai mufasir situasi mesti banyak tahu tentang sejarah situasi NU ini.

  1. NU telah cukup dewasa, lebih arif dan bijak

Kearifan timbul dari kelembutan pemikiran dalam mencerna dan menghayati pengetahuan serta pengalaman, sedang kebijakan itu muncul dari keluhuran budi dalam menentukan sikap yang dilandasi kearifan tersebut.

Karena pentingnya sifat bijak tersebut, Alquran menokohkan Luqman Al Hakim beserta nasehat-nasehatnya yang harus kita patuhi. Padahal Lukman bukan Rasulullah saw, tetapi beliau adalah “bijaksanawan” atau “al-Hakim”. Kalau Allah memerintahkan kita agar mentaati rasul adalah karena wahyu yang beliau bawa. Tetapi kalau kita harus meneladani Luqman adalah karena kebijaksanaannya yang beliau miliki.

  1. NU sadar benar akan pentingnya regenerasi

Kami maksudkan di sini adalah regenerasi dalam arti fisik maupun dalam arti aspiratif. Secara fisik kita harus mampu menampilkan tenaga baru dan tenaga usia muda. Sedang regenerasi secara aspiratif, kita harus mampu menuangkan nilai-nilai luhur NU secara utuh kepada angkatan muda, dan mampu pula membuat rumusan-rumusan yang lebih segar tetapi tetap murni terhadap nilai-nilai citra 1926

Untuk itu semua, adanya komunikasi timbal balik yang sehat dan objektif antar generasi tua dan generasi penerus kita. Dengan begitu, maka kelestarian dan kesinambungan nilai luhur Khittah 1926 akan berjalan terus secara utuh, murni, seimbang dan dinamis. Untuk inilah Nabi saw bersabda:

ليس منِّا من لم يرحم صغيرنا ولم يوقر كبيرنا

“tidaklah masuk golongan kami, yaitu orang tua yang tidak menyayangi yang muda dan orang muda yang tidak menghargai yang tua”.

Tiga hal di atas, ternyata telah bersenyawa dan menjiwai keputusan Munas di Asembagus yang baru lalu. Tentang segi kesejarahan ternyata keputusan Munas itu telah sekuat tenaga melangsir nilai-nilai Khittah 1926 guna konsumsi era pembangunan tinggal landas ini.

Dari segi kebijakan, Munas tampak sekali berbuat merumuskan nilai Pancasila dengan arif, manis dan murni. Sehingga wajarlah jika kemudian hasil Munas tersebut benar-benar menjadi siraman yang menyejukkan bagi setiap organisasi Islam di Indonesia. Sebelum Munas, seluruh ormas Ilsam tidak dapat tidur, tetapi adanya Munas maka mereka dapat tenang.

Untuk ini saya selaku Rois Aam mengucapkan terima kasih atas sambutan positif dari tokoh-tokoh Islam dan khususnya pemerintah, lebih khusus lagi Bapak Presiden.

Di dalam GBHN sekarang, kita melihat adanya rencana pembangunan spiritual menuju ketakwaan kepada Allah swt mesti saja takwa di sini adalah:

امتثال الأوامر واجتناب النواهي

Dengan demikian pengalaman Pancasila bagi umat Islam adalah mengamalkan Syari’at Islam. Mereka yang telah melaksanakan ajaran Islam adalah kaum Pancasilais; dan sebaliknya mereka yang mengaku Muslim, tetapi tidak mau menjalankan ajaran Islam adalah tidak Pancasilais.

Sungguh Munas NU di Asembagus agaknya merupakan salah satu Munas yang berbobot, keberanian dan kewaspadaannya bersumber dari kedewasaan dan kebesaran jiwa. Karena itu keputusan-keputusannya perlu pengkajian secara khusus dan utuh.

Kita bisa melihat Deklarasi Pancasila sebagai hasil Munas. Kita bisa pula melihat berbagai rekomendasi Munas yang menyangkut masalah-masalah kemasyarakatan, semacam perawatan yatim piatu, transmigrasi, biaya haji dan sebagainya.

Dan dari segi regenerasi, Munas tampak memberikan petunjuk agar hal itu dilaksanakan secara jantan, tertib dan selektif.

Dalam rangka inilah sehingga peranan syuriah menjadi sangat menentukan, mesti saja peranan Syuriah di sini dalam fungsinya sebagai selektor dan evaluator. Berfungsi sebagai selektor, karena Syuriah harus menyeleksi setiap kader yang akan memegang suatu kepengurusan Jam’iyah. Dan berfungsi sebagai evaluator, karena Syuriah harus mengevaluasi atau menilai pengabdian dan prestasi yang telah dimiliki oleh kader tersebut. Meskipun begitu, Syuriah tidak berarti semacam penguasa diktator yang suka menveto dan berbuat semaunya sendiri.

Demikian sekelumit tentang makna hasil Munas dalam kiprah kehidupan NU di hari depan. Oleh karena itu, kami yakin bahwa keputusan Muna yang sekarang masih berwujud rekomendasi tidak untuk menghadapi kesulitan pada Muktamar mendatang.

Dalam kaitan inilah kami menghimbau kepada seluruh jajaran Jam’iyah NU agar dapat mempelajari hasil Munas sebaik-baiknya, sehingga hasil-hasil itu bisa kita masyarakatkan.

Dalam rangka ini kita harus jeli dan waspada, khususnya dalam memberikan penjelasan tentang hal-hal yang saat ini dinilai rawan, yaitu Pancasila.

Menurut Munas, yang dikehendaki dengan Pancasila adalah seperti termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yaitu Pancasila yang semurni-murninya. Apabila marji’ (rujukan) kita dalam memahami Pancasila itu benar-benar murni seperti dalam pembukaan UUD tersebut, maka segala sesuatunya akan menjadi beres dan tidak merepotkan.

Menurut yang ada di sana, Pancasila adalah falsafah bangsa, bukan agama, tidak menduduki fungsi agama, dan bukan Ya’lu Wala Yu’la Alaihi. Karena ia merupakan falsafah hidup bangsa, maka peranannya sejauh mana suatu cara kehidupan seseorang itu dapat mewarnai. Jadi di situlah penilaian kepribadian orang yang mengaku Pancasilais. Tidaklah benar, apabila Pancasila itu sekedar menjadi bahan ocehan, tetapi tidak dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

 

*materi ini ditulis ulang dari buku Ajakan Suci karya KH  Ali Maksum

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *