[Cerpen] Muasal Tanya yang Tiada Akhir

by Maret 11, 2020
Sastra 0   114 views
durasi baca: 4 menit

Sumber Foto: Metroworld

Oleh: Lu’lu’il Maknun*

“…Perenungan dan segala tanya yang membersamai kehidupanku, menjadikanku semakin hidup atau kadang mati seketika…”

Riuh gesekan sandal santri dan tanah di halaman depan kamar membangunkanku dari mimpi buruk pagi itu. Tidur habis subuh menjadi kebiasaan yang sulit sekali kuhindari setahun belakangan ini, semenjak ngaji bandongan pagi Kiai Baha diganti bada magrib  dan jam pagi diganti dengan murojaah bersama Nadhom Alfiyah.

Bukan apa, aku sudah bosan mengulang-ulang Alfiyah selama enam tahun di pesantrenku yang dulu, sebelum ini.

“Mendapati takziran, ah sudah biasa”, batinku.

Aku lebih memilih di kamar menikmati pagiku bersama Hikam-nya Ibnu Athaillah atau sekadar mendengarkan alunan lagu-lagu Nasida Ria yang pernah tenar pada masanya- seperti Kota Santri, Perdamaian, Tahun 2000, Wajah Ayu Untuk Siapa, dan masih banyak lainnya- Mungkin saat itu aku masih duduk di Sekolah Dasar, tahun 90’an.

Bermacam perenungan hidup hampir setiap hari menjelma di depan mataku, seperti menghantui namun aku sendiri tidak tahu atas dasar apa mereka seringkali datang tanpa kuundang. Pernah perenunganku datang ketika aku mendengarkan lirik lagu Nasida Ria pada awal tahun sewindu era 2000. Aku mengamati lirik demi lirik yang diciptakan oleh Kiai Buchori Masruri, mantan ketua PWNU Jawa Tengah tersebut sambil menyanyikannya pelan.

Lirik lagu tahun 80-90’an yang masih sangat relevan sampai sekarang.

“…banyak yang cinta damai, tapi perang makin ramai…”

“Da, kamu itu ngapain to, kok dengerinnya lagu jadul. Lagunya Ibu-Ibu pula”, salah satu teman menghampiri saat aku tengah menikmati lirik-liriknya yang begitu dalam makna.

“Apa yang salah?”

“Avenged Sevenfold lebih menarik lho ini”

Mereka menganggap kalau lagu-lagu Nasida Ria itu jadul, lagunya Ibu-Ibu, ndeso, dan tidak kekinian. Saat itu memang sedang ramai lagu Avenged Sevenfold, apalagi lagunya yang Dear God. Anehnya, aku sama sekali tidak tertarik. Aku sendiri saja menyadari bahwa aku aneh apalagi santri-santri yang lain, wa bilkhusus mereka yang selalu tidak ingin dicap sebagai santri yang ketinggalan zaman.

­­­­­___

“Iblis kuwi pinter tapi tidak manut, Malaikat kuwi manut tapi tidak pinter, lah Menungsa kuwi wis ora pinter tur ora manutan”, tutur Kiai Baha di sela penjelasan pengajian kitab Sulamuttaufiq bab taubat malam itu.

Seketika aku berpikir- bagaimana caranya agar aku menjadi manusia yang setengah Iblis dan setengah Malaikat?

Lama-lama aku seperti orang gila memikirkan yang seperti ini. Aku merasa aku adalah manusia seutuhnya yang memang tidak pinter, apalagi manutan.

“lha wong dhawuh kiai saja aku sering ngeyel.”

“Wizda”, sontak aku terkaget mendengar bentak Kang Zainal sambil menepuk pundakku dari samping.

“Kok kerjaanmu ngalamun wae”, lanjutnya.

“Aku yo ndak tau, Kang. Kok mesti ada saja yang mengganggu kepalaku”

“Jangan banyak mikir yang ndak penting, bisa gila kamu”

Kang Zainal paham betul dengan aku yang  seperti ini. Dia juga satu-satunya senior pondok yang dekat denganku dan selalu siap sedia kalau aku ajak rutinan ke maqbaroh Mbah Yai tiap malam Jumat. Keunikan Kang Zainal, dia hapal betul manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani, sampai-sampai buku manaqib yang sebesar pas di kantong itu selalu dibawanya kemanapun, katanya itu dijadikan jimat yang bisa melindunginya dari marabahaya. Ada-ada saja dia ini.

“Mbah, kulo diakui santrine njenengan mboten? Lha wong kulo ngaos mawon kesed”

“Aku mbiyen, seneng banget ngaji Hikam. Kok tak delok-delok santriku sing paling semangat ngaji Hikam mung kowe le, tutukno yo”

“Terus pripun Mbah Yai?”

Mbah Yai belum menjawab apa-apa, kemudian pergi begitu saja. Aku terbangun dari mimpi di maqbaroh tengah malam itu. Kang Zainal rupanya juga tertidur. Hatiku semakin gusar sebab dalam mimpi, Mbah Yai tidak menjawab pertanyaanku. Apa aku diakui Mbah Yai sebagai santrinya dengan adanya diriku yang seperti ini? Lalu aku ngaji Hikam ke siapa? Aku butuh guru, Mbah.

Dan sampai saat ini aku belum berani meminta Kiai Baha untuk membimbingku ngaji Hikam.

___

Membandingkan teori evolusi Charles Darwin dan teori evolusi ala Jalaludin Rumi adalah wacana yang membuatku tertarik akhir-akhir ini. Perbedaan pandangan tentang hidup sebagai sebuah proses transmutasi alam. Darwin mengatakan evolusi berasal dari seleksi alam, sedang Rumi mengatakan bahwa tidak mungkin ada evolusi tanpa ada subjek dan objek cinta sebagai alat penggeraknya.

“Ah, untuk apa aku mikir seperti ini sih”, eluhku saat menyadari sepertinya sia-sia kalau hidupku hanya untuk memikirkan perbedaan pandangan teori evolusi bumi.

Berbagai macam perenungan sederhana hingga segala macam tanya yang membuatku sering merasakan sakit kepala akibat memikirkan hal yang seharusnya memang tidak perlu untuk dipikirkan sewajarnya manusia.

“Da, Ayo ikut aku ke kota”, ajak Kang Zainal setelah piket roan hari Jumat.

“Mau ngapain?”

“Sudah ikut aku saja”

Sampai di kota, Kang Zainal ternyata mengajak ke sebuah tempat rehabilitasi. Aku tidak tahu apa maksudnya. Jangan-jangan aku mau dimasukkan ke sini, pikirku.

“Kamu kok ketakutan?”, tanya Kang Zainal sambil menatap kepanikanku.

“Kita mau nyambangi Kang Dul, dia dulu mondok di pesantren sama seperti kita. Setahun sebelum kamu datang, Kiai Baha menitipkannya ke sini. Berawal dari sama seperti kamu ini, sering ngelamun ndak jelas, sering mikir perkara aneh-aneh, sampai akhirnya pihak pesantren sudah kuwalahan dengan psikis Kang Dul. Sekarang dia sudah lumayan sehat, Da”, terangnya seperti memahami apa yang ada dalam pikirku.

Aku meng-iyakan perkataan Kang Zainal, sambil menunggu Kang Dul yang baru dipanggilkan petugas. Mataku berkeliling melihat pasien-pasien berlalu lalang dari kejauhan.

“Kang”

“Piye, Da?”

“Kok aku pengen jadi orang gila saja. Orang gila kan sudah tentu ma’shum, pasti nanti aku masuk surga to. Daripada normal kebanyakan dosa”

“Wis mbuh karepmu, Da”

“Hehehe”

 

*Santri Komplek Hindun Pondok Pesantren Krapyak

 

Tinggalkan Balasan