Ngaji Ulumul Qur’an (9): Perbedaan Pendapat Ulama Mengenai Titik Di Mushaf

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Tidak sedikit perkara yang kita anggap sebagai hal yang wajar, umum, lumrah, biasa, sejak awal seperti itu. Contoh dalam konteks Alquran, bacaan riwayat Hafsh. Pada masa kini, hampir 85% dari masyarakat Muslim dunia membaca dengan riwayat itu, padahal dahulu di Mesir, Hijaz, Syam, Irak dan yang lain bacaan Hafsh tidak menjadi bacaan mayoritas. Bahkan Tafsir Jalalain yang dibaca di pesantren tidak ditulis berdasarkan riwayat Hafsh. Begitu juga soal titik di tulisan mushaf Alquran. Mungkin sebaliknya, jika sekarang ada penerbit yang mencetak Alquran tanpa titik, ada yang komentar: (wah, ini penerbit yang mau menyesatkan Baca Selanjutnya . . .

Almunawwir Lestarikan Tradisi Khataman Salat Tarawih 30 Juz Alquran

Krapyak – Khataman tarawih 30 juz Alquran usai dilaksanakan pada Jumat (24/05) di Masjid Jami’ Almunawwir Krapyak. Kegiatan tahunan ini dilaksanakan setiap tanggal 20 Ramadan. Para masyayikh, santri, dan jamaah lainnya ramai memenuhi area masjid hingga membludak ke aula AB yang terletak di sebelah utara masjid. Pembacaan Alquran dimulai sejak tarawih 1 Ramadhan dengan bacaan sebanyak 1,5 juz setiap malam. Selaku Imam Salat Tarawih ialah beliau Romo KH R M Najib Abdul Qodir Munawwir. Tradisi ini telah dilakukan turun temurun di keluarga Pondok Pesantren Krapyak. Syaikhina KH Munawwir bin Abdillah Rosyad berpesan bahwa para hafidz Qur’an yang diakui adalah mereka Baca Selanjutnya . . .

Santri Almunawwir Bukber Bareng BTN

Krapyak – Ratusan santri berkumpul di Aula G Almunawwir untuk menghadiri undangan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh salah satu perusahaan di bawah naungan BUMN yaitu BTN, Rabu (22/05). Selain para santri, BTN juga mengundang seluruh Dewan Pengasuh, Asaatid dan pengurus Pondok Pesantren Almunawwir. Para petinggi dan jajaran karyawan di lingkup BTN pun ikut meramaikan kegiatan tersebut. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh santri bernama Khoirul Munada, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari kedua pihak; Almunawwir dan BTN. Dalam sambutannya, KH Ashidqi Masyhuri memberikan ucapan terima kasih telah memberikan bantuan dan kesempatan yang luar biasa bagi santri kami dan pesantren Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (8): Mengenal titik pada penulisan mushaf Alquran

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Mushaf Alquran ditulis tanpa titik dan harakat, bahkan nama surat, nomor ayat, tanda waqaf/berhenti dan lainnya juga tidak ada. Kaidah-kaidah penulisan titik dan harakat dipelajari dalam ilmu Dhabth, yaitu sebuah ilmu yang membahas tentang tanda-tanda yang ditambahkan pada huruf-huruf muhsaf, juga maknanya yang dimaksud, serta cara penulisannya. Ada dua macam titik, nuqath al-I’rab dan nuqath al-I’jam. Yang pertama sebagai tanda harakat (fathah, kasrah, dhammah), dan yang kedua untuk membedakan huruf yang bentuk tulisannya mirip (ba’, ta’, tsa’). Abu al-Aswad al-Du’ali (w. 69 H) disebut sebagai pencetus penambahan titik I’rab. Suatu ketika, Abu al-Aswad Baca Selanjutnya . . .

Ibadah Musiman di Bulan Ramadan

Oleh: Ahmad Segaf* Bulan Ramadan sedang kita lalui. Sejak awal kita bersegera menata diri untuk menyambut bulan yang suci ini. Mulai dari membersihkan lingkungan rumah atau pondok, merencanakan makan puasa dan sahur, dan yang paling terpenting adalah merencanakan ibadah-ibadah sunnah yang akan dilakukan rutin selama bulan Ramadan. Puasa Ramadan tentulah ibadah wajib, kita pasti melakukannya dan takut akan dosa jika meninggalkannya. Berbeda dengan ibadah sunnah, tak akan ada dosa yang diberikan jika kita tidak melakukannya. Namun, di bulan Ramadan ini, kita akan selalu berusaha untuk melaksanakan ibadah sunnah karena Allah SWT sedang mengobral pahala. Sehingga, Ibadah sunnah seperti sholat tarawih, Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (7): Rasam kosakata Alquran dan Makna

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Dalam pertemuan ketiga dijelaskan bahwa ulama berbeda cara dalam menjelaskan perbedaan penulisan kosakata dalam Alquran, mayoritas ulama cenderung memberi argumentasi bahasa, ada juga yang mencoba mencari hikmah yang berhubungan dengan makna dibalik fenomena ini. Dari kelompok kedua akan saya jelaskan tentang dua tokoh yang memiliki beberapa interpretasi unik tentang keistimewaan rasam Alquran, Muhammad Syamlul dan ‘Adnan al-Rifa’i. Bagi Muhammad Syamlul, sisi tulisan dan bacaan Alquran merupakan mukjizat. Setiap perbedaan dalam penulisan kosakata Alquran mengharuskan kita untuk berhenti sejenak untuk merenungi hikmah di baliknya. Banyak contoh untuk ijtihad Symalul dalam hal ini, di antaranya Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (6): Rasam Alquran dan Qira’at

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Hubungan Rasam Alquran dengan Qira’at dapat dilihat dari dua hal, Pertama, bahwa rasam mushaf utsmani menjadi salah satu syarat atau tolak ukur diterimanya suatu qira’ah. Dua syarat lainnya adalah memiliki sanad yang shahih, dan sesuai dengan kaidah-kaidah dalam bahasa Arab. Kedua, terkait pada praktik bacaan, termasuk persoalan cara waqaf/berhenti pada suatu kata. Ulama qira’at menjelaskan bahwa qira’at yang diterima harus sesuai dengan salah satu rasam mushaf utsmani. Hal ini dikarenakan mushaf-mushaf yang ditulis di masa Utsman memiliki perbedaan. Di antara contohnya adalah Qs. al-Baqarah: 116 di mushaf Syam ditulis tanpa huruf Wawu (قالوا Baca Selanjutnya . . .

Membaca Perspektif Imam Ghozali di Era Disruptif

Oleh: Irfan Asyhari Barangkali ini adalah zaman ketika makin banyak orang lebih suka berbicara keburukan orang lain ketimbang menghisab keburukan diri sendiri, lebih suka mendengar untuk membantah demi memuaskan hasratnya untuk dianggap benar dan paham agama dan paling berhak masuk surga. Internet, dan terutama melalui blog atau media sosial, mempercepat tumbuhnya tunas-tunas perpecahan ini. Internet menghadirkan “kecepatan” penyebaran yang mengagumkan. Ini bukan hal buruk jika dikelola dengan baik; namun, entah sadar atau tidak, kecepatan diam-diam menjadi semacam obsesi. Memperbincangkan orang lain alias gibah ikut mengalami revolusi seiring dengan berkembangnya dunia digital saat ini. Di Indonesia, media sosial sudah menjadi kebutuhan Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (5): Penambahan Huruf Dalam Penulisan Kosakata Alquran

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Pembahasan tentang membuang huruf dari penulisan kosakata tertentu dalam Alquran tidak kami bahas secara keseluruhan di sini. Ada lima macam Hadzf al-Haraf, yaitu: membuang huruf Alif, Wawu, Ya’, Lam, dan Nun. Jika diteliti dalam bacaan Alquran, kita temukan bahwa tidak semua huruf yang tertulis dibaca. Ini karena ada beberapa huruf yang ditambahkan dalam penulisan (ziyadah al-huruf). Sebagian kasus dipelajari dalam jilid bacaan Gharib metode Qira’ati. Sedangkan Mushaf al-Quddus cetakan Kudus memberi beberapa keterangan/catatan di bagian bawah bahwa huruf ini dalam kata ini tidak dibaca. Huruf yang ditambahkan dalam hal ini adalah: Alif, Wawu, Baca Selanjutnya . . .

Kita Ganjil, Rasulullah Saw yang Menggenapi

Oleh: Isna Sholihaturrahmaniah Banyak sekali kitab yang membahas keutamaan bershalawat kepada Kanjeng Rasul Muhammad saw. Hal ini tidak lain karena Allah swt yang memerintahkan kepada seluruh umat beriman untuk menghadiahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah saw. (Q.S. Al-Ahzab ayat 56). Hadirnya Rasulullah saw merupakan bukti cinta Allah swt kepada makhluk-Nya. Rasulullah saw ada untuk dijadikan suri teladan bagi manusia jika ingin dicintai Allah swt. Rasul Muhammad saw lah manusia suci, kekasih Allah swt. Bershalawat kepada Nabi Muhammad saw bukan berarti beliau butuh doa dari umatnya. Justru shalawat lah yang menjadi perantara doa manusia dikabulkan Allah swt, seperti yang tercantum dalam Baca Selanjutnya . . .

Santri Milenial Melek Digital

Oleh: Irfan Asyhari* Pesantren dan pondok memiliki peran sangat penting dalam pembentukan tradisi dan ortodoksi Islam Asia Tenggara yang dikenal sebagai ‘Islam wasathiyah’. Pembicaraan tentang Islam wasathiyah juga menemukan momentum ketika berbagai paham transnasional yang cenderung literal dan ekstrim memasuki wilayah Muslim Asia Tenggara. Perkembangan dan perubahan dalam dunia pendidikan Indonesia umumnya, tak bisa tidak juga mempengaruhi pendidikan Islam, khususnya pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di kawasan ini. Tak kurang pentingnya, dinamika perkembangan Islam di tingkat global sedikit banyak juga mempengaruhi perkembangan pesantren. Mempertimbangkan berbagai perubahan, perlu penyesuaian perspektif, paradigma dan tipologi tentang pesantren. Di sini juga dapat Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (4): Membuang Huruf Wawu dan Ya’ dari Penulisan Kata Alquran

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Sebagaimana dijelaskan di tulisan sebelumnya, al-Dani terkadang menjelaskan tentang membuang suatu huruf dengan keterangan argumentasi tertentu, biasanya ta’lil/argumentasi nahwu, atau kadang hanya menyebut kosakata yang dibuang darinya huruf tertentu. Seperti huruf Ya’ yang dibuang karena dicukupkan dengan harakat kasrah (iktifa’ bil-kasrah). Contoh QS. Al-Baqarah: 40-41 (وإيى فارهبون) (وإيى فاتقون) yang jika YA’ tidak dibuang maka menjadi seperti ini (وإياي فارهبوني) (وإياي فاتقوني). Meski kata-kata tertentu tidak ditulis huruf YA’, akan tetapi pada beberapa qira’at akan ditetapkan (itsbat) huruf YA’, contoh pada Qs. Al-Baqarah: 186 (دعوة الداع إذا دعان) yang imam Warsy, Abu ‘Amr Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (3): Membuang Huruf Alif dari Penulisan Kosa Kata Alquran

Sumber Foto: cavilita.com

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Fenomena perbedaan tulisan mushaf Alquran dengan tulisan bahasa Arab bukan-Quran menjadi faktor utama lahirnya ilmu rasam. Karya paling awal yang sampai ke kita tentang fenomena perbedaan rasam mushaf-mushaf adalah bab ikhtilaf mashahif ahl al-amshar dalam kitab Fadha’il al-Qur’an karya al-Qasim bin Sallam (w. 224 H). Salah satu perbedaan rasam adalah soal pembuangan huruf Alif. Ulama mencoba memberi beberapa macam alasan/penjelasan (ta’lil) atas perbedaan ini: ta’lil lughawi/nahwi, dan ta’lil bathini (terdapat hikmah/rahasia di baliknya). Perlu diketahui bahwa perbedaan penulisan ada yang muttafaq fih (tulisannya seperti itu pada semua mushaf) ada yang mukhtalaf fih (terdapat Baca Selanjutnya . . .

Tradisi Posonan dan Momentum Ramadan

Oleh: Irfan Asyhari* Diantara khazanah pesantren yang selalu dilestarikan lagi adalah tradisi posonan, dimana pada bulan Ramadan menjadi ajang untuk berkompetisi dalam ‘ngalap berkah’ dan meraih Ridho-Nya. Dan Pesantren-lah tempat yang sangat strategis untuk menimba berbagai macam kajian agama. Posonan adalah istilah yang diambil dari bahasa Jawa “poso” yang berarti puasa. Posonan berarti mondok alias nyantri di suatu pesantren pada bulan puasa. Dalam bahasa Indonesia lebih sering disebut Pesantren Kilat/Pesantren Ramadan. Yang menarik, kitab-kitab yang dikaji selama posonan ini biasanya selalu khatam sebelum Ramadan usai. Hal ini telah menjadi rutinitas di berbagai pesantren di Indonesia. Memasuki Bulan Ramadan, para santri Baca Selanjutnya . . .

Hasil BMQ (10): Diundang untuk Baca Alquran, Tapi Pengin Cepat Khatam

Pertanyaan: Tradisi undangan ngaji (istilah konco-konco Alquran mendapatkan undangan membaca Alquran/semaan) di Tulungagung (mungkin daerah lainnya juga) mulai pagi sampai siang, biasanya setelah sholat dhuhur langsung pada bergegas pengen juz 30, padahal masih juz 15. Apakah harus nglempit/blandrek (istilah membaca tidak di mic) juz 16-29? Walaupun tidak ada sighot membaca 30 juz dari pengundang. Cara nglempitnya bermacam-macam, ada yang binnadhri pelan, binnadhri cepat, binnadhri cepat sekali (setengah jam mendapatkan 3 juz atau lebih), bahkan dibrekat (dibaca di rumah). Bagaimana cara menglempit/memblandrek yang dibenarkan Syara’? Jawaban: Karena tidak ada akad yang jelas, pembacaan Alquran bisa dilakukan dengan berbagai cara, asal sesuai Baca Selanjutnya . . .